
Lisa melangkah pergi dari Villa untuk menuju kediaman Pak Yanto dan Istrinya, dia benar-benar di buat penasaran dengan semua kejadian yang dialami oleh Fajar.
Lisa pergi menggunakan sepeda mereka yang tersisa, ia mulai menggosok bedanya menuju kediaman Pak Yanto dan istrinya. Sebenarnya apa sih yang habis terjadi sama Fajar? kalau itu benar orang jahat ke mana ya? kalau aku bisa nekat sih.
Baru beberapa meter dari Villa mereka, Lisa sudah memberhentikan sepedanya karena ia agak sedikit ragu untuk pergi ke sana. Ia tak tahu muncul dari mana keberaniannya untuk pergi seorang diri.
" Jeni sekarang udah bentar-bentar nangis, atau jangan-jangan sifat kami tertukar?! Ah ... kebanyakan ngayal, gak mungkin kan kayak gitu." Lisa berbicara seorang diri seperti orang bodoh. Dia sendirilah yang bertanya dan dia jugalah yang menjawab, mungkin terlalu banyak pikiran membuatnya agak sedikit kurang waras begitulah pikirnya pada saat itu.
Rasa penasarannya dan rasa takutnya saling beradu satu sama lain, dan akhirnya Lisa lebih memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju villa nomor 13. Dia benar-benar penasaran dengan kejadian yang dialami oleh Fajar, Lisa berpikir untuk mencari petunjuk di tengah jalan karena ia tak mau pergi terlalu jauh seorang diri.
Dia melajukan sepedanya dengan kecepatan tinggi, tak butuh waktu lama untuk Lisa menjauh dari Villa mereka. Kini suasana di sekitarnya mulai menghening, tak ada tanda-tanda orang lain yang berada di sekitarnya.
Ia merasa sedikit kurang nyaman dengan keadaannya pada saat itu, namun Lisa dapat diterima karena memang rumor pembunuhan jelas akan berdampak besar pada ketenaran Villa Pinus Tua, apalagi memang tidak ada yang mengkonfirmasi dan menyangkal tentang berita tersebut.
Pastilah itu membuat orang-orang berpikir dua kali untuk datang ke Villa pinus tua, jika memang rumor yang dikatakan itu benar. bahkan bisa dan teman-temannya pun tak akan mau berkunjung ke Villa Pinus Tua, sebenarnya masih banyak pilihan wisata yang cocok untuk menjadi destinasi liburan.
Namun, setelah dipikir-pikir memang tidak ada kejelasan tentang rumor tersebut. Jadi tidak ada salahnya untuk berlibur ke Villa Pinus Tua, ditambah lagi segi arsitektur dan keindahan alamnya benar-benar patut diacungi jempol.
Itu kayaknya sepeda Fajar deh, kok bisa ada di situ ya? pantesan aja dia pulang nggak bawa sepeda, ternyata di tinggalnya di situ. Lisa mulai mempercepat laju sepedanya agar segera mendekat ke tempat itu.
__ADS_1
Saat sudah sampai di depan sepeda Fajar, Lisa baru sadar bahwa ada sesuatu yang janggal, akhirnya dia memberhentikan sepedanya beberapa meter dari sepeda Fajar.
Kayaknya nggak mungkin deh kalau Fajar tinggalin sepedanya gitu aja, apalagi kalau dilihat dari keadaan dia waktu sampai ke Villa, udah lemas kayak habis lari-larian. kayaknya ada yang aneh deh ...
Lisa membelokkan kepalanya untuk mencari sesuatu yang janggal disekitarnya, namun masih sama seperti sebelumnya. Hening dan sunyi, tak ada tanda-tanda orang lain yang berada di tempat itu.
Tiba-tiba saja Lisa teringat kata-kata Jeni yang mengatakan bahwa ada seseorang yang mengganggunya tanpa dapat disadari sama sekali. Kini ia agak sedikit gemetar karena membayangkan orang itu ada di dekatnya.
Lisa menengok ke kanan dan ke kiri sambil perhatikan sekitarnya takut orang itu benar-benar ada, iya agak sedikit was-was sebab entah mengapa jiwanya yang tiba-tiba berubah menjadi berani kini menghilang.
Mudah-mudahan yang diomongin sama Jeni itu enggak benar. Dari pada lama-lama di sini, mending aku cepetan cek sepeda Fajar habis itu pergi, suasananya udah nggak nyaman.
" Oh, iya ya. kalau dilihat dari posisi sepedanya ... kayaknya Fajar abis jatuh deh. Masa sepedanya ada di luar jalan utama sih, mana posisinya udah jatuh pula." Ujar Lisa dengan pemikirannya.
Dia mulai meraih sepeda itu dan mengangkatnya, kini ia baru sadar jika ada beberapa tetes darah yang membekas di jalanan. Muncul kecurigaan yang sulit diartikan dalam benaknya.
Apa ini ada hubungannya sama kediaman Pak Yanto? tapi masa ia sih. Kalau dipikir-pikir masalahnya udah makin ribet deh, bukannya selesai malah nambah lagi. Atau aku coba ikutin jalan Fajar aja ya? Siapa tahu aku bisa dapat sesuatu.
Lisa memasang standar pada sepeda Fajar, kini ia kembali ke sepedanya dan menggowes menuju arah jalan yang sebelumnya di tempuh oleh Fajar. Menurutnya, itu adalah cara terbaik untuk menyelesaikan semua tanda tanya yang ada dalam benaknya.
__ADS_1
Di sepanjang jalan terlihat beberapa tetesan darah, besar kemungkinan kalau itulah adalah darah dari luka Fajar. Lisa terus mengikuti darah itu sampai di mana ia merasa ada seseorang yang tengah memperhatikannya.
Kini dia langsung memberhentikan sepedanya, dan melirik ke segala arah untuk mencari keberadaan seseorang yang dirasa tengah mengikuti sedari tadi. Namun, sepertinya orang itu tidak ada, entah karena dia memang hebat bersembunyi atau memang benar-benar tidak ada.
" Apa cuma perasaan aku aja kali ya? lagian kan di sini emang nggak ada orang. Udah ah, mending aku lanjut aja, daripada ketakutan nggak jelas kayak gini." Gumam Lisa yang mencoba mengalihkan suasana, tiba-tiba saja sikunya terasa sedikit dingin.
Kok dingin ya? ah ... mungkin gara-gara angin, mending aku lanjut aja. Sebenarnya Lisa tahu kalau tidak ada angin pada saat itu, namun ia berusaha untuk meyakinkan diri sendiri agar tidak takut. Dia berusaha memenuhi pikirannya dengan hal-hal positif, supaya otaknya tak terganggu dengan hal aneh yang ada di sekitarnya.
Satu persatu bangunan Villa telah dilalui oleh Lisa, namun bangunan itu benar-benar kosong tak berpenghuni. Ia sempat berpikir mengapa Pak Yanto malah membuat teman-temannya tinggal di Villa yang jaraknya berjauhan satu sama lain.
Alasan pria itu adalah karena semua Villa sudah dipesan oleh turis yang akan datang dari Amerika, mereka sudah memesan terlebih dahulu dan sedang dalam perjalanan. Mau bagaimana pun Lisa dan teman-temannya tak bisa menolak atau pun protes. Karena memang, mereka tak memesan Villa terlebih dahulu sebelum datang ke tempat itu.
Jadi wajar saja bila mereka harus rela mendapatkan tempat yang tersisa, namun setidaknya mereka tetap mendapatkan Villa walau harus berjauhan.
Lisa tiba-tiba saja berhenti karena ada suara mencurigakan dari dalam semak yang ada di salah satu halaman Villa, ia berhenti dan menatap semakin itu jangan curiga. Jeni pernah bercerita bahwa dia bertemu dengan seekor kelinci dengan tanda yang aneh, sekarang Lisa agak sedikit was-was dan khawatir.
" Aaaaaa!!" Tiba-tiba saja ada sesuatu yang menepuk pundaknya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
SaLaMnOlNoL ...