
Evelyna membayangkan sebuah jaket dengan bulu di sisinya, berwarna biru langit dan tidak terlalu tebal tapi cukup untuk menghangatkan tubuh.
Ia menjentikkan jarinya. "Ada apa,Lyn?" Duke terheran dengan Evelyna yang tiba-tiba menjentikkan jarinya.
"Eh, tidak apa-apa,ayah. Hanya sebuah ide terlintas di kepalaku" Evelyna menunjuk pelipisnya.
Duke mengangguk paham, kali ini ia tidak akan bertanya ide itu. Ia ingin tahu sesuatu yang terlintas di kepala putrinya secara langsung.
"Ayah, bisakah ayah buatkan janji temu dengan Baroness Fileta?"
"Tentu, apapun untuk putri ayah"
Evelyna tersenyum lebar berbeda dengan hatinya yang tersentil. Lagi lagi ia ditampar kenyataan, pria di sampingnya ini melihatnya sebaga Evelyna bukan sebagai Liliana.
Sungguh rasanya ia ingin berteriak, "Aku adalah Liliana bukan Evelyna yang kalian kenal!" Tapi itu tidak mungkin.
Mereka terus menyusuri jalanan dengan bergandengan tangan. Sepuluh ksatria menjaga mereka, dua pelayan, dan seorang pria, yang memiliki jabatan sebagai tangan kanan Duke Velion.
Evelyna menatap sekitarnya. Ada begitu banyak anak-anak bermain di sisi jalan. Puluhan orang yang melihat kehadiran sang penguasa daerah membungkukkan tubuhnya, memberi salam.
Evelyna sebenarnya merasa tidak enak dan tidak nyaman meskipun ini sering terjadi, sepertinya gadis itu agak sulit beradaptasi dengan dunia barunya.
"Eh?"
Hembusan angin menerpa wajahnya. Sebuah tanah luas dengan beberapa tanaman yang bisa hidup di musim dingin. Menjadi pemandangan yang menakjubkan di matanya.
Selama hidup di abad 21, Liliana hampir tak pernah melihat sawah yang super luas seperti ini.
"Wahhh" Bintang binar muncul di manik birunya.
Duke tersenyum tipis. Awalnya ia sengaja hendak mengajak putrinya ke suatu desa yang ia pimpin, tapi dengan sendirinya gadis itu meminta untuk ikut.
Duke memperhatikan sekitarnya. Lalu ia mengungkapkan sesuatu kepada asistennya.
"Ayah, aku ingin kesana, bolehkan?" Evelyna menunjuk salah satu petak tanah.
"Tentu, jangan jauh jauh " Evelyna mengangguk dan berlari menuju sawah tersebut.
Gadis cantik itu mengelus daun tanaman yang ada, mencabuti beberapa rumput dan bunga yang menurutnya cantik.
"Hati hati nona" Evelyna tersenyum saat seorang wanita dengan anak laki-laki di sampingnya, memperingatinya.
Evelyna melanjutkan kegiatannya. Nun dekat di belakang Evelyna, Duke memastikan kalau putrinya aman.
"Jaga putriku, aku pergi menemui kepala desa" titah Duke kepada delapan ksatria.
"Perintah diterima Tuan Duke!!"
Duke mengangguk dan beranjak pergi, meninggalkan putrinya yang sedang berbaur dengan rakyatnya.
Evelyna mengobrol dan bercanda dengan anak-anak yang mendekatinya. Mengajari mereka tentang dunia luar dan hal lainnya.
Sore harinya
"Haruskah kakak pergi?" Seorang anak kecil memeluk kaki Evelyna dengan mata yang berkaca-kaca.
Ada beberapa anak lainnya yang serupa. Evelyna tersenyum tidak enak, apalagi orang tua anak anak itu tepat berada di seberangnya.
Evelyna menekuk lututnya, menyamai tinggi bocah itu. "Maaf ya, kakak harus pulang sekaran, tapi kakak janji akan datang kemari lagi"
__ADS_1
"Kapan?" Kini seorang bocah perempuan yang bertanya.
"Uhm... Entahlah kakak tidak tau, tapi kau tenang saja kakak tidak akan ingkar janji" Evelyna menyodorkan jari kelingkingnya.
"Janji?" Beberapa anak kecil berucap bersamaan.
Evelyna mengangguk. "Lyn" Evelyna menoleh ke belakang. Ada ayahnya yang sedang menunggunya.
"Baiklah" Evelyna berdiri.
"Sampai jumpa anak anak" Evelyna melambaikan tangannya.
"Sampai jumpa kak!!"
"Nanti datang lagi ya!"
"Kakak! Jangan lupa janji kita ya!"
Evelyna terkekeh. Hatinya diliputi rasa senang. Duke tersenyum tipis, ia senang kalau putrinya mulai memiliki teman sekarang, meski itu adalah anak kecil.
Sampai di kediaman, Evelyna tak berhenti mengoceh, menceritakan segala hal yang ia lakukan di desa tadi.
Sesekali Duke menimpali. Si kembar yang merasa diabaikan merasa kesal. "Ihhh, Lyn~!"
Evelyna menoleh, terpampang lah wajah kesal kedua kakaknya. Dia tertawa pelan, baiklah, ia tahu kesalahannya.
"Maafkan adikmu yang cantik ini kakak kakak" Evelyna mengibaskan rambutnya.
Eylon mengangguk, "jangan abaikan lagi" Eylon memajukan bibirnya.
"Hu'um" Eylan mengangguk setuju. Pipinya yang sedikit gembul membuat Evelyna gemas.
"Iyaa, maaf ya" gadis itu mengusap rambut tebal kakaknya.
"Iyya" sahut keduanya.
Duke tersenyum, meskipun ia sering melihat hal yang serupa, tapi tetap saja ia merasa senang dan berbunga-bunga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu demi waktu berlalu, Evelyna dan keluarganya sedang mengadakan sebuah pikinik di taman belakang.
Sebenarnya piknik ini terjadi karena.....
Flashback on
"Lynn!!!"
Evelyna menoleh saat sebuah suara menggelegar ke penjuru lorong.
Bruk
"Ayo piknik!" Eylan dengan mata berbinanya, menatap Evelyna dengan riang.
"Sekarang?"
"Hu'um" Eylan mengangguk semangat.
"Berdua saja?" Eylan menggeleng, pria itu menunjuk ke belakangnya.
__ADS_1
Rupanya dua orang pria lain sedang berjalan santai menuju tempatnya berdiri bersama kakaknya.
"Hahh, kenapa tiba-tiba? Tidakkah kau tau aku sedang sibuk?" Eylon menatap kesal adik pertamanya.
"Dimana kita akan melakukan piknik?" Duke bersedekap dada.
"Eum... Bagaimana kalau di taman belakang bawah pohon rindang" Evelyna mengusulkan.
"Itu tempat yang bagus, Lyn" Evelyna tersenyum manis.
Dengan cepat pelayan menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk piknik.
Flashback off
Eylan menggigit sekeping kue kering. Matanya berbinar terang saat lidahnya merasakan coklat yang meleleh.
"Kue buatan Lyn tidak pernah gagal" Duke memuji kue buatan putrinya.
"Terimakasih ayah" Evelyna tersenyum.
Ya, sekitar tiga jam yang lalu Evelyna dibantu pelayan dan kedua kakaknya membuat sebuah kue yang cepat jadi.
Dan sekarang mereka bisa menikmati hasil karya mereka. Sebenarnya si kembar sedikit kesal karena ayahnya itu hanya membantu menghabiskan.
"Untungnya kakak membantu ku membuatnya, jadi lebih cepat selesai, begitupula dengan pelayan" Ujar Evelyna, ia sedikit menyipitkan matanya saat sebuah sinar yang sangat silau menerpa wajahnya.
"Hm" Duke hanya mengangguk dan mengunyah kue yang ada di dalam mulutnya.
Evelyna terkekeh melihat wajah kesal kedua kakaknya. Ia usap rambut tebal Eylan.
Entah shampo apa yang dipakai pria itu. Tangan Evelyna menjadi harum hanya karena mengusapnya.
"Aaaaaa" Eylon menyodorkan kepalanya, ia juga ingin diusap.
Dengan lembut Evelyna mengusap rambut biru itu. Eylon tersenyum puas. Ia menyentuh rambutnya yang diusap oleh adiknya.
Senyum tersungging di bibirnya.
"Lyn, apakah kau tidak ingin masuk ke akademi?"
Evelyna menatap ayahnya, "akademi?"
Duke mengangguk. "Oh benar. Lyn, selama ini kau belajar di kediaman, seharusnya orang seusia dirimu belajar di akademi" Eylon mengangguk setuju dengan ucapan kembarannya.
"Apakah kau tidak tertarik? Mungkin dengan masuk ke sebuah akademi dapat membantu mu untuk memiliki koneksi yang luas"
"Eum... Tapi menurutku, aku sudah pintar jadi tidak perlu masuk ke akademi"
"Sungguh?"
Evelyna mengangguk. "Yah, mungkin hanya perlu sedikit tambahan lagi dan aku akan menjadi seperti bangsawan yang lulus dari sebuah akademi"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
To reader:
Hai!! Berdasarkan syarat kontes, jumlah kata maks 20.000 tidak boleh lebih atau kurang. Dan ini udah pas 20.000 kata, so saya mau buat Season 2 nya.
Maaf ya, terimakasih atas dukungannya, Saya menghargai segala yang kalian beri, saya harap di S2 nanti kita bisa bertemu lagi, bye bye!
__ADS_1