
Dua Minggu setelah kejadian itu, kini tibalah waktunya. Liliana berjalan menuju ruang HRD. Ada banyak orang dengan pakaian formal berbaris.
Liliana tau apa itu sopan santun sehingga ia ikut berbaris bersama orang orang itu. Sesekali ia mengobrol dengan orang disampingnya, kalau diajak.
Hampir setengah jam lamanya Liliana berdiri, ia melongok kan kepalanya melihat orang yang berbaris di belakangnya.
lama, tapi gak papa. Asal dapet duitnya batinnya.
beberapa karyawan memilih berjongkok atau duduk dilantai sembari mengobrol dengan temanya.
Hanya Liliana yang menunggu tanpa melakukan apapun. Ia bosan, kenapa pula ia lupa membawa Handphone nya. Ingin rasanya ia mengambil Handphone nya, tapi itu artinya ia harus menunggu giliran lebih lama lagi.
Gadis cantik itu menghela nafasnya. Ia mengintip bagian depan barisan, tersisa empat orang lagi.
Yes! Dikit lagi, semangat Lili, ucapnya dalam hati.
Akhirnya setelah hampir lima puluh menit menunggu, Liliana masuk ke ruang HRD.
"Nona Liliana, ini gaji anda bulan ini. Dan karena kekerasan pernah terjadi pada Anda, sesuai peraturan perusahaan, Anda mendapat tambahan dengan nominal yang sama dengan gaji Anda " ucap ibu HRD.
Liliana tersenyum, ia keluar dari ruangan HRD setelah mengucapkan terimakasih.
Yes! Bisa buat bayar kost, beli bahan dapur, bayar listrik, sama yang lainnya, batinnya senang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Liliana pulang dengan perasaan senang, kakinya melompat kecil, bibir moengil nya tak berhenti bersenandung.
Karena letak super market dekat dengan kost nya, Liliana merasa tak perlu naik taksi untuk kesana.
lampu berlambang orang berwarna merah berubah menjadi warna hijau, Liliana berjalan menyebrangi jalan raya bersama beberapa orang yang tak ia kenal.
tin
tin
tin
awas!
nak berlari lah !
hei! menyingkir dari sana!
awas nek!
suara orang dan klakson mobil bersahutan, Liliana menolehkan kepalanya. Seketika tubuhnya membeku, kakinya terasa berat.
Kelopak mata jernih itu melebar,
Brak
__ADS_1
Liliana terpantau jauh, suara teriakan menggema di pinggir jalan, Liliana merasa kepalanya berdenyut, telinganya berdengung, cairan hangat terasa di sekujur tubuhnya. Perlahan mata indah itu tertutup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seonggok tubuh terbaring lemah di atas kasur empuk, wajahnya terlihat pucat, rambut perak yang terlihat berkilau saat terkena sinar matahari.
seorang perempuan berpakaian berwana biru langit dan putih memasuki ruangan dengan dinding berwarna pink cetar dengan ornamen putih yang terlihat menyakitkan mata.
Perlahan perempuan itu mendekati tubuh 'nona' nya yang terkulai tak berdaya. Pelayan itu membersihkan tubuh kurus itu menggunakan kain dan air hangat.
Mata pelayan itu tampak berkaca kaca, hampir tiga bulan lamanya, 'nona'nya terlelap tanpa ada niat membuka matanya meskipun sebentar saja.
Saat mengusap bagian punggung tangan pucat itu, terlihat jari lentik itu bergerak kecil. Pelayan terkejut, segera ia berlari keluar dari ruangan itu dan kembali bersama seorang pria paruh baya yang memiliki janggut putih panjang.
pria paruh baya yang sering disebut sebagai tabib, memeriksa keadaan keturunan majikannya. Wajah keriputnya memperlihatkan kalau dirinya sedang berpikir.
Lalu mata teduh itu membelalak, hatinya dipenuhi rasa tidak percaya. Sekali lagi tabib tua itu memeriksa tubuh kurus didepannya.
Dan hasilnya, sama. "Katakan pada yang mulia Duke dan Tuan muda bahwa berlian keluarga -VELION- sudah terbangun dari tidur panjangnya" ucapnya dengan nada bahagia.
Pelayan tadi mengangguk dan segera menyampaikan berita bahagia tersebut kepada majikannya.
tok
tok
tok
"Masuk" ucapnya. Seorang pelayan dengan nafas tersengal senggal terlihat dimatanya.
"maaf atas kelancangan saya tuan." ucap pelayan itu sembari membungkuk pada orang penting di depannya.
"hm" balas pria itu.
"katakan" suruh pria itu.
" nona muda sudah sadar yang mulia!" ucap pelayan itu, ia tak sadar bahwa ia sedikit berteriak karena kelewat bahagia.
pria tampan itu tampak terkejut, mata sebiru lautannya tak berkedip. Namun, itu tak bertahan lama.
Pria yang usianya hampir setengah abad itu berlari menuju kamar putri kesayangannya.
BRAK
suara benturan antara dinding dan pintu terdengar keras, bahkan kalau dilihat lebih teliti, ujung pintu bagian atas terlihat rusak.
Pria itu mendekati putrinya dan menggenggam tangan kanannya. Dikecupnya punggung tangan pucat putrinya.
Kelopak mata itu terbuka secara perlahan, netra biru laut sang sangat mirip dengannya terlihat. Netra indah itu bergulir, memindai seluruh sisi ruangan, hingga tatapannya berhenti pada pria yang sedang menatapnya.
"sayang, ada yang sakit? Kau haus? Atau kau ingin makan sesuatu? Katakan pada ayah" ucap pria yang mengaku menjadi ayah dari tubuh kurus itu.
__ADS_1
alis gadis pucat itu bertautan, ayah? batinnya.
sekali lagi ia memandang penjuru ruangan tempatnya berada.
Ini... Dimana? pikirnya.
"tuan Duke" panggil tabib.
"hm?" sahut pria yang tak lain adalah Duke Velion.
"kondisi nona Eve masih lemah, sebaiknya Anda tidak memberikan pertanyaan berturut-turut. Karena itu bisa membuat nona bingung dan kepalanya sakit" jelas tabib.
Duke Velion mengangguk, apa yang dikatakan tabib benar. Putrinya baru saja bangun dan pasti butuh waktu untuk menyesuaikan dirinya.
"Baiklah, tinggalkan aku dan putriku" titah Duke Velion.
Tabib dan pelayan itu keluar dari kamar Nona muda mereka. Kini hanya ada Duke Velion dan putrinya di kamar nyentrik itu.
perlahan Liliana merasa kepalanya sudah tidak sakit lagi. Ia memejamkan matanya saat kepalanya kembali terasa sakit. potongan potongan ingatan berputar bak kaset di otaknya.
" shhhh" desis gadis cantik itu. Duke Velion yang mendengarnya hendak berteriak menyuruh tabib masuk, tapi ditahan oleh putrinya.
Liliana menatap kosong langit langit kamar. Ia mengerti, kilasan ingatan itu membuatnya mengerti.
Mungkin terdengar mustahil, tapi Liliana sendiri yang mengalaminya. Transmigrasi. Suatu kejadian dimana yang banyak terjadi di dunia fiksi.
Biasanya seseorang akan mengalami transmigrasi setelah membaca sebuah novel fiksi, dan menjalani kehidupan yang melawan hukum alur cerita asli.
Tapi ini Liliana, seorang gadis yang tak memiliki waktu untuk membaca novel maupun menonton drama. Ia begitu sibuk dengan dunia kerjanya.
Duke Velion yang melihat putrinya hanya diam dengan tatapan kosong, semakin khawatir.
"sayang..." ucapnya lirih.
suara berat dengan sarat kekhawatiran itu menyadarkan Liliana. Mata sayu nya menatap pria yang mengaku sebagai ayahnya.
"apa ada yang sakit?" Liliana menggeleng.
"kau lapar?" Liliana menggeleng lagi.
" kau ingin sesuatu?" Dan Liliana menggeleng sebagai jawabannya.
Duke Velion menghela nafasnya. Tidak biasanya putrinya diam seperti ini. Meskipun kelakuan putrinya seperti manusia yang tidak diajarkan sopan santun dan etika, ia tetap lebih menyukainya dari pada sikap tenang dan diamnya putri kesayangannya.
"A-ayah" Duke Velion membulatkan matanya. Hatinya dipenuhi bunga dan rasa senang.
" ya sayang? kau butuh sesuatu? katakan pada ayah" ucapnya dengan mata berbinar.
Liliana terdiam sejenak, lalu mengangguk. "bisa ayah jelaskan, siapa aku? Apa yang terjadi padaku?"
Duke Velion merasa ada sesuatu yang sangat berat menghantam hatinya.
__ADS_1