
Fajar, galih, dan Cakra terlihat menghampiri rombongan Jeni, mereka mengajak Jeni dan teman-temannya untuk berkumpul bersama.
" Ehh ... Fajar, emang mau kumpul dimana?" Tanya Bella.
" Di tempat biasa, kami mau bahas soal liburan. Soalnya kan, mulai besok kita udah mulai libur." Jawab Fajar.
" Wah, kebetulan banget nih. Kami juga belum ada rencana loh, gimana kalau kita liburan bareng aja?" Bella memberi saran.
" Emang itu maksud kita ngajak kalian buat kumpul bareng." Balas Galih.
" Bener tuh, biar pasangan gitu ya kan ..." Goda Cakra.
" Wah ... gak boleh gitu dong Ra, temen ku ada yang masih kosong loh, hahaha." Tawa Mita mengejek.
" Ketawa aja terus ... ku masukin kaus kaki Mau!" Balas Lisa yang sudah kesal dengan temannya itu.
" Hehehe, santai dong. Aku kan cuma bercanda ..." Mita berbicara sambil melemparkan wajah imutnya, Lisa berdecak saat melihat wajah wanita itu.
" Ya udah, gak ada yang keberatan juga kan? jadi kita setuju nih mau liburan bareng?" Pertanyaan Jeni itu di respon dengan anggukan oleh ketiga teman-temannya itu.
Setelah itu mereka bertujuh pergi ke tempat biasa mereka sering berkumpul. namun, biasanya Lisa paling tak suka bila di ajak berkumpul bersama, bagaimana tidak ... Lisa sendiri tak memiliki pasangan dalam kelompok mereka itu, dan keenam temannya berpacaran dengan pasangan satu sama lain. Hal itu membuatnya kurang nyaman saat berkumpul bersama.
Mereka semua masuk ke dalam cafe dan mengisi bagian sudut ruangan, tempat itu memang di khususkan agar bisa dipakai untuk duduk beralaskan karpet, yang cukup nyaman dan lembut bagi para pengunjung.
" Jadi kita rencana mau kemana nih?" Tanya Jeni.
" Nih, kalian semua liat ya ... kemarin waktu lagi searching aku gak sengaja nemu artikel ini." Ucap Cakra sambil menunjukan artikel yang ada di ponselnya.
__ADS_1
" Villa Pinus Tua? Namanya kok unik banget ya." Tanya Jeni saat melihat foto artikel yang di tunjukan oleh Cakra.
" Ia, dan katanya ... di villa ini pernah terjadi pembunuhan gitu." Cakra menjelaskan.
" Ih ... serem banget." Mita sedikit takut mendengar apa yang dikatakan oleh Cakra.
" Terus ...? kamu mau kita ke sana gitu ...? jangan nyari sensasi deh, kan udah tahu kalau itu bekas pembunuhan. jadi kita mau ngapain di sana ...? mau ikut nyusul mereka juga ...?" Tanya Bella yang sedikit kesal.
" Bukan gitu Bel, di villa Pinus Tua ini ... pemandangannya bagus banget. Dan di tempat ini tuh paling cocok buat rileksasi pikiran, di tambah lagi di sana itu spot fotonya Instagram Able banget."
" Bener tuh, kita bisa update sosmed kita sekalian jadi kenang-kenangan yang tak terlupakan gitu. Sekarang kan udah mau lulus tuh, dan sebentar lagi kita udah mau tamat SMA, jadi seenggaknya kita buat kenang-kenangan dong." Ucap Galih membenarkan saran dari Cakra.
Ke-empat wanita itu terlihat sedang mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh Galih, dan hal itu terdengar masuk akal.
" Kayaknya gak ada salahnya deh kalau kita coba." Ucap Lisa yang setuju dengan saran itu.
" Iya menurut ku juga gitu." Mita ikut setuju dengan saran Cakra.
" Aku juga sependapat sama kamu Jen, dari awal aku emang gak setuju sama rencana ini." Bella kembali mengeluarkan penolakannya.
Fajar nampak sedikit tidak setuju dengan penyangkalan Jeni dan Bella. " Kalian jangan parno dong, lagian ini tuh udah lama banget kejadiannya. Dan paling-paling mereka semua udah tenang di alam mereka yang sekarang." Fajar ikut berkomentar.
" Bukan itu masalahnya sayang, tapi kan kita gak tahu alasan bisa ada pembunuhan yang terjadi di tempat itu. Dan ini perlu di pertimbangkan lagi sayang." Jeni membantah ucapan Fajar.
" Iya sayang, aku nurut aja sama kamu." Fajar akhirnya diam sebab pacarnya itu sudah membuat keputusan yang bulat, dan ia paham bahwa untuk meyakinkan seorang Jeni itu tidaklah mudah.
Karena memang pacarnya itu memiliki pemikiran yang jauh lebih dewasa, walaupun sifat jahil dan nakalnya itu tetap ada pada dirinya. Itu merupakan kelebihan yang dimiliki oleh Jeni di samping sifatnya yang terkesan dewasa dan gentle seperti seorang pria.
__ADS_1
" Jadi gimana dong? apa kita cari tempat lain aja?" Tanya Lisa. Ia adalah orang yang paling mudah takut di antara mereka semua, apalagi saat melihat ekspresi Jeni yang sudah serius dengan ucapannya, dia sudah mengenal Jeni cukup lama, jadi tak heran bila dia agak sedikit tak nyaman dengan kepribadian Jeni saat berubah seperti seorang pria.
" Udahlah tenang aja, di sana aman kok. Beberapa bulan setelah kejadian pembunuhan itu, Villa Pinus Tua udah di buka buat umum kok, dan sampai sekarang gak ada tuh kejadian-kejadian aneh di sana. Cuma memang sepi karena rumor pembunuhan itu, tapi kalau ngeliat situasinya sekarang ... kayaknya rumor itu cuma bohongan deh." Galih mengeluarkan pendapatnya.
" Tapi kalau memang bohong, apa keuntungan mereka sehingga buat artikel kayak gitu? apalagi itu di keluarin dari salah satu artikel yang sudah terpercaya kebenarannya selama ini, jadi gak ada lagi yang perlu di ragukan?" Jeni tak mengurangi sedikitpun ekspresi dinginnya, ia perlu jawaban yang logis dan masuk akal untuk meyakinkan dirinya.
" Bisa aja kan itu perbuatan orang yang gak suka dengan ketenaran Villa Pinus Tua, kita gak tahu tentang masalah apa yang terjadi di Villa Pinus Tua ... dan aku rasa kurang baik kalau asal kasih pendapat gitu aja, padahal kan gak ada bukti kebenarannya sama sekali tentang kejadian itu." Jawab Galih.
" Oke, aku setuju. Tapi kalau di sana aku nemuin bukti tentang rumor pembunuhan itu ... kamu harus traktir kita makan sepuasnya sampai tamat SMA. gimana? berani?" Ucap Jeni menantang.
" Oke, deal. Tapi itu berlaku untuk sebaliknya ..." Galih menekan kata sebaliknya, sambil menaikkan sebelah alis matanya sembari menunggu sebuah jawaban dari wanita itu.
" Oke, aku deal." Ucap Jeni dengan penuh kepercayaan diri.
" Jadi udah setuju semua nih?" Tanya Fajar yang mencoba mencairkan suasana diantara Galih dan pacarnya itu. Namun tak ada jawaban dari Jeni, dan teman-teman wanita lainnya tak ada yang berani untuk berbicara karena melihat suasana hati Jeni yang kurang baik.
Fajar cukup mengerti dengan apa yang di rasakan oleh teman-teman Jeni, ia hanya bisa tersenyum kecut dan menganggap semua masalah itu telah selesai.
" Oke, besok jam 10 kita kumpul di rumah ku ya. Dan untuk pembahasan kita hari ini aku anggap selesai." Tak ada yang merespon kata-kata dari Fajar, namun ia mengerti bahwa mereka tak ada yang keberatan lagi.
Sedangkan Galih dan Jeni masih duduk dalam diam, dan Cakra pun tak tahu harus berbicara apa pada saat itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
FAJAR``
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
SaLaMnOlNoL ...