Menjadi Putri Duke?!

Menjadi Putri Duke?!
Chap 5


__ADS_3

Putra mahkota memandang punggung Evelyna yang semakin mengecil dan menghilang.


'Dasar berlebihan. Apa dia bilang menyukai nya? Cih! tidak Sudi' batinnya sembari berjalan menuju ruang kaisar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terlalu sedih, dan berjalan menunduk Evelyna berhenti di dekat sebuah danau yang masih berada di area istana kekaisaran.


Evelyna berjongkok di pinggir danau. Menatap pantulan wajahnya. Mata biru indah, hidung mancung, bibir ranum, serta pipinya yang sedikit berisi.


Evelyna merasa bahwa dirinya sudah cukup pantas untuk bersanding dengan putra mahkota, tapi kenapa... Kenapa pria yang di cintainya itu selalu menolak dirinya?


Bahkan surat lamaran yang ia kirimkan juga tak pernah di balas sama sekali. Evelyna semakin terlarut dalam kesedihannya.


Hingga tiba-tiba ada yang mendorongnya,


BYUR


Evelyna berusaha untuk berenang ke tepian, tapi gaun beratnya semakin berat saat air terserap ke dalam kain gaun tersebut.


Evelyna tidak dapat menahan berat tubuhnya lagi, perlahan tubuh itu semakin masuk kedalam danau.


Sebelum kegelapan menghampirinya, sepasang mata berwarna violet tertangkap dan terekam di otaknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Meskipun kejadian tersebut tidak sampai satu jam, tetapi berhasil membuat gadis bungsu keluarga Velion tertidur panjang.


Sejak kejadian itu, Duke Velion tidak mengizinkan siapapun untuk mendekati putrinya kecuali pelayan yang mengurus putrinya.


Selama Evelyna tidak sadarkan diri, Duke Velion terus mencari siapa pelaku yang membuat si bungsu tenggelam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah selesai bersiap, Evelyna menghampiri ayahnya ke ruang makan.


"Selamat pagi ayah" siapanya dengan senyum manis.


Duke Velion tertegun, ia melihat sosok istrinya saat melihat senyum putrinya. "ayah?" panggil gadis cantik didepannya.


Duke Velion tersadar, entah kenapa ia merasa gugup. Duke Velion berdehem menetralisir rasa gugup dihatinya.


Sarapan dimulai, hanya ada suara dentingan sendok dengan piring. Sesekali Duke Velion menatap putrinya.


Tak dapat dipungkiri bahwa hatinya sangat senang bis sarapan bersama anak bungsunya. Selama ini Evelyna selalu pergi ke istana dan melewatkan sarapannya


" Eve..." Panggil Duke, Evelyna menoleh.


"ya ayah?"


"apakah kau akan pergi ke istana hari ini?" tanya Duke Velion.

__ADS_1


Evelyna tampak berpikir sejenak, biasanya pemeran utama yang selalu dikejar oleh antagonis wanita, akan merasa muak dan membunuh wanita tersebut. Sebaiknya aku mulai menjauhi pria itu, batinnya.


Evelyna menggeleng, "tidak ayah. Saya ingin berjalan jalan saja di sekitar kediaman" ucapnya sambil tersenyum.


Duke Velion terkejut, tadak seperti biasanya Evelyna tidak akan mengunjungi istana. Tapi disisi lain Duke merasa semakin senang, mungkin ia bisa menghabiskan waktunya bersama putrinya untuk hari ini.


"Bagaimana kalau ayah menemani mu berkeliling?" tawar si pria duda tampan.


" Tentu, kenapa tidak?" Evelyna merasa tubuh yang ia tempati memiliki dinding pembatas dengan sang ayah.


Sehingga menerima tawaran ayahnya bukanlah hal buruk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Evelyna dan Duke Velion berada di lorong lantai dua. kediaman Duke Velion memiliki tiga lantai dengan puncak kediaman atau biasa disebut rooftoop.


Di lantai satu terdapat ruang tamu, ruang makan, dapur, perpustakaan kediaman, dan ruang kerja Duke.


sedangkan di lantai dua terdapat kamar Duke, kamar Evelyna, kamar kedua kakaknya, dan beberapa kamar kosong.


Dan di lantai tiga terdapat ruang senyap, gudang, dan ruang kosong atau tidak terpakai. Terakhir, puncak kediaman, sebuah tempat luas yang memperlihatkan pemandangan wilayah Duchy, dan pemandangan langit yang indah.


Kediaman Duke Velion, juga memiliki arena latihan, arena pertandingan, taman bunga di bagian depan, taman belakang, kolam ikan berbentuk lingkaran dengan diameter kurang lebih seratus enam puluh sentimeter.


Kini Duke Velion dan Evelyna berada di taman belakang. Sejak tadi Duke Velion tidak berhenti mengoceh, menjelaskan tentang tempat yang mereka datangi.


Sesekali Evelyna menimpali ucapan Duke. Evelyna membatin, padahal dia memiliki ayah yang sayang padanya dan kedua kakak yang pasti tak kalah tampan dengan ayah. Tapi bodoh sekali dia, mengabaikan semua itu dan malah mengejar pria yang bahkan tidak menganggapnya.


"Eve..." Evelyna menoleh tak lupa senyum manisnya.


"ya ayah?" sahutnya.


"Sebentar lagi kakak pertamamu akan pulang, mungkin sekitar dua Minggu lagi." Evelyna mengangguk mendengar penuturan ayahnya.


"dua Minggu ya..." gumamnya.


"Ehm... Ayah ingin mengadakan sebuah acara penyambutan untuk nya, maukah kau..... Mengaturnya?" Duke Velion sedikit ragu di akhir ucapannya.


Pasalnya putrinya ini bukanlah orang yang mau repot-repot memikirkan hal seperti itu. Bahkan gadis itu lebih memilih untuk menghampiri pria pujaan hatinya, putra mahkota.


"Mengatur acara penyambutan untuk kak Eylon?" Duke sedikt tersentak saat mendengar Evelyna menyebut si sulung menggunakan kata 'kak'.


Duke mengangguk kecil, ia tak terlalu berharap, tapi....


"baiklah, ayah ingin konsep acaranya seperti apa?" lagi lagi hati Duke Velion dibuat menghangat oleh perlakuan putrinya.


"kau.... Sungguh?" Evelyna mengangguk, menurutnya, mungkin acara penyambutan tersebut bisa membantu nya untuk lebih dekat dengan kakaknya.


"ayah ingin konsepnya seperti apa, Lyn akan berusaha membuat acaranya seperti keinginan ayah" ucap Evelyna sambil tersenyum.


"Lyn?" Cengo Duke.

__ADS_1


"Mhm, Lyn. Selama ini Lyn selalu mengabaikan ayah dan kakak. Tapi sekarang tidak lagi, Lyn akan selalu bersama ayah dan kakak, jadi mungkin membuat panggilan khusus tidak masalah....Kan?" Evelyna mengecilkan suaranya di akhir kalimatnya.


Duke tersenyum lebar, dan mengangguk senang. "Tentu saja, justru itu bagus. Lyn... panggilan yang indah" Binar terang muncul di mata biru tajam itu.


Evelyna terkekeh geli. Ayahnya terlihat seperti anak kecil.


"baiklah ayah ingin acaranya tidak besar,megah ataupun mewah"


"hum... Acaranya hanya untuk kita bertiga? Atau-"


"he'em, hanya untuk kita bertiga"


"baiklah, kalau begitu bagaimana kalau......."


Setelah berdiskusi dengan ayahnya, terciptalah sebuah konsep acara yang disetujui oleh keduanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sebuah ruang luas, terdapat seorang pria berpakaian formal. Setumpuk kertas yang entah apa isinya.


Putra mahkota membaca dan mencoret kertas dokumen itu menggunakan tinta hitam.


Sesekali tangannya berhenti bergerak saat ada yang ia pikirkan salah satunya adalah kemana gadis berisik yang selalu mengganggunya (?).


sudah dua hari gadis itu tak terlihat setelah berita kesadaran gadis itu terdengar ke telinganya.


Apakah otaknya sudah berubah menjadi lebih berotak? Pikirnya.


tok


tok


tok.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.


"masuk"


Terlihatlah seorang pria berpakaian putih menghampirinya. "Yang mulia putra mahkota, Anda diminta untuk menghadap yang mulia kaisar sekarang." ucap pria itu.


Putra mahkota mengangguk, lalu melenggang pergi dari sana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari sudah mulai sore, di sebuah ruangan dengan meja panjang yang membentang, serta puluhan lilin yang menempel di dinding ruangan.


Terdapat seorang pria dan gadis cantik tengah menunggu tibanya waktu makan malam sembari mengobrol ringan, sesekali mereka berdua tertawa.


Tak


Suara piring yang di letakkan ke atas meja tersebut membuat dua orang itu berhenti mengobrol dan mulai memakan makanan yang ada di depannya.

__ADS_1


__ADS_2