
Lisa terkejut saat tiba-tiba ada sesuatu yang memegang pundaknya, sontak ia langsung berteriak ketakutan karena hal tersebut. " Kamu kenapa sih Lis!?" Tanya seseorang dari arah belakang.
Lisa baru sadar jika itu bukanlah orang jahat atau seperti yang dipikirkannya, dan suara itu terdengar sangat familiar. Akhirnya dia membelokkan badannya untuk melihat orang Yang baru saja menepuk pundaknya, ternyata dia adalah temannya sendiri.
" Kamu ngagetin aku aja Ra, kok kalian bisa ada di sini?" Tanya Lisa saat mendapati bahwa orang yang menepuknya adalah Cakra.
" Yang seharusnya itu aku, Kamu ngapain di sini? ini udah jauh dari Villa nomor 1. Sekarang udah di ..." Cakra mencoba melihat sekelilingnya untuk mengetahui nomor Villa tempat mereka berada saat ini.
" Nah, kita ada di Villa nomor 11. Kamu ngapain sampai ke sini Lis?" Cakra kembali bertanya.
" Pokoknya ceritanya panjang, dan kalian sendiri mau ke mana?" Lisa balik bertanya kepada Cakra.
" Kami mau ke tempat kalian, sekalian jogging ke sana. Mobilnya Fajar masih di Villa kami, soalnya Galih nggak ikut entar ya nganterin katanya." Jawab Cakra.
" Kenapa gak ikut kalian? dia belum bangun tidur?" Tanya Lisa.
" Gak tahu, ada urusan bentar katanya. Dia udah bangun kok dari pagi, mungkin masalah perut hahaha ..." Canda Cakra dengan penjelasannya.
" Ya udah yuk, kita pergi dari sini. Nanti aku jelasin kalau udah sampai di villa, ada kejadian aneh yang terjadi sama Fajar, Dan kalian bisa lihat sendiri bercak merah yang ada di sepanjang jalan." Teman-teman Lisa sontak melihat apa yang dia dimaksudnya. Dan muncul ekspresi keheranan sekaligus bingung, karena mereka tak mengerti apa yang ada di jalan itu.
" Itu darah Fajar ..." Ujar Lisa dengan nada rendah, teman-teman langsung mengeluarkan ekspresi terkejut bahkan sampai melotot karena kaget.
" Kamu serius Lis!?" Tanya Bella dengan nada yang sedikit keras.
" Kamu jangan main-main dong, gak lucu tahu." Ujar Mita yang masih tak percaya.
__ADS_1
" Aku serius ... lebih baik kita cepat ke Villa, nanti aku jelasin di sana." Teman-temannya tak ada yang merespon, tapi Lisa tahu kalau mereka tak menolak ajakannya. Setelah itu mereka semua mulai beranjak dari jalan tersebut.
Jarak setiap Villa ke Villa lainnya memang cukup jauh. Jadi jika menempuh dengan kecepatan santai memerlukan waktu yang cukup lama, kurang lebih 50 m untuk setiap Villa.
Kini mereka berada di depan Villa nomor 11, jadi ... jika ingin kembali ke Villa nomor 1, mereka harus menempuh jarak kurang lebih 500 meter untuk sampai ke sana.
" Oh iya, kalian kenapa jogging jam segini? ini udah lumayan siang tahu." Ujar Lisa bertanya.
" Hahaha, gak papa kok. Cuma ada beberapa kerusuhan kecil tadi pagi ..." Jawab Cakra sambil tetap berjalan.
Mita dan Bella hanya tertawa kecil, itu membuat Lisa semakin kebingungan. Mereka sama sekali tidak memberitahukan kepadanya, tentang hal yang membuat mereka tertawa, Lisa hanya bisa menatap dengan kebingungan sebab tak tahu apa yang telah terjadi.
" Eh itu sepeda siapa? kayaknya kenal deh." Bella sedikit kebingungan saat melihat ada sepeda yang terparkir pinggir jalan.
" Udah nanti aja aku jelasin, kamu bawa tuh sepedanya Ra." Balas Lisa menanggapi temannya yang kebingungan, tanpa banyak bertanya Cakra langsung mengambil sepeda itu dan membawa di sampingnya, begitu bola dengan massa dari tadi membawa sepedanya tanpa menaikinya.
Bella melirik ke arah kakinya dan dia masih agak sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Lisa, di sepanjang jalan ada beberapa tetes darah. Jadi jika itu memang benar darah Fajar berarti pria itu sekarang sedang kehabisan darah dan terbujur lemah.
" Lis, Fajar sekarang gimana? gak sadarkan diri atau masih baik-baik aja?" Tanya Bella dan membuat langkah kaki mereka terhenti.
" Dia sih udah gak sadarkan diri ..." Jawab Lisa.
" Kalau gitu apalagi yang kita tunggu!? ayuk kita cepat!! kasihan Fajar kalau nunggu lebih lama lagi." Seketika mereka semua langsung berlari dengan keadaan panik, Lisa tak menyadari itu dari tadi.
Sekarang dia lah yang paling panik karena sedikit merasa bersalah sebab tak bergerak cepat untuk menolong Fajar. Jika tahu lebih awal mungkin Lisa tak akan memilih untuk pergi mencari tahu kejadian yang dialami Fajar, melainkan menolong Jeni untuk merawat pria itu.
__ADS_1
Tapi kalau dia beneran luka, gak mungkin kan kalau sampai habis darah? lagian lukanya kan ... owh iya ya!! luka di tangan kanannya!! Lisa tahu sekarang penyebab di sepanjang jalan terdapat tetesan darah, pasti Fajar berlari sampai ke Villa dan kelelahan.
Itulah mengapa jarak setiap tetesan darah cukup jauh, sekarang semuanya terdengar masuk akal. Namun yang masih mengganjal di benaknya adalah mengapa pria itu sampai berlari ketimbang berjalan dengan santai.
Walaupun beberapa permasalahan sudah mulai jelas, namun masih ada beberapa yang mengganjal dan sulit untuk di artikan. Sekarang yang mereka prioritaskan adalah kondisi Fajar agar tidak menjadi lebih buruk karena termakan oleh waktu.
Semoga Fajar gak kenapa-kenapa, aku jadi ngerasa bersalah sendiri karena ninggalin dia begitu aja. Batin Lisa yang masih terus cemas dengan keadaan temannya itu.
Beberapa menit akhirnya mereka sampai di Villa nomor 1, tempat di mana Fajar dan Jeni berada saat ini. Lisa dan teman-temannya yang lain langsung bergerak cepat untuk menemui Fajar, mereka benar-benar panik dan khawatir dengan kondisinya.
" Jeni!!" Teriak Mita yang membuat suasana menjadi semakin ricuh saat itu.
Jeni tiba-tiba keluar dari kamar Fajar dengan wajah yang sedikit kebingungan, iya tak mengerti mengapa tiba-tiba temannya itu berteriak memanggil namanya.
" Ada apa!?" Tanya Jeni dengan nada yang terkesan terkejut, dia masih bingung dengan apa yang sedang terjadi.
" Gimana keadaan Fajar sekarang!! kita harus cepat ngobatin dia sebelum hal buruk terjadi!!" Kini Lisa yang berbicara, wajahnya benar-benar terlihat panik.
" Tenang aja ... aku udah ngobatin dia kok, kalian nggak usah khawatir. Ku pikir ada kejadian apa tadi ..." Balas Jeni.
" Syukur kalau gitu, maaf ya Jen. Aku tadi pergi ninggalin kamu gitu aja, sebenarnya aku lagi nyari tahu kejadian apa dialami sama Fajar sampai pulang dengan keadaan kayak gitu." Ujar Lisa menjelaskan.
" Gak papa kok, aku tahu kamu gak tega liat temen kamu kesusahan, yang penting kamu nggak kenapa-napa. Oh ya, kalian Kenapa bisa bareng? dan Galih mana?" Tanya Jeni sambil mengajak teman-temannya, untuk duduk di ruang tamu agar lebih nyaman.
" Ceritanya kayak gini ..." Lisa mulai menjelaskan.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
SaLaMnOlNoL ...