
"Hei, maaf maaf! Kakak tidak akan mengulanginya" ucap Eylan dan Eylon bersamaan.
"Maaf sayang, ayah tidak bermaksud merundung mu" Sesal Duke.
Tapi Evelyna tidak merespon apapun,membuat mereka semakin panik. Evelyna mengacuhkan mereka bertiga, gadis cantik itu memilih menatap keluar kereta.
"Hei, Lyn. Kakak minta maaf okey?" Evelyna tidak menjawabnya.
Eylon menyikut Eylan dan ayahnya. Ia mengode mereka berdua. Bagaimana ini? kira kira begitulah arti tatapannya.
"Lyn, akan ayah kabulkan semua permintaan mu, tapi maafkan ayah oke?" Si kembar mengangguk, mereka juga akan melakukan hal yang sama.
Tidak ada respon apapun. Duke menggigit bibir bawahnya, seharusnya ia bisa menghadapi ini. Bagaimanapun Evelyna itu mirip dengan ibunya bahkan sampai sifat mereka sekalipun.
"Uhm... Kamu mau apa,hm?" Evelyna menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya.
"kau sih!" bisik Eylon.
"Apa? Kau yang mulai duluan!" balas Eylan berbisik.
Si kembar tetapi berbeda itu berbisik-bisik saling menyalahkan. Evelyna berdesis, ia terganggu dengan suara yang mirip desisan ular itu.
Duke memukul kepala putranya.
"Aw!"
"Akh ayah!"
Respon mereka. "Diamlah!" Melihat tatapan tajam ayahnya, membuat mereka ciut.
Duke memejamkan matanya,ia memangku satu kakinya ke atas kaki kirinya. Tampaknya ia sedang berpikir cara untuk putrinya memaafkannya.
begitupula dengan si kembar.
Waktu terus berlalu, mereka bertiga menggunakan segala cara untuk membujuk tuan putrinya.
Tapi Evelyna tidak menanggapinya sedikitpun. Sedangkan Evelyna sendiri, ternyata sedang melamun.
Pikirannya tertuju bagaimana cara mengungkapkan identitasnya? Apa yang akan terjadi kalau ia mengakui siapa dirinya sebenarnya?
Sungguh Liliana takut dengan konsekuensinya. Bisa dibilang kalau sebenarnya dia mengambil tubuh seseorang untuk bertahan hidup. Tapi ia juga tidak mau seperti ini, jadi sebenarnya ini salah siapa?
Evelyna termenung memikirkannya hingga secara tidak sadar mengabaikan kakak dan ayahnya.
"Lyn"
"Adikk"
"Evelyna"
Duke memegang bahu putrinya. Lamunan Evelyna buyar, "ya ayah?"
"Kita sudah sampai"
__ADS_1
"Eh?"
Evelyna melihat pintu kereta sudah terbuka. Samar samar ia mendengar suara orang lain. "ah, Maaf ayah Lyn melamun tadi" Duke mengangguk ia mengulurkan tangannya.
Evelyna turun dari kereta kuda, dibantu oleh ayahnya. Sebenarnya sudah ada satu ksatria yang memang ditugaskan untuk membantu para Lady bangsawan untuk turun, tapi sepertinya ayahnya itu tidak ingin ada menyentuh seujung kuku pun selain ia dan kakaknya.
Sepatu ber heels pendek itu menapaki tanah yang masuk ke area istana kekaisaran. Mulutnya mengeluarkan decakan kagum. Meskipun ia memiliki ingatan tentang istana termasuk bentuknya, tapi melihat secara langsung, ini adalah pertama kalinya baginya.
Duke tersenyum tipis, ia menggandeng tangan kanan putrinya, sedangkan si kembar mengambil sisi kiri Evelyna.
Mereka beriringan berjalan menuju aula istana, tempat dilaksanakannya upacara kedewasaan pangeran ketiga atau sering disebut debutante.
"DUKE VELION, TUAN MUDA VELION DAN NONA MUDA VELION MEMASUKI RUANGAN!!" Teriak seorang Ksatria berbadan kekar yang ada di samping pintu.
Perlahan pintu tinggi dan besar itu terbuka. Duke dan ketiga anaknya memasuki ruangan, diikuti oleh bangsawan yang tadi berdiri diluar aula.
Evelyna mengusap dadanya, dia terkejut dengan teriakan ksatria tadi. "Kau baik-baik saja?" Tanya Eylon.
Evelyna mengangguk, ia melemparkan senyum manis ke arah kakak pertamanya.
Saat Duke dan anaknya berjalan menghampiri keluarga kaisar, suara bisik bisik mengiringi mereka.
Lihatlah Tuan Duke sangat tampan!
Tuan muda pertama Velion juga tidak kalah tampan.
Apalagi Tuan muda kedua Velion, wajahnya sangat manis.
Sut! Jaga bicaramu, kepalamu bisa terlepas dari tempatnya kalau Duke mendengarnya.
Apa salahnya? Memang benarkan kalau ' Si bungsu Velion ' itu gadis gila.
Hahaha, kau benar. Dia bahkan tidak peduli dengan penolakan putra mahkota, gadis itu tetap menempel pada putra mahkota kalau saja ia tidak dipisahkan dengan putra mahkota secara paksa.
Tapi, bukankah ia nampak cantik sekarang?
Benar, mereka bahkan menggunakan baju yang mirip.
Warna itu cocok untuk mereka.
Begitulah, Evelyna merasa tangan kanan dan kirinya di remas. Ia menahan untuk tidak meringis.
Mata indahnya melirik ayah dan kakaknya. Wajah tampan ketiganya tampak keras, suara gigi yang bergemelatuk membuatnya sedikit merinding.
"Eh, maaf adik. Aku menyakiti tangan mu" Eylon mengusap punggung tangan Evelyna.
Duke tersadar, ia segera mengusap pergelangan tangan putrinya. Raut wajah keduanya berubah.
Sesekali Eylon meniup tangan Evelyna, berharap semoga tangan mungil itu segera sembuh.
Duke mengucup punggung tangan Evelyna berulang kali. Tatapan matanya menyendu.
"Tidak apa ayah, kakak" Duke menggeleng.
__ADS_1
"Setelah ini biarkan tabib mengoleskan salep ke tanganmu, supaya cepat sembuh" Eylon mengangguk setuju.
Mereka melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Eylan menggenggam pegangan pedangnya erat erat, ia meluapkan emosinya kesana.
"Cih, menjijikkan. Dia berusaha bersikap baik rupanya"
Cling
Tatapan tajam Eylan mengarah ke lantai bawah, ia mencari pemilik suara bisikan tadi.
Wanita bergaun putih, mengalihkan tatapannya saat tak sengaja bertabrakan dengan mata Eylan yang sedang menatapnya tajam.
Eylan menahan hasrat untuk menebas leher wanita itu. Kalau saja adik tersayangnya tidak berada disini, mungkin sudah terjadi pertumpahan darah di aula ini.
Amarah nya sedikit menguap saat merasakan usapan lembut di lengannya. Ia memutar kepalanya, rupanya itu adiknya.
Eylan menghela nafas kasar, ia menyusul kakak dan ayahnya bersama Evelyna yang menarik tangannya.
"Salam kepada matahari Astlanta, dan keluarga Kaisar" ucap ayah dan anak itu bebarengan.
Evelyna sedikit mendongakkan kepalanya, ia merasa ada yang menatapnya.
Rupanya sepasang netra dark grey sedang memperhatikannya. Putra mahkota menatap mantan tunangannya intens.
Evelyna dan keluarganya menegakkan tubuhnya setelah memberi salam. Para pangeran terpana melihat wajah Evelyna.
Apalagi putra mahkota yang sedikit tersentak dan terkejut. Dulu saat Evelyna masih menjadi tunangannya, menurutnya Evelyna tak secantik sekarang. Sepertinya mitos ' seseorang akan menjadi lebih menarik saat menjadi mantan ' itu benar.
Evelyna mengacuhkan tatapan orang orang kepadanya, tujuannya ada disini hanyalah untuk bersenang-senang.
"Oh, apakah ini putrimu, Duke?" Tanya selir kedua.
Duke mengangguk. Evelyna merasa kalau sebuah drama akan dimulai.
"Sangat cantik, tidak seperti dulu" Kompak ketiga pelindung Evelyna menatap tajam selir kedua.
"Ups maaf sepertinya aku salah bicara" Selir kedua menutup separuh wajahnya menggunakan kipas yang berbulu di pinggirnya.
Netra merah darah milik Selir kedua bertatapan dengan netra biru teduh milik Evelyna.
Evelyna menyunggingkan senyum lembut. Dahi selir kedua nampak berkerut, sepertinya wanita itu tidak suka dengan Evelyna.
Tidak perlu membuat orang menyukai mu, karena itu hanya akan membuat mu lelah batinnya.
"Terimakasih sudah datang Duke, semoga anda menyukai pestanya" ujar pangeran ketiga.
Duke Velion hanya mengangguk, ia menarik tangan Evelyna dengan lembut. Untuk mencapai lantai acara, mereka harus menuruni tangga terlebih dahulu.
"Ayah, aku ingin kesana" Evelyna menunjuk meja panjang yang berisi puluhan jenis makanan.
"Baiklah, tapi bersama kak Eylon dan kak Eylan,oke?" Evelyna mengangguk.
Sementara Evelyna dan kedua kakaknya menyantap makanan, Duke berbaur circle nya.
__ADS_1