
"Sebenarnya apa yang kalian lakukan, huh? Cih, mengganggu " Ucapnya.
Suara berat itu mengalihkan perhatian Liliana dan Si A, dua wanita itu kompak menunduk dan melepaskan jambakan nya.
Kedua wanita itu ketakutan, tubuh nya terlihat bergetar. Liliana memilin ujung blouse putihnya.
"bisu huh(?)" suara berat dan dingin itu menyapa gendang telinga mereka. Aura gelap menguar, Liliana merasa sesak. Berdekatan dengan presdir bukanlah pilihan yang tepat.
Liliana melirik pria yang berada di belakang presdirnya. Bagaimana pria itu bisa bertahan menjadi asisten Presdir selama bertahun-tahun lamanya? Batinnya.
Presdir yang merasa bahwa situasi sudah lebih baik, melenggang pergi dari sana. Kepergian pria suram itu tentu membawa kelegaan bagi para karyawan, termasuk Liliana.
Si A menatap tajam Liliana. Liliana membalas tak kalah tajam. Mereka berdua melenggang pergi dengan kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dan disinilah Liliana berada, di toilet. gadis cantik itu menatap pantulan wajahnya. Susah payah ia berpenampilan rapi tadi pagi, kini sudah hancur, lagi.
Liliana menghela nafas kasar, pasti setelah ini ia akan di panggil dan di hakimi oleh HRD. Ia hanya bisa berdoa supaya tidak di pecat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dan benar saja, tiga jam setelah perkelahian tadi, Liliana dipanggil ke ruang HRD. Disana tidak hanya dia, ada Si A dan Si B, yang sudah diobati.
Liliana menyemangati dirinya sendiri dalam hati. Si B tersenyum miring, inilah saatnya untuk mendepak gadis yang ia benci untuk keluar dari perusahaan.
"Jadi... Jelaskan" ucap wanita berwajah garang yang ada di seberang mereka bertiga.
" Kami tidak bersalah, Bu. Dia yang mulai " ucap Si A heboh.
Liliana tidak terkejut, justru bibir pink itu tersenyum tipis. Wanita yang dipanggil 'Bu' itu mengalihkan tatapannya.
" apakah benar?" tanyanya. Liliana menggeleng.
"Bu, seperti yang Anda ketahui. Saya bukan lah orang yang suka mencari masalah, kalau iya mungkin sudah banyak karyawan perempuan yang terluka karena saya" wanita HRD itu mengangguk.
Memang Liliana tidak pernah terlibat perkelahian selama bekerja di perusahaan besar ini. Wanita itu menyuruh Liliana untuk melanjutkan ucapannya.
" Ini adalah pertama kalinya saya menyerang karyawan lain. Saya menyerang mereka berdua pasti ada alasannya" Liliana melirik dua wanita licik yang ada di sampingnya.
__ADS_1
Si B menatap tajam Liliana, seolah berkata akan kubunuh kau, kalau kau mengatakan yang sebenarnya. Tapi kali ini Liliana tidak akan mundur, dengan percaya diri ia menceritakan kronologi kejadian di lobby tadi pagi.
" Tidak, tidak seperti itu. Kami tidak bersalah disini Bu!" ucap si A sedikit berteriak.
wanita HRD menatapnya tajam, seketika Si A diam. Si B yang melihatnya menggigit bibirnya. Pupil matanya sekidit bergetar.
" diamlah, nona. Kau belum mendapat izin untuk bersuara" ucap Ibu HRD. Si A hanya diam.
"Baiklah, saya sudah membuat keputusan. Kau nona A" ibu HRD menunjuk Si A.
"untuk sementara kau di skors dan kau Nona B gajimu akan di tangguhkan selama tiga bulan" Si A dan B membelalakkan matanya.
tiga bulan?! Bagaimana aku bertahan hidup kalau untuk membeli makan saja tidak bisa?! Sial! Batinnya.
"Jangan Bu, saya mohon! Saya akan melakukan apapun tapi tolong jangan skors saya" ucap Si A lirih, raut wajahnya memelas.
Liliana berlagak muntah, apa apaan dua manusia titisan Medusa ini? Dia menatap malas, Si A yang masih merayu ibu HRD.
Tiba-tiba Liliana ditarik, di paksa berdiri.
PLAK
Wajah Liliana tertoleh ke samping kanan, bekas tangan dengan warna merah terlihat jelas di pipinya.
Ibu HRD melotot terkejut, "NONA B!" Teriaknya.
"sialan kau! Kenapa kau harus bekerja di sini hah?! Dasar ******!!" teriak Si B.
Liliana tersenyum, hal itu membuat emosi Si B semakin memuncak. Si B menghajar Liliana membabi buta. Sedangkan yang di hajar hanya diam saja.
Dua orang security masuk ke ruangan HRD, dengan cepat salah satu dari mereka menahan pergerakan Si B.
Sedangkan satunya lagi membantu Liliana. Security itu menawarkan untuk ke unit kesehatan perusahaan, Liliana menolak.
manik hazel itu menatap remeh Si B. "Sudah cukup aku diam selama ini." ucap Liliana.
Si B memberontak dalam kukungan security yang menahannya.
tak
__ADS_1
tak
tak
kriet
Suara ketukan sepatu dan pintu yang terbuka mengalihkan atensi mereka. Tubuh tegap terbalut jas hitam dan celana dengan warna senada menjadi hal pertama yang mereka lihat.
Sontak saja enam orang disana membungkuk kan badannya, Si B memanfaatkan situasi ini untuk berlari menuju Presdir dan meminta dukungannya.
Presdir menatap datar perempuan yang berusaha meluluhkannya. "Tuan saya bisa jelaskan, wanita itu, dia menyakiti saya lebih dulu. Dia-" ucapan si B terpotong karena Presdir menyuruh nya untuk diam.
Presdir menelisik penampilan Liliana dari atas sampai bawah. Berantakan, dan tidak profesional dalam berpenampilan, pikirnya.
Tatapan matanya berhenti pada wajah Liliana yang entah kenapa tampak lebih cantik saat terluka. Jantung nya berdebar, gelanyar aneh terasa di tubuhnya.
Entah kenapa dia merasa sedikit kesal melihat Liliana yang terluka. " Nona B" panggilnya.
Si B mendongakkan kepalanya dengan senyum yang tersungging di bibirnya. "Ya tuan?" Si B menahan untuk tidak berteriak, ini pertama kalinya nama nya disebut oleh pria tampan di depannya.
"kau di pecat" tiga kata, hanya tiga kata namun berhasil membuat wanita itu tersentak dan terdiam.
"A-apa? Tapi kenapa tuan? Saya tidak melakukan kesalahan apapun" ucapnya dengan nada tak percaya.
"tidak melakukan" gumamnya. Presdir sedikit menoleh ke belakang.
Asisten Presdir yang mengerti langsung berucap," peraturan perusahaan nomor enam, tindakan kekerasan dalam bentuk apapun, pelaku akan dijatuhkan hukuman berupa pemecatan dan tidak di beri pesangon selain itu apabila pemecatan dilakukan sebelum tanggal gajian maka gaji pada bulan tersebut akan diberikan pada pihak korban." Asisten Presdir menjelaskan dalam satu tarikan nafas.
Deg
Mendengar penjelasan itu, Si B tercengang. Liliana tersenyum tipis, itu artinya untuk bulan ini jatah uangnya bertambah dan ia bisa membeli beberapa kebutuhannya serta membayar kostnya.
Si B menggapai tangan atasannya, "Tuan saya mohon jangan pecat saya. Saya berjanji akan bekerja lebih keras dan meningkatkan kemampuan saya. Tolong tuan saya mohon" Presdir menghentakkan tangannya, menyebabkan Si B yang tidak siap, terjatuh.
"bereskan barang barangmu dan pergi dari sini!" ucap Asisten Presdir.
Si B menggeleng cepat, ia terus memohon kepada Presdir meskipun tidak di pedulikan. " bawa dia ke unit kesehatan" perintah Asisten Presdir kepada security yang membantu Liliana.
Presdir dan asistennya pergi dari sana, diikuti oleh Si B yang masih membujuk rayu dua orang penting itu untuk tidak memecatnya.
__ADS_1