Milenial

Milenial
Ch. 9


__ADS_3

Jeni dan Fajar baru saja turun dari mobil, mereka melangkah masuk ke dalam Villa untuk memilih kamar sebab mereka berdua saja yang belum memilih kamar.


Fajar sangat buru-buru untuk kembali menjemput Jeni sebelumnya, ia memang dari awal mempunyai perasaan khawatir tentang keadaan Jeni. Dan awalnya Fajar tak terlalu memikirkan hal tersebut, namun saat melihat sendiri apa yang terjadi pada Jeni, membuat dirinya yakin bahwa rasa khawatirnya itu datang bukanlah tanpa sebab begitu saja.


Setelah memilih kamar, Jeni dan Fajar langsung pergi untuk membersihkan diri mereka masing-masing. Karena perjalanan dua hari satu malam itu sudah membuat badan mereka terasa lengket dan tak nyaman.


" Seger banget abis mandi." Jeni keluar dari kamar mandinya dan berjalan menuju koper besar yang belum sempat di keluarkan isinya itu.


" Aku pake baju ini ajalah." Ucap Jeni sambil mengambil pakaiannya dari dalam koper, setelah itu ia memakainya dan pergi keluar kamar untuk melihat-lihat lingkungan sekitar Villa.


Saat ia sedang jalan-jalan kecil di depan Villa, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang memanggilnya. " Jen!! sini ..." Ucap Lisa dari dari atap Villa.


Owh, ternyata dia belum turun. Ku kira tadi dia udah turun, kalau gitu mending aku ngomong sama dia ajalah. Jeni merespon Lisa dengan lambaian tangan dan pergi berlari menuju tempat Lisa.


" Kamu ngapain disini sendirian?" Tanya Jeni yang baru saja naik ke atap Villa itu. Dan disana sudah di sediakan beberapa sofa, Kasur, serta meja kecil. Itu semua di sediakan untuk berkumpul menikmati pemandangan alam sekitar.


" Kayak kamu gak tahu aja Jen ... mereka semua kan lagi berduaan sama pacar mereka masing-masing. Lah sedang aku? pacar aja gak punya." Ucap Lisa dengan wajah yang mengasihankan.


" Hahaha ... kasian aku sama kamu Lis, tetap semangat ya." Canda Jeni kepada Lisa. Wanita itu hanya membuang pandangannya seolah kesal dengan kata-kata Jeni, walaupun sebenarnya dia ingin tertawa ... tapi jika ingin tertawa sekalipun apa yang ingin di tertawakannya, dia tak mungkin ingin menertawai dirinya sendiri karena sialan dalam percintaan.


" Kamu juga kenapa sendirian? si Fajar mana?" Tanya Lisa yang sedikit kebingungan.

__ADS_1


" Aku gak mau ganggu dia dulu, paling-paling dia sekarang lagi ada di atas kasur sambil ngistirahatin badan. Dari kemarin kan dia nyetir mobil gak berhenti-berhenti, abis tuh juga perlu bawa sepeda berjam-jam naik gunung. Belum lagi dia harus jemput aku sambil bawa bensin dan tabung isi angin ... pasti dia capek banget kan."


" Mmm, iya juga sih. Aku malah baru nyadar loh kalau dia itu berkorban segitunya buat kita, benar-benar pasangan impian." Goda Lisa pada wanita itu.


Namun, tiba-tiba saja raut wajah Jeni terlihat agak sedih. Dan itu berhasil membuat Lisa merasa aneh dan takut dengan sikapnya yang berubah begitu saja.


" Maaf Jen! aku cuma asal-asal ngomong doang." Wajah Lisa terlihat panik, ia tak mau mendapatkan tatapan dingin dari wanita itu, apalagi dia di kenal sebagai seseorang yang mudah untuk memukul.


Walaupun Jeni tak pernah melakukan itu kepada wanita, tapi tetap saja orang lain takut saat melihat perubahan suasana hati Jeni yang terkadang tak bisa di prediksi.


" Udah gak perlu minta maaf, ini bukan salah kamu kok. Cuma aku pengen sedikit curhat gitu ... boleh gak?" Kini badan Jeni terlihat lemas, tak seperti Jeni yang biasanya terlihat energik dan tegas dimana pun dan kapan pun. Lisa menebak bahwa itu adalah masalah yang lumayan berat sampai membuatnya lesu seperti itu.


" Aku udah kenal kamu lama Jen, dan aku juga udah biasa jadi tempat curhat masalah percintaan kalian bertiga. Kamu gak perlu pake bahasa kayak gitu lagi ... aku tahu kok orang yang ada di pertanyaan itu pasti kamu kan?" Tanya Lisa yang berhasil membuat Jeni tertunduk diam.


" Aku sebenarnya gak nyangka dan gak habis pikir itu semua bakal terjadi sama kamu, tapi yang bisa ku saranin sekarang ... cuma jujur pada diri kamu sendiri. Kamu harus berani untuk ngomong dan ngasih tahu itu semua ke Fajar, dia mungkin akan marah atau apa aku pun gak tahu. Tapi yang jelas dia bakalan benci sama kamu kalau masalah ini ketahuannya di akhir. Karena saat itu tiba semuanya udah terlambat dan gak bisa di rubah lagi." Ucap Lisa yang kembali tak mendapatkan respon dari wanita itu.


" Aku siap bela kamu sampai akhir Jen, tapi syaratnya kamu harus jujur sama diri kamu sendiri. Kamu harus berani ngomong kalau kamu gak salah, jangan cuma di pendam di dalam hati doang ... itu gak bakalan baik buat diri kamu sendiri, dan mungkin juga buat orang lain."


" Makasih Jen, aku bakalan ceritain masalah ini supaya gak ada lagi yang nge-genjal di hati ku." Ucap Jeni dengan senyumnya.


" Kamu mau ceritain kapan? kalau menurut ku sih lebih cepat lebih baik, biar masalahnya cepet beres."

__ADS_1


" Malam ini kayaknya, waktu kita kumpul-kumpul bareng. Ehh kamu tahu gak sih, aku tuh dapet kejadian aneh waktu di tinggal sendirian di mobil, pokoknya waktu itu aku ketakutan banget ..." Ucap Jeni dengan wajah yang terlihat ketakutan.


Lisa pun langsung mendekat ke arah Jeni sebab lehernya tiba-tiba saja terasa dingin. " Kamu serius Jen? jangan nakut-nakutin aku ya ... Kamu kan tahu aku gak bisa denger yang begituan." Ucap Lisa dengan wajah yang terlihat sedikit cemas.


" Beneran Lis, aku gak bohong. Itu bikin aku trauma di tinggal sendirian di mobil, Aku udah gak mau lagi nunggu mobil sendirian."


" Aku takut Jen ..." Wanita itu terlihat sudah benar-benar ketakutan dengan yang apa yang dikatakan oleh Jeni.


" Hahaha ... lucu banget muka kamu Lis, aku gak bisa nahan ketawa loh." Jeni tertawa mengejek temannya itu.


" Kamu gitu ya! suka banget jahilin orang. Kan aku beneran takut Jen!" Bentak Lisa yang sudah kesal.


" Tapi aku gak bohong loh, yang aku bilang itu memang kenyataan ..." Jeni langsung berlari meninggalkan Lisa, wanita itupun sontak ikut berlari di belakang Jeni sambil mengutukinya.


Dan malam itu mereka akan kedatangan penjaga Villa karena dia ingin berkenalan atau bisa di bilang menyambut kedatangan Jeni dan teman-temannya. Mereka semua akan berkumpul saat waktu makan malam tiba, tepatnya di Villa yang di tempati oleh Fajar dan yang lain.


Setiap Villa Pinus Tua hanya memiliki 4 kamar, Villa yang di tempati oleh Galih sudah penuh di-isi oleh Mita, Cakra, Bella dan tentu saja dirinya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


SaLaMnOlNoL ...

__ADS_1


__ADS_2