
" Fajar ...?" Mata Jeni seolah terkejut saat melihat orang yang ada di hadapannya. Orang itu tidak lain adalah pria yang sangat di cintainya.
" Fajar!!" Jeni langsung melepaskan pisau yang menancap di telapak tangan pria itu, ia menutup mulutnya sebab terkejut dan tak percaya dengan apa yang telah di lakukannya.
Seketika ... teman-temannya berlarian untuk menolong Fajar, saat itu juga suara terdengar sangat ricuh, sebab semua orang panik dengan darah Fajar yang mulai membanjiri lantai.
Jeni dan Fajar saling menatap satu sama lain dalam diam, mereka seolah sedang berada di dunia mereka sendiri. Sangat hening dan gelap ... yang terlihat hanyalah dirinya dan pria yang ada di hadapannya.
Fajar menatap Jeni dalam diam, namun tatapan itu seperti mengatakan sebuah kekecewaan. Entah kenapa kepala Jeni mendadak mulai sakit, dan perlahan ia kehilangan kendali pada tubuhnya.
Badannya terasa sangat lemas, pandangannya perlahan mulai kabur. Dan pada akhirnya ia terjatuh dan tak sadarkan diri, namun sebelum benar-benar tak sadarkan diri ... Jeni seperti melihat sebuah senyuman aneh dari pria yang menatapnya itu.
Entah apa arti dari senyuman itu, tapi yang jelas ... senyuman itu sangatlah menakutkan. Beberapa saat kemudian, matanya mulai tertutup dan tak lagi merasakan apapun.
" Jen!!" Teriak Lisa saat menyadari keadaan Jeni yang sudah terjatuh di lantai, ia langsung berlari untuk membantu wanita itu, sedangkan Fajar sendiri telah di bantu oleh teman-temannya yang lain.
Pria itu masih diam sambil menatap kearah Jeni, pandangannya kosong seperti sedang berada di tempat lain. Fajar seolah tenggelam dalam pikirannya, namun tak ada yang tahu apa yang sedang di pikirkan oleh pria itu.
Galih dan Cakra mencoba untuk memapah Fajar ke kamarnya, pria itu hanya mengikutinya tanpa menolak atau melakukan apapun, seperti sebuah boneka yang bergerak sesuai kemauan tuannya.
Bella langsung membantu Lisa yang tengah menolong Jeni, sedangkan Mita berlari untuk mengambil kotak obat di dapur. Setelah mengambil kotak obat, wanita itu langsung berlari menuju kamar Fajar. Ia tak mau membuang-buang waktu karena darah pria itu terus menetes, walaupun sebenarnya agak takut ... tapi Mita berusaha mengesampingkan ketakutannya itu.
Setelah menyerahkan kotak obat kepada Cakra, ia langsung beranjak menuju kamar Jeni sambil membawa minyak angin yang di ambilnya dari dalam kotak obat. Dua wanita itu terlihat panik saat sudah membaringkan Jeni di atas kasurnya.
__ADS_1
" Ini minyaknya ..." Ucap Mita sambil menyodorkan minyak angin kepada Lisa. Wanita itu menyambutnya dari tangan Mita dan langsung mengoleskannya kepada Jeni.
" Lebih baik kalian pulang aja, sekarang udah malam. Biar aku aja yang jaga Jeni ... lagian Villa kalian kan jauh dari sini." Ucap Lisa mengingatkan.
" Maaf ngerepotin ya Lis, kalau gitu kita pamit ke Villa, mungkin besok bakalan dateng buat liat keadaan Jeni sama Fajar." Balas Mita. Setelah itu dirinya dan Bella beranjak keluar kamar menemui Cakra dan Galih.
" Ayo kita ke Villa sayang, ini udah malam. Besok kita dateng lagi buat ngeliat keadaan mereka." Ucap Mita yang mendapatkan respon anggukan dari Cakra, setelah itu mereka semua beranjak dari kamar Fajar.
" Kita pulang ya Lis ... owh ya, nanti tolong bilangin sama Fajar kalau mobilnya kita pinjem. Takut dia nyariin kalau misalnya udah siuman, semoga keadaan mereka gak papa ya." Lisa hanya mengangguk mendengar perkataan dari Bella.
Setelah itu mobil Fajar yang dinaiki teman-temannya mulai menghilang tertelan kabut malam serta jarak pandangnya. Lisa kembali masuk ke dalam Villa dan berjalan menuju dapur untuk mengambil kain pel.
" Aduh ... aku takut banget pula, mana harus bersihin darah. Mending kalau darah hewan, tapi ini kan ..." Kata-katanya terhenti sebab tak berani untuk melanjutkannya.
Setelah mengambil kain pel, Lisa langsung beranjak dari tempat itu dengan keadaan setengah berlari. Bulu kuduknya tiba-tiba saja merinding, seperti ada seseorang yang tengah memperhatikannya.
Karena sudah merasa tidak nyaman, Lisa langsung mempercepat gerak tangannya dan meletakkan pel itu begitu saja tanpa mengembalikannya. Ia langsung berlari menuju kamar Jeni untuk tidur di sana malam itu.
°°°°°
" Jeni sama Fajar udah siuman belum ya?" Lisa berbicara sendiri sambil memainkan alat masaknya di dapur. Ia sedang menyiapkan sarapan untuk di makan pagi itu, setelah selesai dengan masakannya ... Lisa langsung beranjak menuju kamar Jeni.
Ia masuk dan menepuk selimut yang menutupi seluruh badan wanita itu. " Jeni ... bangun ..." Ucap Lisa sambil menggoyangkan tubuh wanita itu. Namun tak ada respon ataupun tanda-tanda wanita itu akan bangun, hati Lisa tiba-tiba saja mendadak agak sedikit cemas.
__ADS_1
" Jeni ... ayu dong bangun, jangan nakut-nakutin aku kayak gini." Wajah Lisa bertambah cemas, perasaannya tidak enak seperti ada sesuatu yang mengganjal, karena penasaran akhirnya Lisa menarik selimut yang menutupi temannya itu.
" Loh!? kok kosong!?" Dirinya langsung terkejut saat mendapati Jeni tidak ada di atas kasur, padahal sebelumnya itu jelas memegang sesuatu, namun yang ada di balik selimut itu hanyalah sebuah seprai tanpa ada tambahan apa-apa.
Sontak saja itu membuat Lisa mundur dan menatap tempat tidur itu dengan tatapan yang sulit di artikan, ia masih tak habis pikir tentang apa yang baru saja di pegangnya.
" Lisa? kamu lagi ngapain?" Tiba-tiba saja suara seorang wanita memecah ketegangan yang tengah terjadi itu, Lisa langsung membalikkan badannya dan memeluk Jeni dengan sekuat tenaga.
" Aku tadi nyari kamu kemana-mana, dan ternyata kamu malah ada disini." Ucap Jeni yang mendapati pelukan dari wanita itu.
Lisa melepaskan pelukannya, ia menatap Jeni dengan tatapan serius, tentu saja itu membuat Jeni agak sedikit merasa aneh. " Terus yang aku pegang di atas kasur tadi apa?" Tanya Lisa di depan wajah wanita itu.
" Pegang? pegang apaan?" Jeni langsung menggeser kepalanya untuk melihat sesuatu yang ada di belakang Lisa.
" Apa yang kamu pegang Lis?" Tanya Jeni yang keheranan dengan apa yang membuat wanita itu terkejut.
" Bukan apa-apa kok, mungkin itu cuma halusinasi aku aja. Ya udah kalau gitu mending kita sarapan aja di ruang makan." Ajak Lisa tanpa menjawab pertanyaan dari Jeni, setelah itu mereka berdua beranjak dari ruangan itu.
Perasaan tadi ada sesuatu deh ... tapi kok bisa gak ada ya? atau aku emang kebanyakan mikir aja kali ya? Mmm, kayaknya aku kecapean deh sampai halusinasi kayak gini.
Setelah mengantar Jeni ke ruang makan, kini Lisa berbalik arah untuk menjemput Fajar di kamarnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
SaLaMnOlNoL ...