
Jeni dan Lisa masih saling memandang satu sama lain, kini mata mereka sedang menadah air mata di kelopaknya.
Padahal, keduanya sudah mencoba sekuat mungkin untuk menahan air itu. Namun, sepertinya itu tak bisa di hentikan, seketika air mata mereka menetes secara bersamaan.
Mungkin sebuah kebetulan, benda itu mulai menuruni pipi Jeni dan Lisa. Hingga ia sampai di ujung dagu dan terlepas hilang di serap oleh kain yang menjadi alas jatuhnya benda itu.
Jeni meletakkan tangannya di pipi bisa, dan wanita itu pun melakukan hal yang sama. Mereka membersihkan benda dari kulit mereka satu sama lain, seolah mengerti dengan perasaan sama lain, mereka tersenyum bersamaan ketika benda itu hilang.
" Kami harus kuat jeni, aku bakalan selalu dukung kamu kok." Ujar Lisa menyemangati teman yaitu.
" Iya ... kamu juga sama." Mendengar jawaban dari Jeni, Lisa hanya bisa tersenyum kecut. Dia memang mengerti apa maksud dari kata-kata wanita itu.
" Ya udah, gimana kalau kita jalan-jalan di kawasan Villa?" Ajak Lisa.
" Oke, ayuk ..." Seolah tak lagi memiliki beban, jeni langsung menarik tangan Lisa tanpa menunggu respon dari wanita itu. Mereka berlari keluar villa untuk berjalan-jalan menikmati udara segar di pagi hari.
°°°°°
Fajar baru saja keluar dari kediaman Bu Lilis setelah membayar uang sewa mereka selama tinggal di Villa Pinus Tua. Ia melangkah pergi dari tempat itu.
kemana ya? masa aku langsung balik ke Villa sih. suasana hatiku lagi nggak enak buat balik kesana sekarang. Fajar berjalan-jalan di sekitar kediaman Bu Lilis, tanpa disadari dia hanyut dalam pikirannya dan tak sengaja sampai di sebuah sungai.
Jaraknya kurang lebih 30 meter dari Villa nomor 13 yang tidak lain adalah Villa Pak Yanto dan Bu Lilis. Fajar masih berjalan-jalan sambil memperhatikan sekelilingnya, ia tak menyangka bisa melihat ke indahan alam hayati yang begitu indah di sekelilingnya.
__ADS_1
Sungguh sebuah penampakan yang langka, dirinya sangat susah untuk melihat seperti itu saat berada di kota. Jadi, tak heran bila iya sampai terkagum-kagum saat melihat indahnya pemandangan yang ada di kawasan Villa.
Kakinya terus melangkah seperti dituntun oleh indahnya alam, iya mulai menyentuh satu persatu dedaunan serta tumbuhan yang dia lewati sepanjang jalan.
Kini kakinya telah berhenti, berhadapan langsung dengan sebuah sungai di depannya. Perlahan-lahan, ia mulai merendahkan tubuhnya. Fajar membasuh wajahnya dengan air sungai yang terasa begitu menyegarkan.
Sungguh indahnya alam hayati. batin Fajar yang masih kagum dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Dia mulai melepaskan sandal dan memasukan kakinya ke dalam sungai itu, saat kakinya mulai memasuki air sungai dirinya merasakan sensasi sejuk.
Sangat nyaman ... pikirnya, mata Fajar langsung terkunci saat melihat ikan-ikan kecil yang tengah bermain di air sungai, mereka sangat mereka sangat mudah dilihat, tanpa menggunakan alat bantu apa pun.
Lagi-lagi Fajar dibuat kagum dengan apa yang dilihatnya, air sungai itu benar-benar jernih dan sejuk. Setelah itu ... Fajar keluar dari sungai dan berjalan menuju batu yang tak jauh dari tempatnya.
Ia menaiki batu itu dan duduk di atasnya sambil memandang sekeliling, matanya masih terfokus kan pada keindahan alam di tempat itu.
Sebenarnya ini salah ku atau jeni? apakah ini semua karena aku terlalu egois? tapi mau bagaimanapun aku kecewa padanya, bisa-bisanya dia mengandung anak orang lain padahal aku adalah pacarnya. Fajar hanyut dalam pikiran nya, dia menatap air sungai dengan tatapan penuh makna.
Andai saja aku bisa seperti air sungai, mengalir tanpa peduli apapun rintangan di hadapannya, ribuan batu besar pun tak menjadi halangan nya untuk terus mengalir. Tapi apakah aku bisa? apakah aku bisa melawan perasaan ku? tapi aku pun kecewa padanya ...
" Hah ..." Fajar menghela napas panjang, bingung dengan apa yang harus dilakukannya pada saat itu.
Apa aku harus bertanggung jawab untuk anak yang bahkan bukan darahku? mengapa semua ini menjadi sulit? Atau ... Fajar mendapat sebuah jawaban dalam pikirannya. Ia tersenyum menyeringai, entah itu baik atau buruk siapa pun tidak mengetahuinya.
Fajar berdiri dari atas batu, dia turun dari batu itu dan melepaskan baju yang dikenakan. Sungai yang ada dihadapannya memang cukup dalam, akhirnya Fajar memutuskan untuk menyegarkan tubuhnya, sekaligus mencoba pengalaman mandi di sungai daerah pegunungan.
__ADS_1
Dia melempar bajunya ke tepi dan langsung masuk dalam sungai, tubuhnya langsung sangat segar saat air itu mulai membasahi seluruh tubuhnya.
" Segar banget ..." Gumamnya yang merasa sedikit kedinginan, walaupun tak bisa dipungkiri bahwa air itu sangat sejuk dan menyenangkan.
Kini Fajar tengah asyik bermain air seorang diri, dia bercandaria dengan hewan-hewan air yang ada di sekitarnya. Tumbuhan-tumbuhan yang asing baginya langsung diambil untuk menemaninya bermain di air.
Semua pikiran-pikiran saat itu langsung hilang, dirinya benar-benar menikmati pengalaman mandi di sungai itu. Fajar mulai berenang menelusuri sungai sambil berusaha menangkap ikan-ikan yang ada, walaupun dia memang tak mendapatkannya satupun.
Seru banget, lebih seru daripada mandi di waterboom. Coba aku ajak temen-temen yang lain ke sini, pasti seru deh kayaknya. Fajar baru sadar kalau iya sudah terlalu lama mandi di sungai itu, padahal niatan awalnya hanya ingin mencoba untuk beberapa menit saja.
" Aku harus balik sekarang, takut mereka nanti khawatir nyariin." Fajar mulai berenang ke tempat awal iya berada, karena di sanalah Fajar meletakkan pakaiannya.
" Loh kok baju ku gak ada?" tanya Fajar karena kebingungan dengan apa yang sedang dilihatnya.
" Perasaan, aku tadi taruh sini deh. Kok sekarang udah nggak ada ya? atau jangan-jangan, hanyut kebawa sungai? tapi kan tadi aku taruh di pinggir?" fajar bertanya-tanya pada dirinya sendiri, iya benar-benar dibuat bingung dengan yang terjadi saat itu.
" Awww! shhhttt ..." Luka Fajar kembali terbuka karena terlalu lama di dalam air, kini luka itu terasa perih saat terkena hembusan angin dingin, yang mengenai tubuhnya sebab tak mengenakan pakaian.
" Terus aku pulang pakai apa? masa cuman kayak gini doang?"
Fajar melihat ke arah bawah, pakaian yang tersisa hanyalah bagian itu. Ia tak mungkin untuk pulang dengan keadaannya seperti itu, bagaimana bisa Fajar pulang tanpa mengenakan pakaian, dia akan kehilangan muka jika dilihat oleh jeni ataupun Lisa dengan keadaannya saat ini. Belum lagi, jika ada orang lain yang melihat dirinya tanpa pakaian ... bisa-bisa dia diteriaki sebagai orang yang mesum.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
SaLaMnOlNoL ...