Milenial

Milenial
P r o l o g


__ADS_3

"Hah... hah... hah..." seorang wanita tengah berlari dengan baju compang-camping yang terlihat kumal.


"Pergi!! jangan tangkap aku!! aku tak mau jadi tumbal ritual sesat kalian!!" wanita itu masih berlari dengan kaki yang sedikit pincang. Ia tak tahu harus pergi kemana sebab yang ada di sekitarnya hanyalah pepohonan saja.


"Ini adalah kesempatan emas mu untuk berkorban, kebangkitan sang Vali akan membawa mu menuju dunia yang lebih baik."


"Mati saja kau dasar penyembah iblis!!" wanita itu terus berlari di sepanjang hutan. Sebenarnya dia tahu bahwa mungkin hidupnya akan berakhir hari itu juga, karena memang kakinya sudah terasa lemas akibat berlarian tanpa henti sejak di kejar oleh pria itu.


Namun ia tatap berusaha yang terbaik untuk menyelamatkan hidupnya, ia berharap akan ada sebuah keajaiban yang datang untuk menolongnya.


"Kau tak kan hidup bahagia jika terus melanjutkan ritual sesat mu itu!! jangan salahkan siapapun bila kau sendiri yang akan di jadikan tumbal oleh iblis itu," Wanita itu berhenti, membalikan badannya ke arah pria paruh baya yang sudah siap dengan pisaunya. Ia mencoba menyadarkan pria itu, namun sepertinya dia sudah di buta kan oleh pengaruh iblis.


"Sang Vali akan mengingat jasa mu, jadi menyerah saja dan serahkan dirimu pada ku, kau akan mati dengan tenang serta mendapatkan restu dari Sang Vali."


"Tutup mulutmu!! jika memang dia hebat, kenapa harus meminta bantuan dari manusia lemah seperti kita?!"


"Sang Vali ingin melihat bagaimana kesetiaan pengikutnya pada dirinya, ia akan menjadikan ku orang suci karena telah membangkitkan nya. Dan kau juga akan selalu di kenang oleh Sang Vali sebagai pengikutnya yang telah di restui," Pria itu masih kokoh dengan kepercayaan, ia berusaha meyakinkan wanita itu agar berhenti untuk melawan dan menyerahkan dirinya.


"Bahkan jika aku mati hati ini!! aku takkan sudi jadi tumbal ritual sesat kalian!!"


"Tutup mulut mu wanita kotor!! jangan coba buat sang Vali murka," Bentak pria itu.


"Sang Vali? hah! dimana dia? bahkan untuk muncul pun dia tak memiliki kemampuan. Sungguh sangat di sayangkan bila kau harus tunduk pada sosok rendahan sepertinya," Wanita itu sudah tak kuasa lagi untuk terus berlari, yang bisa di lakukannya sekarang hanya menunggu ajal yang sebentar lagi akan tiba.


"Tunjukan diri mu iblis sialan...!!" bentak wanita itu ke arah langit-langit seolah menantang.


"J*lang...!!" Pria paruh baya itu langsung berlari dan menusukan pisau yang ada di tangannya ke leher wanita itu, menariknya sekuat tenaga hingga kepalanya terlepas dari tubuhnya.


Benda itu menggelinding di tanah dengan keadaan mata yang masih terbuka lebar, sungguh membuat siapapun takut saat melihat.


"Terimalah sembah sujud ku ini sang Vali, aku membawakan mu persembahkan kepala wanita perawan yang kau inginkan," Pria itu bersujud memuja langit sambil mengangkat kepala wanita itu setinggi mungkin.


****


1 TAHUN KEMUDIAN


"Eh temen-temen, kalian mau liburan kemana nih? udah pada ada rencana belum?" tanya seorang wanita kepada teman-temannya.

__ADS_1


"Belum sih, kamu sendiri gimana?" tanya balik wanita itu.


"Jeni! Lisa! Mita! Bella! apa lagi yang kalian tunggu di sini? kalian gak dengar suara bel masuk?!" teriak seorang wanita pada mereka.


"Ehh Bu Merry, ki - kita baru mau masuk bu," Jeni langsung berlari menuju kelas meninggalkan teman-temannya.


"Eee... permisi bu," Mita berbicara dengan gugup sambil membalikkan badannya, ia berjalan menuju kelas sambil sedikit mempercepat langkahnya.


Lalu di ikuti juga oleh kedua temannya dari belakang, mereka bertiga tampak melangkah setengah berlari menuju kelas.


Setelah sampai di kelas. Mita, Lisa dan Bella menghampiri tempat duduk Jeni dengan wajah yang sudah hampir meledek menahan emosi. Namun, Jeni hanya melemparkan senyum kemenangan miliknya, dan itu juga berhasil membuat mereka bertiga bertambah murka.


"Jeni...!!" Teriak ketiga wanita itu.


"Apalagi sih kalian ini, tadi masuk kelas terlambat. Sekarang, malah teriak-teriak di dalam kelas, Mau kalian itu apa sih? kalian gak suka ibu ngajar di kelas ini?" ketus ibu Merry yang baru saja masuk ke dalam kelas.


"Aduh, salah paham pula ibu Merry kan jadinya... ini semua gara-gara kamu nih Jen," Mita menyalahkan semua masalahnya kepada Jeni, namun ia menggunakan suara kecil agar tak terdengar oleh ibu Merry.


"Sekarang juga, kalian bertiga ibu hukum berdiri di tiang bendera sampai pelajaran ibu selesai. Sama wali kelas sendiri aja kalian gak bisa jaga sikap! apa lagi kalau ada guru lain yang ngajar di kelas, bisa malu ibu di buat kalian!"


Pelajaran ibu Merry hari itu adalah pelajaran terakhir, dan pelajarannya akan berlangsung sampai bel pulang sekolah tiba. Setelah itu ibu Merry mulai menjelaskan pelajarannya kepada para anak-anak yang ada di dalam kelasnya.


"Oke, baiklah anak-anak. Sampai disini dulu pembahasan materi kita hari ini, dan jangan lupa mengerjakan tugas liburan yang sudah ibu berikan kepada kalian, ibu gak mau dengar ada alasan ini itu ini itu pokoknya kalian masuk sekolah, tugas juga harus di kumpul," Ibu Merry berbicara kepada semua murid yang ada di dalam kelas.


"Baik bu..." Jawab serentak dari para murid.


Teng!! teng!! teng!!


"Nah, bel pulang sudah berbunyi. Kalian boleh pulang dan jangan berkeliaran sebelum sampai di rumah terlebih dahulu."


Para siswa maupun siswi mulai bersalaman dengan Ibu Merry dan bersiap untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.


Jeni berjalan menuju tiang bendera, terlihat ketiga teman-temannya itu sudah terduduk lemas tak berdaya, ia bahkan menertawakan mereka di dalam hati karena melihat kesialan teman-temannya itu.


"Nih minum," Jeni memberikan botol minumnya.


"Gak usah sok peduli Jen!" Mita mengambil botol minum itu, namun ia melemparkan tatapan kesal pada Jeni.

__ADS_1


"Ya ampun Mita... itu kan bukan sepenuhnya salah ku, Lagian kalian sendiri sih ke bawa emosi..." Jeni berusaha menahan tawanya di dalam hati.


Ketiga temannya itu tak membalas ucapan Jeni, mereka semua hanya menatapnya dengan tatapan dingin yang berhasil membuat dirinya merasa tak nyaman.


"Iya deh aku minta maaf, jangan marah dong," Jeni mencoba untuk menarik simpati teman-temannya.


"Hah.... mangkanya jangan di ulangi lagi, kita kan sahabatan jadi susah senang harus di lewati bersama dong," Bella menghela nafas panjang, ia mencoba mencairkan suasana.


"Bener tuh kata Bella."


Wajah Lisa masih kurang baik, namun dengan dirinya merespon ucapan Bella, menandakan ia sudah tak mempermasalahkan itu lagi.


"Pelukan dong..." Pinta Jeni dengan manja, setelah itu mereka berempat saling berpelukan satu sama lain, lalu melepaskan pelukan dengan senyum untuk menghilangkan ketidak nyamanan yang terjadi.


"Eh, kalian mau ikut kumpul-kumpul gak?" tanya seorang pria yang baru saja datang bersama dengan kedua temannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JENI``



\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Instagram : Tuanzero_Tz


Halo teman-teman semua, salam kenal dari Tuan... Tuan harap kalian semua menikmati pengalaman membaca novel ini.


Berikan komentar kalian di setiap episode agar saya bisa tahu bagaimana tanggapan kalian tentang episodenya.


LIKE and VOTEnya jangan sampai ketinggalan ya... ( Biar semangat Tuan terus membara kayak cinta ku padamu:v hahaha )


Jangan lupa juga klik Love di bawah agar kalian tidak ketinggalan setiap Update terbaru dari "IBLIS TANAH KUTUKAN"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


SaLaMnOlNoL (⌐■-■)

__ADS_1


__ADS_2