Milenial

Milenial
Ch. 2


__ADS_3

Fajar mencoba memikirkan suatu cara untuk menghilangkan ketegangan yang tengah terjadi di antara mereka semua, Dan untungnya terselip sebuah ide di benaknya pada saat itu.


" Aku anterin pulang aja ya sayang?" Tanya Fajar pada Jeni.


" Ya udah, aku duluan yang teman-teman." Jeni berpamitan pada teman-temannya.


" Iya, kami juga mau pulang dulu, Sekalian mau packing buat besok." Balas Bella ia.


Setelah itu mereka semua pulang ke rumah masing-masing, dan mulai menyiapkan kebutuhan mereka di selama berlibur di Villa Pinus Tua.


" Sayang ... udah dong marahnya, aku tahu kamu gak salah. Kamu cuma khawatir sama kita semua." Fajar mencoba menghibur wanita itu.


" Tau tuh, si Galih. Jelas-jelas aku ngomong bener tapi gak ngerti-ngerti dianya, mana teman-teman aku pada tertarik pula, kan aku kalah suara jadinya." Jeni memeluk erat pacarnya, ia menempelkan pipinya di punggung pria yang tengah mengendarai motornya itu.


" Ia sayang, aku tahu kok maksud kamu baik. Tapi mungkin teman-teman memang pengen nyoba tempat itu, walaupun apa yang kamu omongin itu bener, tapi kamu gak bisa maksain kehendak kamu sayang." Fajar mencoba menenangkan hati Jeni.


" Iya, Aku minta maaf." Ucap Jeni sambil memeluk Fajar dengan eratnya.


Ya ampun, so sweet banget, coba kayak gini untuk selamanya. hehehe ... gak bakal luntur pasti cinta ku padanya. Fajar tersenyum-senyum sendiri dalam lamunannya.


" Kalau kamu emang gak setuju sama acara itu, aku gak papa kok kalau gak ikut. Kita liburan berdua aja, ke hotel juga boleh." Kata-kata itu berhasil mendapatkan pukulan dari Jeni, dan rasa itu lumayan sakit untuk ukuran seorang wanita.


" Ya ampun, sayang ... kamu kok mukul aku sih, sakit nih." Fajar berbicara dengan manjanya, ia terkadang bingung dengan posisi kedudukan dalam hubungan mereka. Karena orang yang sangat suka manja adalah dirinya, sedangkan Jeni lebih suka mengerjainya.


Bahkan pernah ada beberapa orang asing yang berniat jahat pada mereka saat duduk bedua di taman, namun orang-orang itu habisi oleh Jeni dengan mudahnya, yang bisa dilakukan Fajar hanya duduk diam sambil menonton kejadian itu, semuanya selesai dengan cepat tanpa ada kontribusi darinya.


Ia sering berfikir tentang kejanggalan yang ada pada hubungan mereka, namun mau bagaimana pun dirinya tetap menyukai Jeni apa adanya.


" Abisnya pikiran kamu tuh kotor terus." Balas Jeni.


" Tapi kan bisa di cubit, atau gemes-gemes manja gitu sayang ... kalau kamu pukul itu rasanya beda." Ucap Fajar.


" Namanya juga reflek, lagian aku gak biasa main cubit atau apalah itu, pukulan lebih memberikan kesan yang tertinggal." Balas Jeni dengan santainya.


" ..." Fajar hanya diam tanpa merespon ucapan Jeni, namun sebenarnya ia sedang tertawa terbahak-bahak dalam hatinya.

__ADS_1


Mereka berdua pun sampai di rumah wanita itu, Lalu Jeni turun dari motor Fajar dan menyerahkan helm miliknya. " Ati-ati ya sayang ..." Ucap Jeni sambil memberikan kedipan mata kepada Fajar, hal itu berhasil membuat pria itu tersenyum. Setelah mengambil helm dari Jeni, Fajar langsung beranjak dari tempat itu, dan Jeni menatap motor yang di kendarai oleh pria itu sampai hilang di telan oleh jarak pandangnya.


Lalu ia tersenyum menatap sisa-sisa bayangan yang baru saja ada di hadapannya, seolah ada rekaman ulang dari kejadian yang baru saja terjadi di depan matanya. entah mengapa perasaannya tiba-tiba saja bergejolak ... seperti akan ada hal buruk yang akan terjadi, entah hari itu atau di masa yang akan datang, yang jelas itu bukanlah hal yang baik.


Jeni masuk ke dalam rumah, merebahkan tubuhnya sebentar di atas sofa lalu mulai membereskan barang-barang yang akan di bawanya untuk pergi berlibur.


°°°°°


Pagi ini Jeni sudah terlihat cantik dengan pakaiannya, ia akan berangkat bersama teman-temannya menuju Villa Pinus Tua. " Bibi baik-baik ya di rumah, aku mau pergi liburan sama temen-temen ku." Ucap Jeni berpamitan.


" Mau berapa lama non?" Tanya wanita itu.


" Hmph ... mungkin, sebulan lebih gitu, jadi bibi bisa ngapain aja selama aku liburan. Mau pulang ke kampung juga boleh, lagian juga di rumah gak ada orang."


" Owh, iya non. Tapi non udah kasih tahu nyonya kan?" Wanita itu kembali bertanya.


" Biarin aja ... lagian gak lama kok aku perginya. Dan kalau tahu pun, emangnya Mama mau ngapain? dia kan sibuk kerja, entar malah kepikiran pula." Jawab Jeni menjelaskan.


" Iya, non. Kalau gitu sarapan dulu ya, Bibi udah siapin di meja makan." Wanita itu mengajak Jeni menuju meja makan, dan sudah tersedia banyak makanan di sana.


" Kalau gitu aku pergi ya ..." Jeni berpamitan sambil melambaikan tangannya, lalu ia masuk kedalam mobil. Menatap wajah sang pacar dengan senyuman cerianya, pria itu terlihat senang dengan ekspresi Jeni saat itu.


" Ada yang lagi seneng nih kayaknya." Goda Fajar pada Jeni.


" Emang." Jawabnya singkat.


" Emang? emang kenapa?" Tanya Fajar yang sedikit penasaran.


" Karena aku bareng kamu ..."


Kok berasa aneh ya di digoda sama cewek, itu kan harusnya aku yang godain dia? ini kok tambah membingungkan sih.


"Kenapa sayang, kamu lagi ada pikiran ya?" Tanya Jeni.


Mana peka banget pula instingnya, mungkin aku kalah peka deh kalau di bandingin sama dia. Fajar tersenyum-senyum sendiri saat memikirkan pacarnya itu. Namun, itu justru membuat Jeni agak sedikit aneh dengan Fajar.

__ADS_1


Apa jangan-jangan dia sekarang punya penyakit stress? aduh kasian banget pacar ku ini, pasti dia lagi banyak pikiran deh.


" Sayang ..., kalau ada masalah gak papa kok cerita. Kamu jangan pendam sendiri, itu gak akan baik loh buat kesehatan kamu."


" Bukan apa-apa kok." Balas pria itu.


Mereka berdua sampai di rumah Fajar, dan terlihat teman-temannya telah berkumpul di kursi taman rumah Fajar. Beberapa tas besar pun ada di depan pintu rumah lengkap dengan barang tambahan mereka.


Tin ...! tin ...!


Suara mobil Fajar.


Ia membuka kaca mobilnya dan melihat teman-temannya sudah bersiap dari tempat mereka masing-masing. " Ya udah, ayo kita berangkat sekarang." Ajak Fajar.


Mereka semua mulai mengambil barang-barang dan meletakkannya di bagasi mobil Fajar dan Galih, Sebelum berangkat mereka sudah setuju akan menggunakan 2 mobil, jadi mereka bisa lebih mudah untuk berbicara selama perjalanan menuju Villa Pinus Tua.


Mobil yang di bawa oleh Fajar di di ikuti oleh Jeni, Cakra dan Mita. Sedangkan mobil yang di bawa oleh Galih di ikuti Bella dan Lisa. Setelah itu mereka mulai beranjak menuju Villa Pinus Tua.


" Jadi dua pasangan kita Ra ..." Canda Fajar.


" Haha, iya. tapi aku sih kasian sama Lisa, dia jadi obat nyamuk di antara Bella sama Galih ... kasian banget hidupnya." Cakra tertawa mengejek.


" Seneng ya! puas! ketawa aja di atas penderita orang lain, kamu nih kebiasaan ya! kasian loh Lisa, kok kamu malah kayak gitu sih." Ketus Mita. Teman mereka yang satu ini memang memiliki rasa kepedulian yang sangat tinggi, jadi dia sangat anti saat melihat orang lain menghina di depannya, entah itu menghina dirinya maupun orang lain.


Jeni hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku temannya itu, ia sudah paham dengan sifat seorang Mita ... jadi dirinya tak terlalu risih dengan sikapnya itu.


" Awas sayang ...!!" Teriak Jeni saat melihat sesuatu melintasi cepat di depan mobil mereka.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


MITA``



\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


SaLaMnOlNoL ...


__ADS_2