Menjadi Putri Duke?!

Menjadi Putri Duke?!
chap 20


__ADS_3

Bonus sebelum lanjut S2!!


Duke mengangguk, ia akui kalau putrinya ini sudah cukup pintar, bahkan beberapa hari yang lalu, gadis itu membantunya mengerjakan tugas seorang Duke.


"Baiklah, kalau begitu ayah akan carikan guru yang bagus untukmu"


"Eh? Apakan itu perlu?"


"Tentu saja! Bagaimanapun kau seorang bangsawan, kau berhak mendapatkan seorang guru yang terpilih untuk mengajari mu"


Seperti biasa, Eylon setuju dengan ucapan adik kembarnya.


"Baiklah kalau itu keputusan ayah dan kakak"


Duke dan kembar tersenyum. Bagi mereka, Evelyna cukup berbeda dengan lady bangsawan lainnya.


Kalau mereka lebih suka menghamburkan uang dan memamerkan segala yang mereka punya, Evelyna lebih suka berbaur dengan siapapun dan berpenampilan sederhana.


Lady bangsawan bisa memiliki berkotak kotak perhiasan. Tapi Evelyna hanya memiliki dua kotak, itupun kotak kecil.


Sudah belasan bahkan puluhan kali tiga pria itu menyuruh si gadis cantik untuk membeli sesuatu dalam jumlah besar, tapi Evelyna selalu menolak.


"Daripada dihamburkan,lebih baik disimpan. Jadi kalau butuh dana darurat, kita bisa mendapatkannya"


Kalimat itu selalu menjadi alasannya.


"Lyn, apa kau tertarik untuk menjadi seorang Duchess?" Tanya Duke.


Si kembar sontak terkejut, "ayah! Lyn adalah putrimu!" Eylan mengangguk.


"Pernikahan antara ayah dan anak itu tabu! Ayah tidak boleh melakukannya!" Eylan menutupi Evelyna dengan tubuhnya.


"Kalian ini kenapa?" Duke tetap tenang meskipun perasaan kelas terukir di hatinya.


"Ay-"


"Memangnya siapa yang ingin menikahi Evelyna?!"


Jleb


Sesuatu terasa menusuk hatinya saat kalimat itu terdengar. Kalau di sebuah komik, mungkin sebuah panah sudah menembus dada kirinya.


"Eh?" Dua pria berbeda usia itu mendadak linglung.


"Maksudku, kalau Lyn tertarik menjadi seorang Duchess, ayah akan carikan Duke dari wilayah lain untuk menjadi suaminya" Duke menjelaskan dengan wajah kesalnya.


"Ohhh" bibir seksi itu membentuk O

__ADS_1


"Jadi?"


"Uhm.... Untuk saat ini,tidak. Tapi ayah tenang saja, Lyn pasti akan menikah suatu saat nanti" Evelyna tersenyum menenangkan.


Sruutt


"Iuh"


Eylan mengutarakan rasa jijiknya saat kakak kembarnya itu menyedot kembali ingusnya.


"Tak ku sangka, Lyn yang dulu hanya bisa menangis dan merengek, sekarang sudah bisa berucap layaknya orang dewasa" Eylon mengusap sudut matanya yang berair.


"Ehh.... T-terimakasih" Evelyna menggaruk pipinya menggunakan telunjuknya.


"Baiklah, sudah ayah putuskan. Lyn, kau akan memulai kegiatan pembelajaran mu satu Minggu lagi. Ayah tidak akan merecoki mu dengan pria Duke dari wilayah lain"


"Haha, terimakasih ayah"


Wuss


Angin bertiup. Evelyna mengeratkan mantelnya.


"Hatchim" Eylan bersin.


"Uhh.... Sebaiknya kita masuk sekarang" Evelyna berdiri diikuti oleh tiga pria kesayangannya.


"Huh,aku kan tidak mengira kalau akan sedingin ini. Lagipula suhu kemarin tidak serendah ini" balas Eylan.


"Sudahlah, yang penting kita tidak sakit nantinya" ujar Evelyna menengahi.


"Oh ya, Baroness Fileta akan menemuimu lusa" Evelyna mengangguk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Silahkan anda lihat" Baroness Fileta menerima kertas yang disodorkan Evelyna.


Maniknya mengamati gambar yang ada di kertas itu dengan teliti. Tak lama kemudian ia tersenyum.


"Ini sangat indah, nona"


"Haha, terimakasih" Evelyna menutup mulutnya menggunakan telunjuknya.


"Jadi... Butuh berapa lama untuk membuatnya?"


"Kemungkinan empat belas hari" Evelyna mengangguk.


"Tapi kalau semisal ada sedikit kesalahan atau kekacauan mungkin sekitar delapan belas hari"

__ADS_1


"Tidak masalah"


"Musim dingin akan segera tiba, saya akan selesaikan secepatnya"


"Tidak perlu terburu-buru"


"Baik. Kalau begitu saya pamit"


"Ah ya"


Baroness Fileta meninggalkan wilayah Duke Velion. Ia merasa senang karena bisa bertemu dengan salah satu keturunan seseorang yang sangat ditakuti.


Biasanya kalau Duke Velion ingin membuat sebuah baju, pria itu akan mengirim surat berisi spesifikasi bajunya.


Ia akui, saat mendapat surat pertemuan, ia terkejut, apalagi itu langsung dari Duke Velion.


Ia bersiap dengan cepat karena tidak ingin, Duke Velion menunggu dan kesal.


Sampai di kediaman Duke Velion, Baroness Fileta lebih terkejut lagi. Ternyata, yang ingin menemuinya adalah putri bungsu Duke Velion. Bukan sang Duke.


Ia merasa lega. Evelyna tidak seperti kakak dan ayahnya yang kejam dan mengintimidasi.


Gadis itu murah senyum dan baik hati, jangan lupakan nada bicaranya yang halus dan lembut.


Lagi lagi sebuah senyum tersungging di wajahnya. Sungguh, ia tidak masalah kalau akan mati sekarang. Karena rasa penasarannya terhadap Si Bungsu Velion sudah menghilang.


Baroness Fileta menatap kembali design yang unik menurutnya. Sebuah baju yang selutut, yang tebal dan berbulu di bagian penutup kepalanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


spill :


"AAAAAA"


"LYN!"


"EVELYNA!"


*Wuss


Hap


Brugh*


"Aws"


"kau baik-baik saja?"

__ADS_1


"eh?"


__ADS_2