
Ellen memasang wajah sedih. Ia menundukkan kepalanya.
Eylon memutar bola matanya jengah. Ia tahu sifat asli gadis itu. Sok polos, dan bodoh. Ia tahu bahwa beberapa bulan yang lalu adiknya pernah bertengkar kecil dengannya, tapi yang melawan segala ucapan gadis bodoh itu adalah dua pelayan Evelyna.
"Tolong bicara dengan baik Tuan Eylon, anda bisa dihukum karena menyakiti calon ratu berikutnya"
Si kembar beda melotot, secepat itu?
Mereka melirik adiknya. Evelyna tampak biasa saja, seolah ia sudah mengira kejadian ini. Tanpa diduga gadis itu malah terkekeh pelan.
" Belum genap setahun anda dan saya memutuskan pertunangan, tapi sekarang anda sudah memiliki yang baru" Putra mahkota menyeringai.
"Anda yang baru saja jatuh hati dan membuatnya mendaji kandidat ratu berikutnya atau... Anda memang memiliki perasaan dengannya tapi menyembunyikan nya?" Evelyna membuat raut wajahnya seolah sedang terkejut.
Ellen mengepalkan tangannya. Suara gemelatuk gigi terdengar. Sepertinya Pria yang diidamkan oleh seluruh wanita itu terpancing emosi.
Putra mahkota menyimpulkan bahwa maksud perkataan Evelyna adalah "Ck ck ck Anda sangat berengsek. Menjalin hubungan dengan perempuan lain dan menyembunyikannya? Bahkan saat kita masih menjadi tunangan? Pantas saja anda bisa mendapatkan kandidat baru dalam waktu singkat"
Sedangkan Ellen mengartikannya, "Wah, kau seorang simpanan?"
Si kembar tersenyum tipis. Sepertinya adik tersayangnya kini menjadi seseorang yang berani, tidak lagi bersembunyi dibalik punggung putra mahkota.
"Eh, omong omong, apakah Lady Ellen adalah putri Baron Gelyn?"
"Ah benar Lady, saya tidak menyangka anda mengenal saya" Ellen menatap wajah cantik Evelyna.
Mungkin orang lain akan mengira bahwa Ellen terlihat menyedihkan karena tidak ada yang mengenalnya selain beberapa bangsawan yang setara dengannya.
Tapi bagi Evelyna, ucapan itu berarti "Anda terlalu sibuk mengejar putra mahkota hingga tidak memiliki waktu untuk mengenal para bangsawan lain dan keturunannya."
Evelyna melemparkan senyum manis. Bangsawan pria yang melihat senyuman itu terpana, bahkan wajah mereka sampai memerah.
"Akhir akhir ini saya memiliki banyak waktu untuk mempelajari hal hal yang terkait dengan wilayah Kesaisaran dan segala yang ada di dalamnya, termasuk kaum bangsawan"
Evelyna berujar dengan nada lembut dan menenangkan. Tapi itu tidak membuat Ellen untuk menahan amarahnya.
Evelyna tertawa dalam batinnya. Melihat wajah kesal gadis didepannya membuatnya senang, meskipun tidak terlalu terlihat.
"Sungguh? Saya dengar perpustakaan milik Duke Velion sangat lengkap, jadi anda bisa mendapat banyak informasi. Saya ingin belajar dari anda, bolehkah?" Tanya Ellen.
"Tentu saja, tapi maafkan saya Lady. Beberapa hari kedepan saya memiliki jadwal yang padat, sehingga tidak bisa membantu anda belajar dalam waktu dekat" balas Evelyna.
"Sayang sekali" Ellen membuat raut wajah sedih. Matanya melirik putra mahkota yang hanya diam sambil menatap Evelyna, itu membuat amarahnya semakin memuncak.
"Putra mahkota?" Ellen menyentuh bahu putra mahkota.
__ADS_1
Karena terkejut tangan besarnya menyentak tangan yang lebih kecil darinya dengan kasar.
Ellen mengusap tangannya. Ia malu. Terlihat jelas disini kalau putra mahkota tidak menyukainya. Meskipun itu hanya reflek.
Bisik bisik terdengar. Eylan menutup kedua telinga adiknya. Evelyna mendongakkan kepalanya. Tatapannya seolah bertanya, "kenapa?"
"Jangan dengarkan omong kosong mereka, itu hanya akan membuat telingamu sakit" ujar Eylan pengertian.
Tiba-tiba Duke Velion datang. "Ada apa?" Tanya Duke entah kepada siapa.
Sepertinya Duke mendengar kalau putrinya bertikai kecil dengan Lady yang lebih rendah darinya.
Netra biru tajam Duke mengarah pada Ellen. Gadis muda itu merasa ketakutan, ia beringsut bersembunyi dibalik punggung putra mahkota.
Eylon terbayang bahwa gadis yang ada di balik punggung lebar itu adalah adiknya. Ia menolehkan kepalanya.
Matanya bertabrakan langsung dengan manik yang sama dengannya. Begitu teduh dan menenangkan. Ketakutannya seketika menguap.
Ya, Eylon ketakutan. Takut kalau adiknya akan berbalik dan kembali bersembunyi dibalik punggung putra mahkota. Bukan dibalik punggungnya.
Evelyna mendekati ayahnya. "Tidak ada apapun ayah, hanya mengobrol yang sedikit sengit" Evelyna mendekatkan jari telunjuk dengan ibu jarinya,ia beri sedikit jarak antara keduanya.
Duke mengangguk. Sorot matanya menjadi lebih hangat, saat menatap putrinya.
"Ayah dengar kalau kau mengatakan bahwa kue nya sudah tidak layak pakai, apa itu benar?" Evelyna mengangguk.
"Panggil koki kemari" titah putra mahkota.
Tak lama kemudian seorang pria paruh baya yang memakai baju putih dengan topi sedikit tinggi diatas kepalanya, memasuki ruangan dan menghampiri putra mahkota yang memanggilnya.
Sedangkan di atas, Kaisar, permaisuri dan para selir, serta pangeran dan tuan putri hanya diam menonton.
"Apa kau sudah memastikan kalau bahan bahan yang dipakai untuk kue itu berkualitas dan layak pakai?"
Koki itu menegakkan tubuhnya setelah memberi salam, "sudah yang mulia, saya membeli bahan-bahan kuenya ditempat yang terjamin" jawabnya.
"Anda dengar itu lady?" Ellen kini menampakkan seluruh tubuhnya. Tak lupa tatapan puas nya.
"Krim ini terlalu cair dan lembek, sedangkan krim kue yang bagus masih kental dan tidak meleleh" ujar Evelyna.
"Rasanya juga tidak asam melainkan manis" sahut Eylan.
"Kami menggunakan krim yang berperisa buah strawberry sehingga wajar kalau krimnya terasa asam" Ellen menatap Eylan.
"Berperisa strawberry?" Koki mengangguk.
__ADS_1
" Siapa yang memilih krim itu untuk kue kue ini?"
"Saya yang mulia" binar mata muncul di netranya.
Putra mahkota mengangguk. Ia mengembalikan atensinya untuk Evelyna. Ellen menggigit pipi dalamnya.
"Bisakah ku lihat bungkus krimnya?" Koki segera mengambil benda yang diminta Evelyna.
"Silahkan nona" Evelyna menerima bungkus itu setelah mengucapkan terimakasih.
Netra birunya mengamati bungkus itu dengan teliti. Dapat!
"Kalau kau perhatikan, ada beberapa titik hitam disini" Evelyna menunjuk satu sisi bungkus krim.
"Benar dan itu cukup banyak" ujar Putra mahkota.
"Lalu?" Tanya Ellen.
"Titik hitam ini menunjukkan kalau krrim ini sudah tidak layak pakai" Evelyna kembali memperhatikan titik hitam itu.
"Dari mana kau tahu?" Eylon memperhatikan gerak-gerik adiknya.
"Karena ini jamur" seluruh orang yang ada disana terkejut. Bisik bisik kembali terdengar.
"J-jamur?" Wajah Ellen sedikit memucat.
"Tidak hanya pada krim ini, seluruh makanan akan ditumbuhi jamur hitam saat sudah basi. Bahkan dalam bungkusan sekalipun" Evelyna menegakkan kepalanya.
"Apakah kau membeli ini saat kita bertemu hari itu Lady?" Ellen mengangguk.
"Beberapa saat setelah kau pergi, seluruh krim yang sama di rak itu diganti. Karena batas waktu simpan sudah lewat, mereka terlambat menggantinya" Evelyna menatap meja disamping kakak keduanya.
Wajah Ellen semakin memucat, ia teringat kejadian itu.
Flashback
Ellen segera berdiri, ia pergi untuk membayar beberapa bahan kue yang dibelinya.
"Aku bayar semua ini"
"Tapi nona, krim ini sudah tid-"
"Jangan banyak bicara, cepat totalkan semuanya. Aku sedang buru buru"
Diam diam pekerja itu memutar bola matanya, buru buru untuk menghindari cemoohan pelanggan lain, batinnya.
__ADS_1
Flashback off