Milenial

Milenial
Ch. 11


__ADS_3

Jeni mulai menjelaskan apa yang akan di katakan olehnya. " Tadi waktu aku jaga mobil sendirian, aku ngerasa agak bosen. Terus aku keluar mobil buat liat-liat sekeliling ku ... tapi tiba-tiba aja ada suara aneh dari dalam semak-semak." Wanita itu mulai menjelaskan dengan wajah yang serius.


" Terus aku buka semak-semak itu, eh ternyata ... di dalam situ ada kelinci!!" Teriak Jeni yang mengejutkan semua orang, wajah mereka nampak menahan emosi.


Ya ampun, ku kira apa yang ada di semak-semak ... ternyata kelinci? hadeh, bikin kaget aja. Batin Mita yang agak sedikit kesal.


Mita dan yang lainnya menatap Lisa dengan heran karena wanita itu terlihat tidak terkejut sama sekali, padahal biasanya Lisa teramat takut dengan hal-hal seperti itu. Jeni kembali melanjutkan ceritanya, tak ada yang berani merespon ataupun bertanya pada dirinya. karena wanita itu sudah berkata tak boleh menyela ataupun bertanya sebelum ia selesai berbicara, jadi itu takkan baik untuk diri mereka sendiri jika membuat Jeni marah.


" Dan pas aku mau ambil kelinci itu, dia gak lari sama sekali ... bahkan, kelinci itu kayak nunggu buat diambil." Suasana di sekitar mereka tiba-tiba saja mulai berubah.


" Disitu aku ngerasa sedikit aneh, aku kepikiran sama kucing hitam yang kita temuin di dalam mobil, aku mikir kalau itu pasti ulah orang yang selama ini gangguin kita."


" Karena udah kesal, akhirnya aku nantangin orang itu, tapi setelah ku tunggu lama ... orang itu gak muncul-muncul, bahkan bisa di bilang gak ada tanda-tandanya sama sekali."


" Orang itu tiba-tiba aja udah ada di dalam mobil, tanpa jejak sedikitpun dia udah ada di belakang ku. Mulut ku di bekap! dan mata ku susah buat di ngeliat, dan akhirnya aku gak sadarkan diri ..." Semua teman-temannya itu agak sedikit kaget sekaligus takut dengan apa yang dikatakan oleh Jeni itu.


" Yang paling buat aku aneh, kenapa orang itu sampai bekap aku? dan aku ngeliat jelas kalau tangan orang itu ternyata adalah cowok. aku takut, aku abis ..." Kalimat Jeni terhenti, namun itu cukup untuk membuat semuanya mengerti maksud Jeni.


Galih, Cakra, Bella, Mita, bahkan Lisa langsung melirik ke arah Fajar. Pria itu tahu maksud dari lirikan teman-temannya, namun ia tak tahu harus berkomentar apa dan bagaimana caranya untuk menanggapi semua itu.


" Jadi, Sayang. Aku ..." Wanita itu menundukkan kepalanya tak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


Wajah Fajar terlihat sangat bingung, Hatinya menahan emosi yang tak tahu harus di keluarkan pada siapa. Dirinya ingin sekali marah namun ia tak bisa melakukannya, entah karena wanita itu adalah pacarnya atau karena posisinya yang tidak bersalah pada saat itu.


Fajar tertunduk diam, mengepalkan tangannya sekuat tenaga. Sialan! sialan ..!! sialan ...!!! Umpatnya dalam hati melepaskan emosi yang tak lagi dapat di bendung.


" Jar ...?" Tanya Galih dengan suara rendah. Fajar tiba-tiba saja mengangkat kepalanya dan menatap wajah Galih dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Aku mau istirahat duluan." Ucap Fajar yang pergi tanpa menunggu respon dari siapapun.


Seketika ... air mata Jeni menetes, ia memang belum mengetahui tanggapan dari pria itu. Namun, satu yang ia ketahui ... bahwa pacarnya itu jelas tidak senang saat ini.


" Udah Jen, jangan terlalu di pikirin. Aku yakin semua akan kembali seperti semula." Ucap Mita menasihati.


" Emangnya kamu tahu apa sih! kamu tuh gak ngerasa di posisi aku. Jangan sok tahu! ngomong emang mudah, tapi ia semua gak semudah yang kamu pikirin! Kalau aku beneran di putusin sama Fajar, aku bakalan jadi ibu tanpa suami ... bahkan anak ini pun aku gak rela sama sekali!" Jeni memaki-maki Mita karena merasa kesal, walaupun ia tahu kalau wanita itu tidak bersalah, namun yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah menyalahkan orang lain agar bisa mengurangi sakit yang ada di dalam hatinya.


Tapi mau bagaimana pun juga ... ia tak bisa membohongi diri sendiri sebab kesal dan sakit hati dengan kata-kata wanita itu. Namun Mita mencoba untuk memaklumi dan bersabar agar dirinya tak terlalu memasukkan kata-kata itu kedalam hati


" Kalau anak ini gak ada ... pasti aku gak akan pisah sama Fajar. bener!! ini semua gara-gara anak dari cowok br*ngsek itu!! aku harus ngirim dia balik ke tempat asalnya." Jeni berlari menuruni tangga, mereka semua tidak tahu apa yang akan di lakukannya.


Namun, menurut kata-kata dari wanita itu ... pasti bukanlah hal yang baik. " Pasti dia mau ngelakuin sesuatu yang enggak-enggak! kita harus cegah dia sebelum terlambat!" Ucap Cakra dengan wajah yang sangat panik.


Seketika ... semua orang berlari mengejar Jeni yang sudah mendahului mereka kebawah. Suasana disana panik dan ricuh, teriakan demi teriakan terdengar untuk membuat wanita itu menghentikan niatnya.

__ADS_1


Namun telinganya seolah tuli dan tak mendengar semua teriakan itu, badannya seperti bergerak sendiri menuju tempat yang tak di ketahuinya.


" Jeni!! jangan main-main sama benda itu!!" Bentak Bella dari kejauhan.


Wanita itu berbalik arah dengan pisau yang sudah siap di kedua tangannya, mengarahkan ujung tajam itu ke arah perutnya. Air mata Jeni terus mengalir seperti tak rela, namun tangannya menolak untuk berhenti.


Semua orang menutup mata, bahkan memalingkan pandangannya sebab tak kuasa melihat tangan Jeni yang bersiap untuk menusuk dirinya sendiri. Saat tangan itu mulai bergerak, seketika Bella, Mita dan Lisa berteriak sambil menutup mata mereka.


" Kyyaaaa!!" Teriak para wanita yang membuat suasana menjadi semakin mencekam. Bahkan Jeni sendiri pun menutup matanya karena tak ingin melihat darah yang keluar dari tubuhnya.


Ccrrkkkk ...!!


Suara ujung pisau itu menembus sesuatu, namun anehnya ... Jeni tak merasakan sakit sama sekali, Padahal dia yakin bahwa pisau itu telah di tusukannya.


Kenapa gak sakit? apa aku udah mati? Hahaha ... jadi gini rasanya orang yang udah mati. Tapi ... bukannya mati itu menyakitkan? kok aku gak ngerasa sama sekali?


Jeni perlahan mulai membuka matanya, kepalanya tertunduk dan melihat darah merah yang pekat berceceran di lantai. Ia masih keheranan sebab tak merasakan apapun pada tubuhnya, Padahal jelas kalau darah itu ada di depan matanya.


Matanya berbelok arah ke perut namun tak menemukan luka sama sekali, terlihat tangan seseorang berada di depan perutnya dan meneteskan darah.


" ..." Jeni tak bisa berkata-kata saat melihat orang yang ada di hadapannya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


SaLaMnOlNoL ...


__ADS_2