Menjadi Putri Duke?!

Menjadi Putri Duke?!
chap 9


__ADS_3

Evelyna memasuki sebuah toko ber- plang ' toko perlengkapan roti terlengkap '. Baru sampai di pintu, aroma kue memasuki Indra penciumannya.


seluruh pengunjung sontak menatap Evelyna mulai memasuki toko. Mereka membungkuk dan memberi salam secara bersamaan.


"SALAM UNTUK CAHAYA VELION!" kalimat itu menggelegar ke penjuru toko.


Evelyna terkejut, jantungnya berdebar kencang. Dua pelayan Yeng ikut bersamanya tak kalah terkejutnya.


Evelyna memasang wajah bingung, "A-ah, Terimakasih" ucapnya.


Kemudian menghampiri salah satu rak yang ada disana. Orang yang berada di sekitar rak itu, menyingkir dari situ.


Evelyna menyadari kalau semua orang disini takut padanya. Mungkin karena Evelyna yang asli dulunya adalah orang yang suka menindas, mengingat sikap dan sifatnya.


"Aku tidak memakan kalian kok, tidak perlu takut" Nia dan temannya mengangguk.


"Nona selalu bersikap baik sekarang, bahkan Nona mau makan bersama pelayan di dapur" ujar Nia yang diangguki temannya.


Mereka yang mendengarnya tentu saja terkejut dan terheran-heran. Seorang gadis jahat yang taunya menindas, mengucapkan kata yang menyakitkan, bahkan tak segan-segan membuat seseorang tiada. Tiba-tiba bersikap baik? Bahkan pelayan yang selalu disakitinya membelanya sekarang.


Orang dan karyawan disana mencoba untuk lebih santai, tapi tetap saja mereka takut kalau Evelyna akan mengamuk tiba tiba.


"Nia, bisakah kau Carikan ini?" Evelyna memberikan selembar kertas pada pelayan pribadinya.


"Baik nona" Nia segera mencari bahan bahan roti yang tertulis di kertas itu, sesekali bertanya pada karyawan.


"Hei kau" Evelyna menatap pelayan satunya.


"ya nona?" sahut pelayan itu.


"siapa nama mu?"


"Nama saya Joey, nona"


"Baiklah. Joey, tolong carikan hiasan kue yang cantik" ujar Evelyna.


"Baik nona" Joey hendak pergi namun berbalik.


"Kalau saya pergi, bagaimana dengan nona?" Joey takut Nonanya mengalami sesuatu saat ia tinggal nanti.


Evelyna menggeleng, "Aku tidak apa apa Joey, pergilah waktu kita tidak banyak" Joey menghela nafas, ia mengangguk kemudian pergi mencari hiasan kue.


Saat Evelyna sedang memilih sprinkle untuk taburan kue nya, tiba tiba seseorang menabraknya.


*Bruk


Akh*


Evelyna sedikit terhuyung, untungnya ia tidak terjatuh. Evelyna menolehkan kepalanya, menatap orang yang menabraknya.

__ADS_1


Dahinya berkerut, saat gadis yang menabraknya hanya duduk sembari menunduk.


Sekelebat ingatan terlintas dibenaknya, orang ini, Evelyna tersenyum tipis. Rupanya dia protagonis nya ya, ugh menjijikkan, sebagai korban penindasan saat dikehidupan sebelumnya, Evelyna menahan seluruh perasaannya termasuk perasaan marah,dan kesal.


"hiks hiks hiks"


Ah,sudah dimulai ternyata, batinnya.


"Ma-maaf kan saya lady, Sa-saya tidak sengaja" ucap gadis itu yang semakin menundukkan kepalanya.


Rakyat dan karyawan yang melihatnya merasa iba pada gadis itu. Lady Ellen, anak tunggal dari keluarga Viscount Dario. Karena ia anak tunggal, ia selalu dimanjakan oleh orangtuanya. Ellen tumbuh menjadi gadis manja dan lemah, meski begitu Ellen dikenal sebagai malaikat Astlanta, karena sikap lemah lembutnya dan sabar.


Evelyna semakin mengerutkan keningnya, "Astaga nona!" teriak seseorang. Muncullah Nia dan Joey dari kerumunan.


"Nona anda tidak apa apa?"


"Apakah ada yang terluka?"


"Apa yang gadis itu lakukan terhadap anda?"


"apa kami perlu memukulnya?Atau menyeretnya kepada Tuan Duke Velion?" Tanya Nia dan Joey beruntun.


Evelyna menggeleng pelan saat kepalanya terasa sakit karena hujaman pertanyaan itu. "Tidaak, aku tidak apa apa" Evelyna menutup mulut kedua pelayannya menggunakan tangannya.


"Diamlah, kalian membuatku pusing" Nia dan Joey terkesiap. Sontak mereka mengangguk, jangan sampai nona nya marah, karena kepala merekalah jaminannya.


"Apakah terjatuh membuatmu kehilangan kaki mu?" Mereka yang mendengarnya terkejut begitu juga gadis itu.


"t-tidak" jawabnya tergagap.


"Kalau begitu kenapa tidak berdiri? masih punya kaki kan? atau kau menunggu seseorang untuk membantumu?" tanya Joey beruntun.


"Sadarlah nona, tidak akan ada yang membantumu selain dirimu sendiri disini" ucapan menusuk itu berasal dari Nia.


Evelyna merasa heran dengan dua pelayan nya, biasanya seorang lady akan bertengkar dengan lady lain yang mencari perkara. Bukan lady dengan pelayan.


Gadis yang tadi terduduk mulai berdiri. Tapi kepalanya masih menunduk. Isak tangis mulai terdengar,lagi.


"S-saya sungguh minta maaf nona, saya tidak sengaja hiks" ucap Ellen sambil berderai air mata.


Tiba-tiba Ellen menjatuhkan dirinya, bersujud. "Tolong jangan hukum saya, saya akan mem-"


"Memangnya siapa yang ingin menghukum mu?" Ayolah gadis itu membuatnya menjadi penjahat disini. Padahal yang menabrak duluan,gadis itu.


Ellen sedikit tersentak, "kalau kalian mengira bahwa aku tidak tahu diri karena tidak meminta maaf, itu terserah pada kalian. Yang pasti, aku tidak bersalah disini, dialah yang menabrak ku duluan." Evelyna berucap lantang.


"Heum, Nona tidak mungkin menabraknya" ucap Joey.


"Darimana kau tau kalau nona mu tidak bersalah?" ucap salah satu dari pengunjung di toko itu.

__ADS_1


"Hei, mata mu buta? Sejak tadi nona Eve berdiri disini. Kalau memang nona yang menabraknya, setidaknya beberapa meter dari sini kejadian itu" jawab Nia sedikit sarkas.


Orang yang mendapat jawaban itu, sedikit ciut. Tidak hanya Majikannya, bahkan pelayannya juga kejam.


Tak sedikit orang yang berpikir bahwa Evelyna sudah berubah, terlihat dari caranya menyikapi orang yang mengusiknya.


Ellen yang mendengarnya, diam diam mengepalkan tangannya. Matanya menatap Evelyna, sedangkan yang ditatap mengembalikan atensinya untuk memilah sprinkle.


Evelyna melirik gadis yang sedang menatapnya tajam, huh, seperti di novel fantasi lainnya. Si protagonis hanya berpura pura bersikap baik, ujung ujung juga di penggal karena kebusukannya terungkap, batinnya.


Apa apaan gadis ini, beraninya dia menatap Nona ku seperti itu, batin Nia.


"Heh! Jaga mata mu itu, jangan sampai ku lempar lilin ini ke matamu" ancam Nia.


Joey dan Nia menatap tajam Ellen, Ellen menundukkan kepalanya lagi. Tangannya semakin terkepal kuat.


sialan! Batin Ellen.


"Baiklah, sudah cukup ributnya. Aku sudah menemukan yang ku butuhkan" Evelyna dan dua pelayannya keluar dari toko setelah membayar.


Ellen yang mendapat tatapan mencemooh dari pengunjung segera pergi dari sana. Kali ini akan ku biarkan kau menang Eve, tapi selanjutnya tidak akan pernah! Batinnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nia, tolong ambilkan itu"


"Joey, tolong aduk ini"


"Koki, dimana gulanya?"


"Joey, jangan sampai tumpah!"


Evelyna,pelayan, dan beberapa koki kediaman, sibuk membuat percobaan. Sampai mereka tidak sadar bahwa Duke Velion memperhatikan mereka sejak tadi, terutama putrinya.


Saat Evelyna membalik tubuhnya, terpampang lah wajah bertepung, tapi tetap cantik.


"Ayah!" teriaknya.


Seketika para pekerja menghentikan gerakannya, dengan kaku mereka berbalik menghadap majikannya.


"S-salam tuan Duke!" ucap mereka serentak.


"Hm" jawab Duke.


Duke berjalan mendekati putrinya, tangan kekarnya membersihkan wajah Evelyna dari tepung yang menempel.


"Sepertinya kau sangat senang ya?" tanya Duke, Evelyna tersenyum lebar.


"Tentu saja, Lyn akan buat pesta ini menjadi pesta yang akan selalu di ingat oleh ayah maupun kakak" ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2