
Jeni mulai membersihkan satu persatu luka yang ada di tubuh Fajar, ia membersihkannya dengan sangat perlahan dan lembut. Takut membangunkan pria itu dan membuatnya merasa tak nyaman.
Satu persatu kotoran yang ada di kulit Fajar mulai dibersihkan, setelah itu Jeni menatap pakaian Fajar yang basah kuyup. Dia abis ngapain sih sampai basah kuyup kayak gini? kalau nggak cepat dibuka bisa-bisa dia sakit, tapi masa aku yang buka? Tiba-tiba saja Fajar menunjukkan ekspresi tengah kedinginan dari wajahnya, itu membuat jeni sedikit panik namun bingung harus melakukan apa.
Ah entahlah yang penting aku lepasin bajunya dulu, aku nggak tega ngelihat dia kedinginan kayak gini. Jeni mulai melucuti pakaian Fajar dengan menutup matanya. Ia tak berani untuk melihat badan daripada itu, padahal jika berenang bersama dia tentu saja melihatnya, namun entah mengapa pria itu sangat menggoda saat itu.
Setelah melepaskan pakaian Fajar, Jeni meminimalisir penglihatannya untuk tidak melihat pria itu, dia mengambil pakaian Fajar dari dalam lemari dan kembali memasangkannya agar tidak kedinginan.
Jeni mulai mengobati luka yang ada di tubuh Fajar, menahan air mata kesedihan di pelupuk matanya saat melihat ekspresi pria itu yang tengah kesakitan.
Setelah selesai mengobati Fajar, Jeni melangkah keluar kamarnya untuk membiarkan pria itu beristirahat terlebih dahulu. Jeni pergi menemui Lisa yang tengah menunggunya di meja makan, wajah wanita itu masih terlihat agak sedikit cemas.
Saat sampai di meja makan, Lisa menatap Jeni seolah meminta sebuah penjelasan. wanita itu hanya tersenyum lemas, dia pun tak mengerti mengapa pacarnya bisa sampai seperti itu.
Jeni duduk di kursi berdekatan dengan Lisa, ia meletakkan tangan dan kepalanya di atas meja dengan wajah yang terlihat lemas. Lisa menyadari kondisi teman yang itu kurang baik, ia langsung meraih tangan Jeni dan mendekapnya seolah memberikan semangat.
Tangan mereka berdua saling bersentuhan satu sama lain, menatap wajah yang ada di hadapan mereka masing-masing. " Gak perlu ditahan Jeni, keluarin aja ..." Ujar Lisa tersenyum lembut.
Seketika itu juga, air mata Jeni mengalir, ia menangis sejadi-jadinya tak bisa lagi menahan kesedihannya. Lisa langsung mendekap wanita itu agar merasa lebih nyaman, dia terus menangis sampai terisak-isak dalam dekapan Lisa.
__ADS_1
" Masalah satu aja belum selesai, sekarang udah nambah masalah lagi. Aku takut dia jadi stress Lis, pasti dia bener-bener pusing mikirin semua ini." Jeni masih menangis dalam dekapan Lisa.
" kamu harus sebisa mungkin untuk nenangin dia, Cari waktu yang tepat untuk menyelesaikan masalah kamu sama Fajar. Kalau kamu beneran nggak mau ngelihat dia kayak gini, Kamu harus kasih usaha lebih Jen. kita nggak tahu kenapa Fajar bisa pulang dengan keadaan kayak gitu, tapi yang jelas ini bukan hal yang baik." Lisa mencoba untuk menasehati Jeni sambil menepuk-nepuk pundaknya.
Wanita itu perlahan mulai mengurangi isakan tangisnya, kini ia hanya diam dalam dekapan Lisa seolah menunggu kata-kata selanjutnya yang akan disampaikan oleh temannya itu.
"Kamu nggak boleh terus larut dalam kesedihan ... kalau kamu nggak bisa kasih kejelasan dalam hubungan kamu. Itu cuma bakal terus-terusan nyiksa kalian berdua aja, kalau memang mau putus tinggal putus, kalau memang mau lanjut, ya kalian harus nyelesaiin masalah kalian." Jeni terdiam tak tahu apa yang harus dikatakannya, yang dikatakan oleh temannya itu memang benar, namun ia tak tahu harus merespon apa pada saat itu.
Lisa mengelus pundak Jeni. "Udah enggak usah sedih lagi, aku ada hal penting yang harus ku kasih tahu sama kamu." Ujar Lisa perlahan mulai melepaskan dekapan wanita itu. kini Jeni menatap Lisa dengan keheranan, hal sepenting apa yang sampai membuat wanita itu tak mengeluarkan ekspresi sama sekali.
" Seingat aku ... tadi pagi dia ke sana bawa sepeda, tiba-tiba aja waktu pulang udah ada di depan pintu, dan kayaknya dia udah gak bawa sepeda, menurut kamu ini aneh gak sih?" Tanya Lisa dengan wajah serius.
Ia baru menyadari kalau ada kejanggalan yang telah terjadi. " Aku juga ngerasa ada yang janggal." Lisa mengangkat kepalanya yang tengah tertunduk seraya berpikir, ia menatap Jeni untuk meminta sebuah penjelasan dari kata-katanya itu.
" Tadi waktu di dalam kamar, baju Fajar itu basah kuyup. Aku sempat bingung apa yang abis dilakuin, dan setelah dengar dari kamu kalau sepeda yang dia bawa gak ada ... aku curiga ada orang yang habis berbuat jahat sama dia." Ujar Jeni menjelaskan.
" Mm, bener. Tapi kenapa dia bisa basah kuyup? masa orang itu nyiram Fajar? kok kedengarannya aneh ya?" Lisa kebingungan karena penjelasan yang di katakan oleh Jeni masih mengganjal di benaknya.
" Lagian buat apa dan yang Fajar? masa dia sengaja ngelakuin itu? sedangkan Fajar aja datang dengan keadaan terluka, belum lagi lagi dia memang udah nggak sadarkan diri waktu kita temuin."
__ADS_1
Mereka jadi semakin bingung dengan apa yang telah terjadi pada Fajar, sangat aneh jika orang berbuat jahat dengan motif seperti itu. padahal Fajar tidak membawa barang-barang berharga atau apapun yang bisa menarik orang untuk berbuat jahat.
" Apa jangan-jangan orang itu ngambil sepeda Fajar? terus dia kabur supaya gak terjadi hal-hal buruk, makanya sampai sini dia udah gak sedarkan diri gara-gara kelelahan." Ujar Lisa seperti mendapat sebuah jawaban yang mewakili semua pertanyaan mereka.
" Aku rasa bukan kayak gitu deh, soalnya Fajar itu bisa beladiri. Dan kemampuannya juga gak bisa di anggap remeh, masa dia sampai kabur? ku rasa Fajar gak semudah itu untuk kabur." Balas Jeni yang membuat mereka permasalahan itu semakin membingungkan.
" Atau jangan-jangan ... orang itu cuma mau ambil sepedanya doang? tapi kenapa Fajar bisa sampai luka? apa yang nyuri lebih dari 1 orang?" Ujar Lisa dengan pemikirannya.
" Fajar itu bisa ngalahin belasan orang sendirian, dia gak mungkin kalah kalau cuma beberapa orang." Jawaban Jeni itu kembali membuat Lisa kebingungan.
Sebenarnya apa sih yang terjadi? lama-lama ini makin membingungkan, atau aku pergi ke Villa Pak Yanto aja kali ya? Siapa tahu aku bisa nemuin sesuatu di jalan. Batin Lisa
" Mm, aku pergi sebentar ya. Mending kamu jagain Fajar di kamarnya." Ujar Lisa berpamitan.
" Kamu mau kemana?" Tanya Jeni yang nampak sedikit kebingungan.
" Enggak kemana-mana, cuma ada urusan sebentar aja. Kalau gitu urusan buat jagain Fajar aku serahin sama kamu ya ..." Tanpa menunggu jawaban dari Jeni, Lisa langsung pergi begitu saja meninggalkan nya sendirian.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
SaLaMnOlNoL ...