Milenial

Milenial
Ch. 16


__ADS_3

Fajar kebingungan karena dia ingin pulang namun pakaiannya entah ada di mana saat ini. " Atau jangan-jangan ... baju ku hanyut di bawa air?" Akhirnya Fajar memutuskan untuk kembali ke dalam sungai untuk mencari pakaiannya yang hilang.


Ia mulai menelusuri aliran sungai, beberapa saat kemudian ia menjumpai pakaiannya tersangkut di sebuah batu yang cukup besar. Saat Fajar ingin mengambilnya, iya tak sengaja ikut mengambil benda lain yang tersangkut di batu itu.


Benda itu tertutup pakaiannya, lantas ia langsung membaliknya untuk melihat apa yang ada di balik bajunya itu. " Astaga!!" Teriak Fajar terkejut saat melihat benda yang baru saja di ambilnya.


" Aku gak salah liat kan?!!" Fajar masih tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya, karena benda itu kembali tersangkut di batu ... akhirnya ia mencoba untuk mengambilnya sekali lagi. Untuk memastikan bahwa dia tak salah lihat.


Ini beneran?!! Fajar langsung melempar Benda yang ada di tangannya, dan kali ini benda itu hanyut di bawa oleh air. sontak dirinya langsung cepat-cepat berenang menuju tepi, ia berlari sekuat tenaga menuju villa tempat dimana ia memarkirkan sepeda.


Di jalan, dia memakai pakaiannya dengan keadaan tengah berlari. Saat sampai di halaman Villa nomor 13, Fajar langsung menggowes sepedanya dengan cepat agar dirinya segera meninggalkan tempat itu.


" Hah ... hah ... hah ..." Nafas Fajar mulai memburu sambil terus menggowes sepedanya dengan kecepatan penuh. Ia masih tak habis pikir dengan apa yang baru saja lihatnya.


Sungguh tak bisa di bayangkan, begitulah pikirnya pada saat itu. Bagaimana bisa ada benda seperti itu di sungai, dan lagi ... itu hanyalah bagiannya saja.


Kenapa bisa ada potongan tangan manusia di sungai? badan dan kepalanya di mana? atau jangan-jangan, potongan tangan itu ada hubungannya dengan para pengunjung yang hilang? bukankah kejadian-kejadian itu sudah sangat lama sekali? bagaimana mungkin mayatnya masih ada sampai sekarang jika tidak diawetkan? atau jangan-jangan ...


Entah benar atau tidak persepsinya, namun dia sudah menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang ada dalam pikirannya. Aku gak boleh berburuk sangka terlebih terdahulu, masalah seperti ini lebih baik di simpan sampai benar-benar terjamin kejelasannya. Aku gak mau membuat teman-teman yang lain jadi panik dan resah, semoga ini semua gak seperti yang kubayangkan.


Pikiran Fajar tengah melayang ke mana-mana, dan tak sengaja ia malah menabrak batu yang ada di pinggir jalan, seketika itu juga Fajar tersungkur ke tanah.

__ADS_1


" Aduh!!" Pekiknya keras karena terjatuh dari sepeda yang dikendarainya.


Dengan keadaan masih tertimpa sepeda, Fajar perlahan mulai mengangkat benda yang menindih tubuhnya itu. " Aww!! Shhhtt ..." Luka Fajar kembali terasa perih, dia mengaduh kesakitan karena kembali mendapatkan luka baru di lututnya.


Aduh ... gimana sih, aku kok ceroboh kayak gini, mana luka yang di tangan tambah parah pula. Terus gimana cara ku buat balik ke Villa? tanganku udah enggak kuat lagi buat naik sepeda. Masih dalam keadaan sakit akibat luka, Fajar terus memutar otaknya untuk menemukan jawaban agar ia bisa kembali pulang untuk segera mengobati lukanya.


Apa aku jalan kaki aja kali ya? tapi kan jarak ke Villa masih jauh. Ah! Entahlah, yang penting sampai dulu, aku udah gak tahan ... lukanya sakit banget. Fajar mulai melangkah dengan kaki yang sedikit pincang, perlahan-lahan namun pasti, ia berjalan menuju Villa dan meninggalkan sepedanya begitu saja.


Saat itu di sekelilingnya sudah terang karena matahari telah muncul, namun sepanjang perjalanan benar-benar sepi dan kosong. kayak bukan lagi di tempat wisata aja, sepi banget.


" Aww! shhhtt ..." luka Fajar kembali terasa perih akibat terpaan angin, ia benar-benar sulit untuk berjalan karena lututnya yang terluka akibat terjatuh dari sepeda beberapa saat yang lalu.


" Aduh ... lukanya makin perih pula, mana masih jauh kalau jalan kaki." Ucap Fajar mengeluh, dia sudah tak kuasa untuk menahan rasa sakit yang ada di sekujur tubuhnya.


Namun jalanan itu benar-benar sepi, entah kemana para penghuni yang ada di Villa Pinus Tua, tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya memang hanya mereka saja yang menginap di Villa Pinus Tua saat itu.


Detik demi detik mulai berlalu, kini jalanan yang dilewati oleh fajar telah meninggalkan bercak darah. Darah yang ada di lukanya terus menetes seolah meninggalkan tanda untuk orang lain.


Saat sampai di Villa nomor 2 yaitu Villa kediamannya, Fajar hanya sempat mengetuk pintu beberapa kali dan akhirnya terjatuh lemas sebab sudah kehilangan cukup banyak darah.


Selang beberapa waktu Lisa menghampiri pintu dan membukanya, ia sangat terkejut saat melihat Fajar sudah terjatuh lemas di depan pintu. " Jeni!!! tolong!!" Teriak Lisa yang berhasil membuat jeni panik dan segera menghampirinya.

__ADS_1


" kenapa Lis? ada aaa ..." Jeni belum menyelesaikan kata-katanya, sekarang dia sudah tahu maksud wanita itu berteriak minta tolong.


" Fajar!!" jeni begitu terkejut saat mendapati pacarnya itu sudah terbaring lemas di hadapannya, dengan bercak darah yang menghiasi beberapa bagian tubuhnya.


" Ayu kita bawa masuk Jen!" Masih dengan keadaan panik, Lisa langsung memberitahukan jeni agar segera membawa pacarnya itu masuk ke dalam Villa.


Wanita itu masih terdiam tak percaya dengan apa yang dilihatnya, air matanya tiba-tiba saja menetes sebab tak kuasa melihat pacarnya yang terbujur lemas di lantai.


" Tunggu apa lagi! kamu enggak mau Fajar kehilangan lebih banyak darah lagi kan! kalau gitu cepat kita bawa dia masuk ke dalam!" Bentak Lisa nada tinggi, saat itu jeni baru tersadar dan segera membantu Lisa memapah Fajar menuju kamarnya.


Jeni masih tak habis pikir mengapa Fajar bisa pulang dengan keadaan seperti itu, nampaknya telah terjadi sesuatu saat di perjalanan menuju Villa.


Jeni membuka pintu kamar Fajar dan mereka berdua membaringkannya di atas kasur. bisa langsung bergerak cepat untuk mengambil obat yang ada di dapur, sedangkan Jeni masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


" Fajar ..." Ucapnya sayu, sambil mengelus wajah pria itu dengan halus. Jeni tersenyum melihat wajah pria itu, senyumannya itu seperti mengartikan sebuah kesedihan juga ucapan perpisahan.


Kini dia sudah menguatkan tekad nya, dia rela jika Fajar ingin berpisah dengannya. Jeni tak mau itu terus membuat pria itu susah, ia tahu kejadian yang di alaminya kurang lebih ada sangkut-pautnya dengan masalah yang tengah terjadi diantara mereka berdua.


Lisa kembali dengan membawakan kotak obat, ia juga membawa satu wadah air dan kain untuk membersihkan kotoran yang menempel di kulit Fajar.


" Udah Lis, biar aku aja. Makasih ya ..." Jeni tersenyum sambil mengambil barang-barang itu dari tangan Lisa. Wanita itu melihat jelas kesedihan yang ada di mata Jeni, akhirnya ia memutuskan untuk keluar dan membiarkan Jeni berdua bersama Fajar.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


SaLaMnOlNoL ...


__ADS_2