Menjadi Putri Duke?!

Menjadi Putri Duke?!
chap 4


__ADS_3

"TA-"


"Ayah..." Teriakan Duke Velion terpotong oleh Liliana.


"Tidak perlu panggil tabib. Aku baik baik saja ayah, hanya sedikit melupakan beberapa hal. Jadi...bisakah?" Jelas Liliana.


Duke Velion mengusap puncak kepala putrinya, dan mengangguk. "Nama mu Evelyna Kaylin De Velion, putri bungsu keluarga Velion. Kau anak ketiga dari tiga bersaudara, kakak pertama mu bernama Eylon Shasanas De Velion, sekarang dia sedang berada di kekaisaran tetangga karena titah kaisar yang menyuruhnya untuk menemani putra mahkota berkunjung.


Lalu kakak kedua mu, Eylan Shasanas De Velion, dia berada di perbatasan. Ayah mengutusnya untuk mengatasi para bandit dan pemberontak." Ucapnya panjang lebar.


Kalau saja pelayan atau pengawal ada di dalam ruangan, mungkin mereka sedang ternganga. Karena Duke Velion bukanlah orang yang mau bicara panjang lebar.


Liliana a.k.a Evelyna, termenung. Pikirannya melanglang buana. Bagaimana bisa ia sampai disini? Apa alasannya? Mengapa? Dan... Apa yang harus dia lakukan?


Mata jernih itu melirik 'ayah' nya. Haruskah Liliana mengatakan siapa dirinya sebenarnya? Bagaimana kalau ia diusir? Atau malah di lakukan ritual pengusiran jiwa asing?


Helaan nafas lolos dari bibir pucatnya. Entah kenapa ini semua terasa rumit.


"Ayah, aku ingin istirahat. Bisakah..." Liliana sedikit ragu untuk menyuruh Duke Velion pergi.


Duke Velion yang paham bahwa anak gadisnya butuh ketenangan, menganggukkan kepalanya dah pergi dari sana,setelah mengecup kening putrinya.


Liliana menatap punggung lebar itu sampai menghilang di balik pintu. Sekali lagi, helaan nafas keluar dari bibirnya.


Sepertinya untuk beberapa hari Liliana akan banyak berdiam diri di kamarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Matahari mulai menampakkan dirinya, tirai kamar luas itu terbuka. Sinar matahari yang silau mengusik tidur seorang gadis cantik.


Evelyna melenguh, tubuhnya mengulet. Tatapannya sayu, dengan posisi terlentang Evelyna menggaruk leher maupun dadanya.


Pelayan yang kemarin, menggelengkan kepalanya. Entah kenapa ia merasa kalau nonanya ini berubah, biasanya dulu saat bangun tidur, nona nya segera bangun dan bersiap untuk menemui pujaan hatinya.


"Nona, anda ingin gaun seperti apa hari ini?" Tanyanya. Merasa tak ada jawaban pelayan itu menolehkan kepalanya.


Senyum geli tersungging di bibirnya. Lihatlah, bukannya bangun dan mandi Evelyna malah tidur lagi. Bahkan suara dengkuran halus terdengar.

__ADS_1


Pelayan menutup pintu almari, lalu beranjak keluar. "Nia!" Suara seseorang memanggil pelayan yang keluar dari kamar Evelyna.


Nia, pelayan yang menjadi pelayan pribadi sekaligus pengasuh Evelyna, menoleh. Terlihat salah satu temannya berjalan cepat kearahnya.


"Bagaimana? Apakah dia melakukan hal aneh?" Tanya teman Nia.


Nia menggeleng, " Nona Muda tidak melakukan hal aneh apapun, bahkan saat ini ia masih tertidur pulas."


Teman Nia menganga. "Sungguh?" Ucapnya tak percaya, Nia mengangguk.


"Memang tidak seperti biasanya, tapi kurasa tidur panjang selama tiga bulan mengubah kepribadian nona muda" Nia mengutarakan pendapatnya.


Teman Nia mengangguk, " kalau memang kepribadian nona berubah, kuharap itu membuatnya menjadi lebih baik. Semoga saja nona tidak bertindak memalukan seperti sebelumnya." Nia setuju dengan ucapan temannya.


Kriet


Suara pintu terbuka mengalihkan atensi mereka. Muncullah Evelyna dengan penampilan acak-acakan, Nia membelalakkan matanya.


Rambut kusut, baju tidur yang kusut, muka bantal, dan mata yang sedikit terbuka. Dua orang pelayan dan dua ksatria yang berjaga, tercengang.


Selama ini nona muda Velion selalu menjaga image nya, sungguh, ini pertama kalinya mereka melihat penampilan Evelyna saat baru bangun tidur.


Evelyna mengucek kedua matanya, dan melihat ke sekitarnya. Bibirnya sedikit maju, dengan mata yang menyipit.


Keempat pekerja menahan tawanya. Nia menggelengkan kepalanya dan membawa Evelyna untuk memperbaiki penampilannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" Dimana putriku?" Tanya seorang pria yang tengah duduk di kursi ujung meja makan.


" Nona muda sedang bersiap, Duke" sahut seorang pria paruh baya yang menjabat sebagai kepala pelayan.


Yap, pria yang sedang duduk itu adalah Duke Velion, pria tampan yang memiliki gelar Duke dan juga gelar duda beranak tiga.


Duchess terdahulu atau ibu dari Evelyna dan kedua kakaknya, sudah meninggal empat belas tahun yang lalu. Di karenakan keracunan makanan.


Kematian Duchess tentu membuat suami dan kedua anaknya terpuruk, Evelyna yang masih berusia dua tahun, tentu belum mengerti apapun.

__ADS_1


Kehadiran Evelyna mengembalikan ketiga orang itu dari kesedihan yang melanda. Mereka berjanji akan menyayangi si bungsu dan selalu melindunginya.


Sejak kematian sang istri tercinta, Duke Velion selalu bersikap dingin terkecuali saat bersama ketiga anaknya. Meskipun banyak lamaran yang datang kepadanya, Duke Velion memilih untuk tidak menikah lagi.


Seperti janjinya kepada Duchess, " aku berjanji memberikan hati dan ragaku hanya untukmu, tidak akan ada yang kedua maupun kesekian dalam hidupku."


Dan Duke Velion menepati janjinya. Empat belas tahun hidup tanpa pasangan, ke luar wilayah sendirian, tentu bukan hal mudah. Seringkali Duke Velion mendapat ceramah supaya dirinya menikah lagi.


Tapi keputusan Duke sudah bulat, hanya menikah satu kali seumur hidup dan mencurahkan segala kasih sayang dan perhatiannya kepada ketiga anaknya.


Meskipun sikap putri bungsunya sempat membuatnya kesal dan sedikit benci, tapi Duke tetaplah seorang ayah, yang menginginkan yang terbaik untuk anaknya.


Duke tetap memperlakukan Evelyna dengan baik, menuruti segala keinginan nya. Berkali-kali Duke menceramahi Evelyna, tapi di abaikan oleh gadis itu.


Sebagai ayah tentu saja hal yang menimpa putrinya membuatnya sedih dan kesal.


flashback on


Seorang gadis berambut pirang berlari kecil di lorong istana. Senyum manis terpatri di wajahnya.


Gaun besar dan berat membuatnya sedikit kesusahan, riasan cukup tebal membuat wajahnya terasa berat. Tapi ia tak masalah, asalkan hal tersebut dapat menarik perhatian sang putra mahkota, pujaan hatinya.


Sebenarnya Lady Velion lebih terlihat ke arah obsesi daripada cinta. Putra mahkota yang melihat kehadiran gadis dari keluarga Velion, memutar bola matanya jengah.


Lagi lagi gadis perusak ini. Sebenarnya apa yang dia inginkan sih? pikirnya.


Evelyna langsung bergelayut pada lengan kanan putra mahkota, "sayang~" ucapnya dengan senyum lebar.


Putra mahkota merinding. Suara itu terasa seperti panggilan maut untuknya. Dengan cepat putra mahkota melepaskan tanganya dan sedikit mendorong putri Duke Velion itu.


Evelyna sempat terhuyung, namun ia bisa mengendalikan tubuhnya supaya tidak jatuh. Mata indahnya menatap wajah tampan putra mahkota.


"Ada apa? Apakah tangan mu sedang sakit? Akan ku obati" ucap Evelyna dengan nada lembut.


Putra mahkota berdecih, "tidak perlu lady, sebaiknya kau pergi dari sini sekarang. Aku muak melihatmu " ucap putra mahkota dengan dingin.


Hati Evelyna terasa sakit, matanya berkaca-kaca hendak menangis tapi ia menahannya.

__ADS_1


"Kalau itu membuat menyukai ku, maka akan ku lakukan. Jaga kesehatan mu, jangan sampai sakit" Evelyna beranjak pergi dari sana.


__ADS_2