Menjadi Putri Duke?!

Menjadi Putri Duke?!
chap 11


__ADS_3

Ia menempelkan tangannya pada tepung. yang ada di mangkuk, kemudian menempelkannya ke wajah cantik Evelyna.


Karena tangan Duke lebih besar, jejak tepung yang ada di wajah Evelyna lebih besar. Duke terkekeh, Evelyna sedikit kesal. Ia kembali membalas tindakan ayahnya.


Hingga terciptalah perang tepung di dapur. Lantai marmer indah itu tertutupi tepung. Evelyna dan Duke tertawa,berlari kesana-kemari saling menghindari serangan.


Hingga,


Bruk


Tubuh Evelyna tertimpa tubuh besar ayahnya. Itu karena Evelyna terpeleset tepung sedangkan Duke tersandung kaki Evelyna.


"AKH!AYAAH!!" Teriak Evelyna menggelegar kesatu kediaman.


Duke yang terkejut, segera berpindah. Ia melihat putrinya yang terkapar, mungkin pingsan.


"Lyn, hey" Duke menepuk pelan pipi putrinya.


Pelayan dan beberapa pengawal yang mendengar teriakan Evelyna segera menghampiri asal suaranya.


Mereka terkejut melihat dua majikannya terduduk dilantai dengan penampilan yang penuh tepung. Apalagi Evelyna yang terlihat lemas.


Duke segera membawa Evelyna ke kamarnya. Dan menyuruh tabib kediaman untuk memeriksanya.


Malam sudah tiba, Evelyna membuka kelopak matanya perlahan. Setelahnya ia mengubah posisinya menjadi duduk.


Netra nya menatap keluar jendela, perlahan Evelyna melangkahkan kakinya ke balkon kamar.


Angin malam berhembus, menerbangkan Surai peraknya. Evelyna memejamkan matanya, menikmati angin sepoi-sepoi.


Huhhff


Kepulan asap kecil keluar dari rongga mulutnya. Evelyna mengusap lengannya yang hanya tertutupi jubah tidurnya.


Evelyna membuka matanya, hak pertama yang ia lihat adalah bulan sabit yang berwarna putih, menerangi langit malam.


Ditemani ribuan bintang, yang tampak kelap kelip di matanya. Evelyna memikirkan kehidupannya.


Ayah yang penyayang, kakak yang masih tidak ia ketahui, pelayan yang baik, dan pengawal yang setia. Evelyna merasa hidupnya sangat sempurna. Hanya memerlukan seorang pria yang lembut dan penuh cinta untuk menemaninya hingga ajal menjemput.


Memikirkannya Evelyna menduga kalau ayahnya pasti tidak akan menikahkannya dalam waktu dekat, bagaimanapun hubungan baiknya baru saja dimulai.


Pria berkepala empat itu tidak akan melepaskannya begitu saja, apalagi menyerahkan putrinya kepada pria lain, setelah segala yang ia lakukan untuk membahagiakannya, selama ini.

__ADS_1


Senyum tipis tersungging di bibirnya, tiba tiba salah satu bintang di dekat bulan bersinar terang, seolah mengetahui perasaan Evelyna sat ini.


Evelyna masuk ke kamarnya, ia merasa malam ini cukup dingin. Sebelum terlelap kembali, ia menatap bintang itu dengan seksama. Kemudian ia melanjutkan tidurnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tak terasa waktu sudah berlalu, tersisa dua hari lagi, maka si sulung Velion akan tiba di kediaman.


Evelyna membuat hidangan bersama pekerja seperti sebelumnya. Kali ini ia membuat hidangannya dengan penuh percaya diri.


Pelayan dan koki tersenyum melihat ke-antusiasan nona mereka, ini akan menjadi momen terindah yang terukir di ingatan mereka.


Untuk pertama kalinya, nona muda Velion merancang sendiri seluruh acara penyambutan kakaknya. Untuk pertama kalinya, mereka akan mencicipi makanan buatannya. Untuk pertama kalinya, Evelyna menyambut kedatangan sang kakak.


Begitu banyak hal yang Evelyna lewatkan, hingga acara kecil seperti ini terasa sangat penting.


Senyum Evelyna tak luntur sejak pagi, jantungnya tak berhenti berdebar kencang. Untuk pertama kalinya ia melihat kakak dari tubuh yang ia tempati secara langsung.


meskipun masih dua hari lagi, Evelyna merasa gugup. Kali ini ia membuat kue yang lebih indah dari sebelumnya. Di tambah beberapa camilan seperti, kue coklat, kue kacang, dan camilan lainnya.


Evelyna mempersiapkan segalanya dengan baik, bahkan Duke terharu dan terkesima. Padahal Duke sudah melihat pesta yang lebih mewah.


Duke terperangah saat asistennya mengatakan bahwa pesta ini tidak menghabiskan banyak uang, padahal pesta bangsawan sekecil apapun tetap mengeluarkan banyak uang.


Duke speechless mendengarnya, dengan segera ia menghampiri putrinya. "Lyn apa kau membutuhkan hal lainnya? Atau kau ingin menambahkan sesuatu? Katakan pada ayah nak" ujar Duke.


"Tidak ada ayah, semuanya sudah selesai hanya tersisa hidangan ini setelah itu pesta bisa dimulai"


"Ayolah sayangg, kamu bahkan tidak sampai seperempat menggunakan uang. Bantulah ayah mu ini untuk menghabiskan setidaknya hingga separuh dari jumlah yang sekarang"


Ucapan Duke sedikit berbelit, Evelyna sampai bingung. Tapi intinya adalah Evelyna harus menggunakan uang ayahnya hingga kekayaan ayahnya tersisa separuh.


Evelyna meringis, bagaimana melakukannya? Sedangkan seluruh kebutuhannya sudah terpenuhi. Apakah ayah tercintanya ini kebanyakan uang,sampai bingung bagaimana menghabiskannya?


"Ayah, daripada habis karena hal hal yang tidak penting, lebih baik ayah membeli sesuatu dalam jumlah besar lalu membagikannya dengan rakyat kurang mampu" Duke mengangguk anggukam kepalanya.


"Baiklah kalau begitu, terimakasih sarannya putriku" Duke mengecup pelipis Evelyna lalu kembali ke ruang kerjanya.


Evelyna menggeleng kecil, terkadang ayahnya itu bisa menggemaskan tapi bisa juga menyeramkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat Evelyna mengecek kuenya, tiba tiba seorang pengawal datang dan memberitahukan kalau ia diminta datang ke ruang kerja Duke Velion.

__ADS_1


Evelyna berjalan menuju ruang kerja ayahnya, sambil mengira mengapa ia disuruh kesana?


tok


tok


tok


"Masuk"


Evelyna membuka pintu besar berukiran unik itu. Duke menoleh saat mendengar suara seseorang yang sangat disayanginya.


"Ayah, ada apa ayah memanggil ku kemari?" tanya Evelyna, telapak tangannya sedikit berkeringat.


"Ayah hanya ingin memberikan ini untukmu" Duke menyodorkan sebuah gulungan kertas yang disambut baik oleh Evelyna.


Evelyna membuka gulungan itu. Matanya membaca setiap kata dengan teliti, tak lama kemudian netra indah itu terbelalak.


Evelyna menatap ayahnya cengo, "Apakah ada yang salah?" tanya Duke.


"Ayah, Lyn mengatakan sesuatu yang bisa dibagikan" ujar Evelyna.


"Kau tenang saja sayang, seluruh rakyat Duchy Velion tidak kekurangan apapun sehingga ayah hanya perlu memberikan sesuatu itu padamu" sahut Duke.


"Tapi bukan seperti ini juga!" Evelyna menunjukkan kertas bukti kepemilikan sebuah pulau besar yang baru saja dibeli Duke untuknya.


"Itu sudah benar, kau bisa membaginya kepada anak anakmu nantinya. Kalau semisal kau memiliki sepuluh anak, kau masih memiliki bagian dari pulau tersebut."


Evelyna ternganga mendengarnya. SIAPA YANG INGIN MEMILIKI SEPULUH ANAK HANYA UNTUK PEMBAGIAN SEBUAH PULAU?!! Evelyna berteriak dalam hatinya.


"Ayahh" Evelyna menjelaskan kepada ayahnya bahwa ia tidak butuh pulau itu dengan nada lembut dan pelan.


Duke mengangguk mengerti, "biarkan saja, kalau kau tidak menginginkannya ayah akan menyimpannya, jadi kalau semisal kamu ingin liburan, kamu bisa pergi ke pulau itu" Duke menggulung kembali kertas itu dan menyimpannya.


Evelyna menepuk dahinya. Bukan seperti ini yang ia maksud!


"oh ya, mata mata ayah melaporkan bahwa kakakmu akan sampai lebih cepat. Entah apa alasannya " ujar Duke.


Evelyna terkejut, tapi ia segera menyadarkan dirinya. "Kapan?" tanyanya.


"eum... Mungkin malam ini atau besok pagi" ujar Duke.


"tidak masalah! Lagipula semuanya sudah siap!" ujar Evelyna semangat, meskipun rasa gugup kembali menderanya ia tak boleh menghancurkan pesta yang sudah ia rancang susah payah.

__ADS_1


__ADS_2