
Lisa masuk ke dalam kamar Fajar, terlihat pria itu sedang duduk di atas kasurnya sambil menundukkan kepala.
Aku gak salah liat lagi kan ...? masa iya sih ini halusinasi lagi ...? coba aku pegang aja kali ya ...? Lisa mulai mendekatkan tangannya ke tubuh pria itu, Namun tiba-tiba saja dia mengangkat kepalanya dan membuat Lisa agak terkejut.
" Kamu Fajar kan?" Tanya Lisa yang agak sedikit ragu-ragu. Pria itu tak menjawab pertanyaannya, namun pria itu menatap dirinya dengan tatapan yang agak aneh.
" Ya iyalah, emangnya siapa lagi ... masih pagi udah aneh-aneh aja. Aku baru bangun tidur, gak liat apa?" Ketus Fajar yang agak sedikit kesal saat di tanya pertanyaan aneh padahal dirinya baru saja bangun dari tidur.
" Ya udah, kamu cuci muka abis tuh ke meja makan, Aku udah masak buat sarapan." Ucap Lisa sambil membalikkan badannya dan melangkah pergi menuju ruang makan.
Tak beberapa menit kemudian, Fajar datang ke ruang makan setelah membersihkan wajahnya. Kedua wanita itu sudah siap di kursi mereka masing-masing beserta makanan yang ada di atas meja.
Fajar duduk, menatap bermacam-macam hidangan yang tersedia di atas meja. Suasana agak sedikit canggung pada saat itu, tak ada yang tahu harus berbicara apa untuk mencairkan suasana.
Jeni melihat tangan Fajar yang ada di atas meja, tangan itu sudah terbungkus oleh perban putih. Tepatnya di bagian sebelah kanan, ia agak sedikit kasih saat melihat tangan pria itu.
Mau bagaimanapun, Fajar terluka karena dirinya. Tapi satu hal yang masih mengganjal di hatinya, yaitu maksud dari senyuman yang di lemparkan oleh pria itu kepada dirinya.
Sarapan pagi itu usai dengan suasana dalam diam, Lisa mulai membereskan sisa-sisa makanan dan piring kotor yang ada di atas meja, Ia meninggalkan Jeni dan Fajar berdua di sana.
Makasih Lis ... Jeni membatin, dia tahu maksud baik dari teman wanitanya itu yang berusaha memberikan waktu untuk dirinya berbicara dengan Fajar.
" Fajar ..." Ucap Jeni dengan nada rendah, namun itu cukup untuk membuat pria itu mendengarnya. Entah mengapa ia tak berani berbicara dengan Fajar menggunakan bahasa yang biasanya dia pakai.
__ADS_1
Apa karena merasa bersalah atau apa, yang jelas Jeni tak bisa melakukannya. Pria itu meletakkan gelas yang baru saja di minumnya, kini dia tak bergerak seperti enggan untuk berbicara.
Jeni semakin merasa bersalah, ia tak pernah melihat Fajar yang marah kepada dirinya lebih dari 1 hari, melihat pria itu yang enggan untuk berbicara dengannya ... membuat hati Jeni terasa begitu sakit.
" Aku minta maaf soal yang ..."
" Aku mau pergi." Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba saja Fajar langsung menyela wanita itu.
" Kata pak Yanto, biaya penginapan bisa diurus hari ini, Jadi aku mau pergi ngurus administrasinya dulu." Pria itu tak melirik ataupun menoleh kepada Jeni, ia berbicara sambil menatap lantai yang ada di hadapannya.
Tanpa menunggu respon ataupun jawaban dari Jeni, ia langsung saja pergi meninggalkan ruangan itu. Seketika hati Jeni terasa begitu menyakitkan, ia terus menyalahkan anak yang ada di dalam perutnya itu.
Kebiasaan Jeni adalah menyalakan orang lain, dan yang bisa di salahkan sekarang hanyalah anak yang ada di dalam perutnya. Padahal dia ingin sekali menyalakan pria yang sudah melakukan itu semua kepada dirinya, namun melihat wajahnya saja Jeni belum pernah, jadi menurutnya itu seperti percuma saja.
Fajar berjalan menuju kamarnya, ia masuk ke kamar mandi yang ada ruangan itu. Dengan handuk putih yang di keluarkannya dari lemari, kini Fajar melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai ... ia langsung mengenakan pakaiannya dan beranjak dari Villa itu.
Fajar celingak-celinguk melihat sekeliling sebab tak menemukan mobilnya di halaman Villa. Padahal dia yakin telah memarkirkannya di halaman Villa setelah menjemput Jeni.
" Mobil kamu lagi sama Galih, mereka tadi malem pinjem mobil kamu baut balik ke Villa. Jadi mereka gak mungkin mau naik sepeda karena kabut udah tebel tadi malem." Ucap Lisa menjelaskan, ia buru-buru dari dapur untuk memberitahu itu, karena jelas Fajar akan mencari mobilnya saat melihat mobil itu tidak ada di halaman Villa.
" Oh." Jawab pria itu singkat, entah mengapa moodnya menurun setelah sarapan pagi itu. Padahal sebelumnya ia berbicara dengan Lisa dengan santai seperti biasanya.
Fajar beranjak pergi dengan menaiki sepeda yang ada di halaman Villa, ia mengayuh pedal dan mulai meninggalkan tempat itu. Walaupun tangannya masih di perban, ia tetap bisa mengendarai sepeda dengan santai ... akan tetapi dia tak bisa bergerak lurus sepenuhnya, sebab kendali tangan yang kurang stabil saat mengendarainya.
__ADS_1
Sejauh mata memandang hanya terlihat kabut putih dimana-mana, namun untungnya pagi itu baru saja turun hujan. Jadi kabut putih yang menyelimuti jalanan kini tak terlalu tebal dan cukup untuk melakukan aktivitas.
" Jauh banget pula ... mana pagi-pagi gini harus naik sepeda ke sana, Hah ... kalau gak salah Villa nomor 13 deh tempatnya." Gumam Fajar sembari menelusuri jalanan pagi itu.
°°°°°
Lisa kembali masuk ke dalam setelah berbicara dengan Fajar, ia menutup pintu dan berjalan menuju dapur. Dan disana masih ada Jeni yang tertunduk diam sambil menatap ke arah lantai.
" Gimana Jen? kamu udah ngomong sama dia?" Tanya Lisa dengan wajah yang sangat penasaran, wanita itu langsung mengangkat pandangannya dan menatap Lisa dengan tatapan kesal.
" Aku tadi gak di peduliin sama sekali! Malah dia pergi gitu aja, kayak omongan ku cuma basa-basi semua ... padahal aku kan pengen ngomong serius sama dia." Jeni sampai marah-marah sendiri sebab masih kesal dengan sikap pria itu kepada dirinya.
" Mungkin Fajar masih perlu waktu untuk sendiri ..." Balas Lisa mencoba untuk menenangkan Jeni. Namun, Wanita itu tak menjawab ataupun merespon kata-kata darinya.
Setelah itu Lisa melanjutkan langkahnya, ia belum selesai mencuci piring bekas makan. Jadi ia kembali untuk menyelesaikannya, wanita yang terduduk di ruang makan itu hanya diam.
Wajahnya terlihat sangat kebingungan, seolah ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Jeni memainkan jarinya di atas meja makan seraya memikirkan sesuatu yang bahkan ia tak mengerti.
Saat Lisa sudah selesai mencuci piring, ia langsung menghampiri Jeni yang masih terduduk lemas di kursinya. " Jeni ..." Ucap Lisa sambil menepuk pundak wanita itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
SaLaMnOlNoL ...
__ADS_1