
Teman-teman Jeni sudah nampak hilang di telan oleh jarak pandangnya, ia tak lagi bisa melihat teman-temannya yang menaiki sepeda menuju Villa.
Setelah itu Jeni terduduk diam di kursi mobil bagian depan, entah kapan Fajar akan datang untuk menjemputnya ... Karena pasti itu bukanlah waktu yang di bilang singkat, apalagi sebelumnya Fajar mengatakan jarak mereka hanya tinggal setengah jam saat menggunakan mobil.
Jeni dapat memperhitungkan waktu yang akan di tempuh mereka saat sampai di Villa, dan itu akan menjadi dua kali lipat jika akan kembali untuk menjemputnya.
" Pengen main hp tapi gak ada sinyal, terus aku ngapain ya? masa tidur-tiduran aja sih." Jeni berbicara sendirian seolah memiliki teman bicara.
" Apa aku coba liat-liat sekitar sini aja ya? lumayanlah kalau misalnya aku dapet spot foto yang instagramable, bisa ku post di sosmed nih." Jeni melangkah pergi keluar mobil, Ia mulai berjalan sambil melihat-lihat pepohonan dan pemandangan yang ada di sekitarnya.
" Wah ... keren banget, berasa kayak lagi di puncak." Ucap Jeni sambil tersenyum melihat indahnya pemandangan dari jarak ketinggian. Sangat jarang dirinya bisa melihat pemandangan indah seperti yang ada di depannya saat ini.
Karena di kota biasanya jarang sekali di temukan hamparan pohon ataupun pemandangan alam yang indah, yang ada hanyalah gedung-gedung pencakar langit serta berbagai pusat industri swalayan dan lain sebagainya.
Jadi tak heran matanya sampai takjub melihat pesona alam hayati yang masih terjaga kelestariannya di tempat itu. " Sayang banget pemandangan ini gak bisa di nikmati oleh banyak orang, entah motif apa yang di maksud orang itu sampai buat berita bohong tentang pembunuhan yang gak jelas ...." Jeni mengendus kesal, ia tak terima bila keindahan yang ada di depan matanya itu terabaikan begitu saja.
Loh kok aku malah setuju sama pendapat Galih sih? gak boleh gak boleh, aku pokoknya harus bisa dapetin bukti kalau di Villa Pinus Tua itu benar-benar bekas tragedi pembunuhan.
Jeni berjalan sambil berputar di sekelilingnya, melihat hamparan pohon hijau yang membuat mata seolah beristirahat dalam kenyamanan.
Entah mengapa ia begitu tenang dan nyaman sampai matanya tak lepas untuk memandang pepohonan itu. Tiba-tiba saja terdengar suara berisik dari arah semak-semak yang ada di ujung jalan, sedikit jauh dari tempatnya saat itu namun masih bisa di liat dari kejauhan.
Karena penasaran akhirnya Jeni berjalan menuju tempat suara itu berasal, entah mengapa perasaannya mendadak tidak nyaman. Ia ingin mengurungkan niatnya tapi hatinya seolah berkata tidak, tangannya bergerak dengan sendirinya seperti di kendalikan oleh rasa penasaran.
Saat tangan Jeni mulai mendekat dengan semak itu tiba-tiba sesuatu meloncat ke arahnya. " Aaaaaaaaa!!" Teriak Jeni terkejut dan langsung mundur beberapa langkah, ternyata itu adalah seekor kelinci hutan yang keluar dari dalam semak-semak.
__ADS_1
" Bikin kaget aja nih kelinci, untung aku gak punya riwayat penyakit jantung." Jeni kembali menegakkan badannya.
" Ayu sini sama kakak, kita main bareng-bareng ya ..." Ucap Jeni dengan imut sambil bersiap untuk menangkap kelinci itu. Namun anehnya kelinci itu hanya diam seolah menunggu Jeni menangkap dirinya.
Kok dia gak loncat? biasanya kan kelinci hutan gak suka kalau di pegang sama orang lain? atau jangan-jangan ini ulah orang itu lagi?
Jeni langsung melihat ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang di curigai oleh mereka selama ini, orang yang sudah menghambat dan membuat mereka semua cemas sepanjang perjalanan.
" Siapa disana?! keluar kamu!! aku gak takut sama kamu!! kalau berani jangan cuma sembunyi doang!!" Tantang Jeni yang sudah kesal dengan orang itu.
Ia berani menantang bukanlah sekedar gertakan semata, namun Jeni memang menguasai kemampuan untuk melindungi diri. Ia pernah belajar di perguruan dan mendapatkan pencapaian sebagai murid terbaik di perguruannya, jadi dia tak terlalu takut sebab memiliki tiang pelindungnya sendiri.
Beberapa saat kemudian tak terdengar respon ataupun suara dari arah manapun, yang ada hanyalah kicauan burung yang bertengger di atas pohon dan beberapa hewan kecil bersuara nyaring menghiasi sekelilingnya.
Jeni berputar kecil sambil tetap memasang kuda-kuda untuk melindungi dirinya jika orang itu tiba-tiba saja menyerang, namun setelah lama menunggu orang itu tetap tak muncul ataupun mengeluarkan tanda-tanda akan kehadirannya.
Karena sudah mulai panik akhirnya Jeni berlari menuju mobil, Ia masuk ke dalamnya dan langsung menutup semua kaca dan pintu mobil.
Hatinya masih tidak tenang walaupun sudah masuk ke dalam mobil, entah mengapa dirinya merasa ada yang aneh dengan suasana pada saat itu.
Tiba-tiba saja mulut dan hidungnya di tutup oleh sebuah tangan yang datang dari kursi belakang. "Mmmm! ... mmm!!" Teriak Jeni berusaha melepaskan diri. Namun, pandangannya perlahan mulai kabur layaknya seseorang yang memiliki penyakit rabun.
Dan saat itu juga ia merasa ingin tidur padahal sebelumnya ia tak merasa ngantuk sama sekali. Jeni mulai memejamkan matanya tanpa bisa di kendalikan, lambat-laun kesadarannya pun ikut hilang dan tak lagi merasakan apapun.
°°°°°
__ADS_1
" Sayang, bangun sayang ... ayo kita ke Villa." Ucap Fajar membangunkan Jeni.
Wanita itu mengerjapkan matanya bangun dari tidur, " Hah! dimana dia!? dia pergi kemana sayang!!" Teriak Jeni yang baru saja bangun dari tidurnya.
" Kamu ini ngomong apa sih! dia siapa? siapa yang kamu maksud? aku dari tadi gak liat siapa-siapa?" Ucap Fajar kebingungan.
" Cowok itu!! dia yang ngelakuin semua ini!! aku yakin banget kalau dia pelakunya!" Jeni terlihat sangat panik, Fajar pun bingung dengan apa yang sedang dikatakan oleh Jeni.
" Pelaku apa? dan cowok mana? kamu abis berduaan sama cowok disini!! jangan bilang kamu abis ngelakuin hal yang enggak-enggak sama dia!!" Bentak Fajar.
" Kok kamu malah nyalahin aku sih, aku juga sekarang baru sadar. Dan cowok itu entah datang dari mana tiba-tiba aja nutup hidung aku! setelah itu aku udah gak inget apa-apa lagi." Jeni menjelaskan.
Wajah Fajar langsung berubah kesal, dirinya tak pernah membayangkan itu semua akan terjadi kepada Jeni. Sekarang ia menyesali keputusannya karena sudah meninggalkan pacarnya itu seorang diri.
" Sialan!!" Fajar langsung berjalan keluar mobil dan berlari sekencang mungkin, ia mulai mengelilingi tempat itu sambil mencari orang yang di maksud oleh Jeni.
" Keluar kau pengecut!! jangan cuma berani main dari belakang!! kalau kamu beneran laki ... keluar sini!! kita selesaiin masalah ini secara jantan!!" Amarah Fajar membabi buta, ia benar-benar kesal karena pria itu berani menyentuh wanitanya.
Setelah beberapa saat menunggu, orang itu tetap tidak menunjukkan dirinya. " Sayang ... ayo kita pergi dari sini. Aku udah gak mau lagi nunggu lama-lama" Jeni terlihat ketakutan.
Fajar pun menenangkan dirinya, dan mencoba untuk berfikir secara logis. Jeni pasti ketakutan dan tak nyaman berlama-lama lagi di tempat itu. Akhirnya Fajar membawa Jeni pergi menuju Villa Pinus Tua setelah mengisi angin dan bensin mobilnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
SaLaMnOlNoL ...
__ADS_1