Menjadi Putri Duke?!

Menjadi Putri Duke?!
chap 6


__ADS_3

Selesai makan, dua orang tersebut berjalan beriringan menuju tujuan mereka.


"ayah, menurut ayah Kak Eylon dan Kak Eylan itu seperti apa?" tanya Evelyna.


" hmm.... Eylon, dingin dan acuh tak acuh pada sekitarnya, bisa di bilang dia adalah duplikat ayah. Sedangkan Eylan, dia perpaduan dari ayah dan ibu." Evelyna mengangguk mendengar penuturan ayahnya.


"Eum...ayah..."


"ya? Kalau kau ingin sesuatu katakan saja pada ayah, tidak perlu ragu" Duke Velion mengusap Surai halus Evelyna.


"Mungkin ini sedikit sulit, tapi keputusan Lyn sudah bulat. Ayah.... Bisakah kau membatalkan pertunangan ku dengan putra mahkota?" Evelyna menatap mata ayahnya dengan penuh harapan.


Duke Velion terkejut, bagaimana tidak(?) Dulu putri bungsunya selalu merengek minta di tunangkan dengan pria nomor dua setelah sang kaisar.


Bahkan gadis itu sampai mengancamnya. Kalau putra mahkota tidak menjadi tunangannya, maka Evelyna akan kabur jauh dari kediaman.


Duke Velion yang sangat menyayangi putrinya, pasti tidak ingin hal itu terjadi. Dengan segala usahanya Duke Velion mendapat balasan surat lamarannya, bahwa putra mahkota setuju untuk ditunangkan dengan si bungsunya Velion.


Tapi apa ini? kenapa Evelyna meminta pembatalan pertunangan tersebut secara tiba-tiba? Duke Velion menerima bahwa putrinya sudah berubah, tapi haruskah sampai seperti ini?


" Maaf, Lyn lancang karena memutuskan pertunangan secara sepihak setelah ayah susah payah mendapatkan persetujuan itu" Evelyna menunduk.


Duke Velion menarik dagu Evelyna hingga kedua bola mata yang seiras itu bertemu. Duke mengecup kening putrinya dengan penuh kasih sayang.


Evelyna memejamkan matanya, menikmati kecupan seorang ayah, yang tak pernah didapatkannya saat menjadi Liliana.


"Tidak masalah sayang, ayah akan mengurusnya nanti. Tunggu saja kabar pembatalan pertunangan kalian" Ujar Duke Velion.


Evelyna tersenyum, dipeluknya sang ayah erat erat. "Terimakasih ayah! Aku menyayangimu!" Ucap Evelyna senang.


Duke Velion tertawa kecil, lantas menggendong putrinya dengan gaya koala. "Ayah turunkan aku, tangan ayah sakit nanti"


" tidak akan, tubuhmu terasa sangat ringan, kau makan dengan benar,kan?" Alis Duke Velion bertautan.


Tanpa ragu Evelyna mengangguk," ayah sendiri yang lihat sebanyak apa Lyn makan, kurasa ada yang salah dengan tubuhku."


"hum...mungkin kau harus melakukan program gemuk" Evelyna menggeleng tidak setuju.


"ayah...kalau tubuhku gemuk, kakak akan mempermainkan Lyn terus nanti" ucapnya.


Duke terkekeh, "katakan pada ayah kalau ada yang menjahili mu. Akan ayah pukul kepalanya sampai benjol" Evelyna terkikik.


"hahaha, kepala kakak sudah bulat, kalau ayah pukul kepalanya tidak bulat lagi nanti" Duke dan putrinya tertawa.

__ADS_1


Mereka terus mengobrol hingga tidak sadar kalau sudah sampai di depan kamar Evelyna. "Sudah, sampai sini saja ayah" Duke Velion menggeleng.


Pengawal yang berjaga di depan kamar Evelyna, segera membuka pintu kamar Evelyna.


Didudukan nya sang putri tercinta di atas kasur empuk.


Krek


Evelyna meringis mendengarnya, begitu pula dengan Duke.


"ekhem, siapa ya tadi yang kalau tidak akan terjadi apapun saat menggendong ku" goda Evelyna.


Duke menjepit hidung mancung Evelyna, sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk mengusap pinggulnya.


Yap, tadi adalah suara tulang belakang Duke. Terlihat rona merah pada telinga Duke.


Padahal dia sudah percaya diri menggendong putrinya sampai ke kamar, tapi suara tulang belakangnya menghancurkan suasana 'romantis' mereka.


Evelyna tertawa keras, Duke yang melihatnya menjadi kesal. Namun, tak lama ia ikut tertawa.


Hari ini Kepala keluarga Velion itu banyak tertawa. Begitu pula dengan Evelyna. Hari ini adalah hari paling bahagia yang dirasakan Duke saat bersama putrinya.


"sudah cukup tertawanya. Sekarang tidurlah" ucap Duke.


"haha ha ha hahh" Evelyna mencoba menghentikan tawanya.


"Jaga putriku baik baik, kalau sampai terjadi sesuatu padanya....." Duke menggerakkan ibu jarinya di lehernya, seolah mengatakan kalau ia akan memenggal kepala dua pengawal itu.


"B-baik Duke!" jawab keduanya.


Duke pergi dari sana, masih ada banyak kertas yang menunggunya. Mungkin harus ia selesaikan malam ini supaya bisa menghabiskan waktunya dengan putrinya besok.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apakah ayahanda memanggil saya?" ucap seorang pria bernetra merah yang hanya dimiliki oleh keluarga kaisar.


Pria paruh baya disana mengangguk, "Aku dengar putri bungsu Duke Velion sudah sadar, temuilah dia. Bagaimanapun kau adalah tunangannya, sudah seharusnya kau menjenguk calon istrimu" ucap kaisar.


putra mahkota diam diam memutar bola matanya. Tidakkah ayahnya itu tau bahwa ia sangat membenci gadis yang tergila-gila padanya.


"Aku tau kau membencinya, tapi jangan jadikan itu alasan untuk tidak menjenguk tunanganmu"


"Baik ayah, saya akan menemuinya besok." Kaisar mengangguk, setidaknya putranya itu mau menjenguk anak sahabatnya.

__ADS_1


"Baiklah, aku sudah menyiapkan hadiah untuk calon menantuku. Besok bawalah itu" titah kaisar.


Mau tak mau putra mahkota mengangguk. Cih! Untuk apa ayah menyiapkan hadiah segala? Bahkan hanya dengan kehadiran ku pasti gadis gila itu akan membuang hadiah yang tidak penting untuknya. Batinnya.


Setelah urusannya selesai putra mahkota kembali ke ruang kerjanya.


Sepanjang perjalanan ia terus menggerutu. Mengutuk gadis yang ia anggap gila dan mengumpati ayahnya yang terlalu peduli dengan gadis gila itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seperti tekadnya semalam, Siang ini seluruh dokumen sudah di selesaikan oleh Duke.


Saat ini Duke berada di taman belakang bersama putrinya, membahas hal hal ringan dan bercanda bersama.


Sungguh Duke tidak menyangka kalau saat saat seperti ini akan tiba, Sudah lama Duke tidak menghabiskan waktunya dengan putrinya.


Karena Evelyna selalu sibuk mencari perhatian Putra mahkota, hingga mengabaikan kehadiran dirinya dan kedua kakaknya.


"Ayah, Kak Eylon akan sampai di kediaman sebelas hari lagi, kalau kak Eylan kapan pulangnya?" tanya Evelyna.


"masih lama, karena masalah yang ada di perbatasan bukanlah masalah sepele." Evelyna mengangguk.


"eum... Sebaiknya kapan kita mulai persiapan acaranya?" tanya Duke.


Evelyna berpikir, "karena konsep pestanya simple munkin butuh sekitar tiga sampai empat hari" ujarnya.


"Karena pesta ini spesial, maukah kamu yang memilih barang yang dibutuhkan?" tawar Duke.


"Ayah akan menemani mu membelinya" lanjutnya.


Bukan tanpa alasan Duke mengatakan ini, reputasi Putrinya cukup buruk dikalangan rakyat maupun bangsawan.


Ia tidak mau terjadi sesuatu pada Evelyna nantinya.


"eum.... Baiklah" Evelyna menerima tawaran ayahnya.


Tiba tiba seorang pria berpakaian pengawal menghampiri mereka.


"Maaf menggangu tuan Duke, Nona muda. Ada yang harus saya sampaikan kepada anda berdua" ucap pengawal itu.


Duke mengangguk, mempersilahkan pengawal itu melanjutkan ucapannya, "Putra mahkota datang berkunjung, beliau berada di ruang tamu saat ini. "


Duke menaikkan satu alisnya, sedangkan dahi Evelyna berkerut. Tumben sekali putra mahkota berkunjung, pikir Evelyna.

__ADS_1


Biasanya putriku lah yang datang ke istana bukan putra mahkota yang datang kemari, batin Duke.


Duke berpikir mungkin putrinya lah yang mengundang putra mahkota, namun, melihat reaksi Evelyna, sepertinya gadis itu juga tidak tahu bahwa tunangannya datang ke kediaman.


__ADS_2