
tok
tok
tok
Suara ketukan pintu yang tergesa-gesa mengusik tidur seorang gadis cantik. "Eunghh...masuk!" ujarnya sedikit berteriak.
Pintu terbuka, seorang pelayan yang bukan lain adalah Nia, memasuki kamar nona nya.
"Nona, bangunlah!" ujarnya sembari mengguncang tubuh Evelyna.
"apaaa?" sahut Evelyna.
"Nona bangunlah, tuan muda pertama sudah sampai!" Evelyna duduk dengan mata yang setengah terpejam.
"Nia, ini masih malam, tidurlah. Kakak tidak akan datang di tengah malam begini" ujar Evelyna.
"Saya tidak berbohong nona! Tuan muda Eylon sudah sampai!" Nia tanpa sadar berteriak.
Evelyna yang hendak tidur lagi, seketika terduduk. "Kau... Tidak bercanda?"
"Tidak nonaaa " Nia menggelengkan kepalanya.
Evelyna terbelalak, ia melompat dari kasurnya. Dibantu Nia, Evelyna bersiap secepat mungkin.
Ia berlari tergesa-gesa ke pintu utama kediaman. Sampai di sana, pintu besar itu masih tertutup rapat tidak ada tanda-tanda kehadiran seseorang di baliknya.
Evelyna melayangkan tatapan tajam ke pelayan nya. Nia sedikit bergetar, tatapan tajam nona nya, hampir sama dengan tatapan tajam Tuan Duke.
Sama sama menusuk, dingin, tajam, dan mengintimidasi. Sepertinya membuat Nona muda Velion marah bukanlah hal baik.
"Nia..." Suara yang terdengar sedikit serak itu menyapa gendang telinga Nia.
"Y-ya nona?" pupil mata Nia sedikit bergetar karena ketakutan.
"Kau...-"
""Lyn" ucapan Evelyna terpotong karena panggilan Duke.
"Ayah?" Nia menghela nafas lega.
"Kamu kesini untuk menyambut kakakmu, hm?" tanya Duke. Evelyna menatap ayahnya.
"Kakak sampai?" Duke mengangguk, di balik punggung Duke terdapat Nia yang tersenyum bangga. Sepertinya ia tidak jadi di marahi.
"Eh, tapikan-"
kriet
Lagi lagi ucapannya terpotong karena seseorang.
Evelyna membalik tubuhnya, menghadap pintu. Perlahan pintu besar itu terbuka seiringan dengan mata Evelyna yang berbinar serta degup jantungnya yang semakin cepat.
Derap langkah kaki terdengar, di belakang Duke puluhan pelayan dan pengawal mulai berjejer di sisi pintu.
Evelyna terkejut dan terkesima melihat kesigapan para pekerja kediaman Velion.
__ADS_1
Perlahan seorang pria bertubuh tegap dengan Surai biru Dongker mendekati hitam,muncul dari kegelapan malam.
Evelyna menahan nafasnya, sedangkan Duke hanya memperhatikan dengan wajah datarnya.
"Salam kepada Duke Velion dan Lady Evelyna Kaylin De Velion"
"KAKAKK!!" Suara cempreng itu menusuk ke telinga.
Pria yang disebut kakak oleh Evelyna itu merentangkan kedua tangannya. Evelyna melompat ke dekapan sang kakak.
Evelyna menduselkan wajahnya ke bahu lebar Eylon. Eylon mengusap punggung adiknya. Tak dapat dipungkiri bahwa hatinya merasa hangat dan berbunga-bunga.
Duke tersenyum tipis. Matanya berkaca-kaca, terakhir kali melihat Evelyna berada dekat dengan si sulung adalah enam tahun lalu. Sebelum Evelyna 'menjadi gila' dengan putra mahkota.
Pelayan dan pengawal juga ikut tersenyum melihat kedekatan si sulung dengan si bungsu. Apalagi saat Evelyna menarik tangan Eylon ke taman belakang, tempat pestanya diselenggarakan.
Sampai di taman belakang, Eylon tak berhenti terkesima, ini pertama kalinya kepulangannya di sambut seperti ini.
"Adikmu yang merancang semua ini" Eylon terkejut mendengarnya, sontak ia menatap adiknya yang sedang menata kue dan beberapa hidangan lain.
Eylon tersenyum, meskipun ia sering diabaikan oleh Evelyna tiga bulan yang lalu. Ia tetap menyayangi adik perempuannya.
Melihat adiknya dari belakang ia merasa sedang melihat ibunya. Surai perak se punggung itu sangat mirip dengan ibu tersayang.
"Kakak" Lamunan Eylon buyar saat Evelyna memanggilnya.
Kini Duke,Eylon, dan Evelyna duduk di meja bulat dengan kue berbentuk tabung dengan tinggi dua puluh sentimeter dan diameter lima belas sentimeter.
Terdapat tulisan ' Selamat datang kembali ke rumah, Eylon ' Eylon tertawa kecil melihatnya. Lantas ia menatap Evelyna yang menunduk dengan wajah dan telinga yang memerah.
"A-ayah yang menyuruh Lyn untuk menulisnya." ujar Evelyna.
"Siapa yang menyalahkan? Lyn hanya mengatakan kenyataan" Sanggah Evelyna. Memang benar kalau Duke lah yang menyuruh Evelyna untuk menuliskan kalimat itu di atas kuenya, tapi ia gengsi untuk mengakuinya.
"hahaha, baiklah tidak peduli siapa yang menulisnya, aku akan menerimanya" Ucap Eylon menengahi.
"oh Lyn"
"iya?"
"Terimakasih" Eylon menggenggam tangan Evelyna.
Duke dengan tatapan kesalnya, mengambil kedua tangan Evelyna dan menggenggamnya. Entah kenapa ia tidak suka ada yang menggenggam tangan mungil itu selain dirinya.
Eylon menatap sengit ayahnya. Tidak puaskah pria tua itu memonopoli si bungsu selama ia tidak ada di kediaman?
"Sama sama kakak" jawab Evelyna.
Karena pestanya diadakan malam hari, Evelyna mengganti hidangan nya dengan sup ayam, selain kue utama tentunya.
"Heh! Kalian berpesta tanpa mengajakku?!!" Teriak seseorang.
Atensi ketiganya beralih ke orang tersebut. Seorang pria berjubah maroon, bersurai perak serta bernetra kuning berkilau hampir seperti emas.
"Kak... Eylan?"
"wah wah jahat sekali kalian!" Yap, Eylan tak disangka anak kedua Duke Velion serta Mendiang Duchess Delia, sampai di kediaman di waktu yang sama.
__ADS_1
Eylan bersedekap dada, tampaknya ia sedang merajuk. Pipinya sedikit menggembung, serta bibirnya sedikit maju.
Evelyna tertawa gemas, Duke dan Eylon menyerngit jijik. Eylan berlagak sakit hati melihatnya.
"ayah jahat! kakak juga!" ujarnya.
"hiks tega sekali kalian, membuat pesta tanpa mengundang ku" Eylan mengusap air mata gaib nya.
Tawa Evelyna semakin keras, ia pikir kakak keduanya akan bersikap ketus karena membencinya. Tapi ternyata.
"Lyn, sudah cukup tertawanya" Duke memegang lengan Evelyna, supaya gadis itu berhenti tertawa.
" huh huh, maaf kak. Bukannya kami tidak mengundang mu, tapi kau yang tidak memberi tahu kalau akan pulang hari ini juga" ucap Evelyna.
"huh baiklah, akan kumaaf kan. Jadi sekarang, berikan sup itu padaku juga!" Mata Eylan berbinar, ia segera mencari kursi lain dan bergabung dengan keluarganya.
Evelyna meletakkan semangkuk sup panas, Eylan yang merasa lapar segera memakannya.
"menjijikkan "
"Jaga etika mu"
"pelan pelan saja kak, tidak akan ada yang mengambilnya darimu"
Dibandingkan ucapan ayah dan kakaknya, Eylan lebih menuruti kata adiknya. Duke dan Eylon menatap tajam Eylan.
"Apwa?" tanya Eylan saat pipinya masih setengah penuh dengan sup.
"Tidak" jawab keduanya.
Tiga puluh menit setelahnya. Duke,Eylon, dan Evelyna sedang berbincang ringan, sedangkan Eylan,ia baru saja selesai makan.
Eylan sudah menghabiskan lima mangkuk sup buatan adiknya. Perutnya bahkan sampai sedikit buncit.
"hoamm"
"lihatlah,kau seperti babi. Selesai makan langsung tidur" Eylan menatap Eylon dengan tajam.
"Lyn, lihat itu! Si badak ini mengataiku" adu Eylan.
Evelyna terkekeh, sepertinya kakak keduanya cukup mirip dengan ayahnya. Eylon yang di adukan, mendelik.
"huh dasar pengadu"
"biarin, daripada kau, dasar beruang kutub"
"Babi"
"beruang kutub"
"Babi"
"Beruang kutub"
"Dasar babi, gemuk, jelek, beban" Eylan mendelik.
"kau yang beban!" sanggah Eylan.
__ADS_1
"hah aku? Sadarlah babi, kau yang paling banyak makan dan tidur. Pekerjaan mu tidak lebih dari memantau perbatasan saja, berbeda denganku harus bertemu banyak orang, pergi kesana kemari dan melakukan banyak hal" Eylon bernafas, Duke terperangah melihat putra sulungnya berbicara sepanjang itu.