
Galih dan teman-temannya memutuskan untuk ikut satu mobil dengan Fajar, walaupun harus saling berdekatan dengan barang-barang milik mereka masing-masing.
Miiaaw ... miiaaw ...
Tiba-tiba saja terdengar suara kucing dari bawah kursi bagian tengah. Mita pun akhirnya melihat ke bawah kursinya dan ternyata di sana ada seekor kucing hitam.
" Loh kok ada kucing hitam? kalian abis nemu di jalan?" Galih bertanya sebab ia sedikit heran dengan adanya kucing di dalam mobil Fajar.
" Enggak kok, coba tanya sama Mita." Jawab Fajar.
" Kok aku?" Mita bertanya karena bingung saat tiba-tiba saja di tunjuk oleh Fajar.
" Kan biasanya kamu suka sama hewan ..." Balas Fajar sambil menyetir.
" Gak kok, aku gak ngambil kucing ini. Malah aku juga tadi mau nanya." Pengakuan Mita itu berhasil membuat semua orang dalam mobil diam selama beberapa detik, mereka bingung sekaligus terkejut dengan pengakuannya yang tak merasa mengambil kucing itu.
" Owh iya! tadi malem kan aku dengar suara kucing. Jadi aku keluar mobil buat ngeliatnya, waktu ku samperin ternyata gak ada jadi aku masuk lagi ke dalam mobil. Dan ku rasa, dia ikut masuk waktu aku buka pintu mobil." Fajar menjelaskan.
Semuanya terlihat lebih tenang saat mendengar apa yang dikatakan oleh Fajar. Sebelumnya mereka agak sedikit takut dengan kucing hitam itu ... karena biasanya kucing hitam sering di kaitkan dengan kesialan atau tragedi buruk.
Mita mengelus-elus kucing itu di pahanya, ia terlihat sedang bermain sambil menarik-narik ekor kucing itu. Namun, tiba-tiba saja tangan Mita seolah berhenti dengan sendirinya, Tubuhnya gemetar ketakutan, dan itu sangat jelas terlihat oleh Cakra yang duduk disebelahnya.
" Kamu kenapa sayang!?" Cakra panik saat melihat Mita gemetaran hebat, ia jadi bingung sekaligus cemas dengan sikap Mita yang tiba-tiba gemetar ketakutan.
"Kamu kenapa Mit?" Tanya Lisa yang juga ikut terkejut sebab duduk di sebelahnya. Namun, wanita itu hanya diam saja tanpa berbicara, matanya melotot ketakutan. Melihat hal tersebut Lisa langsung menggeserkan tubuhnya, ia mengambil tas yang ada di dekatnya lalu meletakkan tas itu di samping tempat duduknya.
__ADS_1
Berjaga-jaga takut Mita tiba-tiba saja melakukan hal buruk yang tak di inginkan, sekarang Lisa ikut gemetar ketakutan ... tapi berbeda dengan Mita yang gemetar karena sesuatu yang tidak jelas, Lisa gemetar ketakutan karena melihat Mita yang nampak nampak sedikit menakutkan.
Fajar sesekali menengok arah belakang untuk melihat keadaan temannya itu, karena dirasa sudah bertambah aneh akhirnya ia menghentikan mobil di pinggir jalan. Sekarang mereka semua menatap takut sekaligus aneh kepada Mita, ia tak berbicara sama sekali, hanya terus melotot sambil gemetar ketakutan.
" Buka kacanya Jar!!" Teriak Mita yang mengagetkan se-isi mobil.
Fajar yang mendengar hal tersebut langsung bergerak cepat untuk membuat kaca mobil yang dekat dengan Mita dan Lisa. Ia tak tahu ada apa dengan wanita itu, namun Fajar melakukan apa yang di suruh nya tanpa protes sedikit pun.
Tiba-tiba saja Mita melemparkan kucing hitam itu ke luar mobil, semua orang bertambah kaget dengan apa yang dilakukannya. Mereka biasanya mengenal sosok Mita yang simpati pada makhluk hidup, tapi pada saat itu ia seperti bukan Mita yang mereka kenal.
" Jalan Fajar!!" Bentak Mita yang membuat semuanya memundurkan kepala sebab terkejut.
Fajar langsung menekan pedal gas sekuat mungkin, mereka semua melaju dengan sangat cepat meninggalkan kucing itu. Saat dirasa sudah cukup jauh dan keadaan Mita sudah tenang, barulah Fajar memperlambat kecepatan mobilnya.
" Kamu kenapa Mita?!" Tanya Jeni dengan nada yang cukup keras, dirinya yang di kenal tidak mudah takut saja sampai sedikit gemetar saat melihat Mita yang bertingkah aneh. Ia tak habis pikir bisa melihat Mita sampai se-mengerikan itu, bahkan untuk berbicara pun Jeni tak memiliki keberanian.
" Waktu aku elus kucing itu, aku ngerasa ada yang aneh." Mita bercerita dengan nada yang bisa dikatakan cukup rendah, mereka semua agak sedikit merinding mendengarkannya walaupun ia belum menyelesaikan penjelasannya.
Semua orang memperhatikan Mita dalam diam, menunggu apa yang akan dikatakan oleh wanita itu. " Waktu ku liat ..., ternyata beneran ada tanda itu."
" Tanda apa?" Tanya Cakra yang sangat penasaran dengan maksud pacarnya itu.
" Di lehernya ada bekas luka segitiga, dan itu sama persis dengan kucing hitam yang sebelumnya udah kita kubur di pinggir jalan."
Semua orang diam, bahkan untuk bernafas sekalipun mereka melakukannya dengan perlahan. Badan mereka mendadak gemetar ketakutan saat mengetahui alasan Mita bertingkah aneh.
__ADS_1
" Dan aku bisa jamin kalau itu kucing yang sama, karena waktu kita mau nguburin kucing itu, aku sendiri yang angkat dia ke pinggir jalan ... dan waktu itu Jelas banget aku liat kalau ada bekas luka di lehernya."
Tak seorang pun merespon ataupun bertanya, suasana yang hening membuat bulu kuduk mereka seolah bediri. Seperti sedang ada hal negatif yang menyelimuti tempat mereka pada saat itu.
Fajar perlahan mulai melanjutkan perjalanan mereka menuju Villa Pinus Tua, ia menekan pedal gas secara perlahan-lahan, entah mengapa ia seperti takut untuk menekannya terlalu kencang.
Lisa memeluk Mita karena merasa takut dengan suasana itu, sedangkan Mita sendiri berpelukan dengan Cakra karena ia pun merasakan hal yang sama. Di kursi belakang pun Bella memeluk Galih dengan erat, ia benar-benar takut dengan penjelasan yang di katakan oleh Mita.
Galih berusaha terlihat tenang agar pacarnya tak terlalu ketakutan dengan apa yang dikatakan oleh Mita. Walaupun ia tak bisa menyangkal bahwa dirinya sendiri sedikit merasa takut.
Mereka semua saling berpelukan satu sama lain untuk menenangkan diri mereka masing-masing, Lain halnya dengan Jeni yang duduk di bangku depan bersebelahan dengan Fajar.
Ia tak bisa ikut berpelukan seperti teman-temannya yang lain, Jeni hanya bisa sedikit mengelus sikunya yang terasa dingin. Berusaha untuk menenangkan diri agar tidak takut walaupun tak berpelukan dengan siapapun.
Fajar melirik ke arah Pacarnya itu, ia sedikit tersenyum kecut karena merasa kurang memberikan kasih sayang kepada Jeni. Namun, untungnya wanita itu masih bisa mengendalikan rasa takutnya ketimbang dengan teman-temannya.
Pacarnya itu juga adalah orang yang sangatlah pengertian. Saat melihat Fajar sedang mengemudi, Jeni lebih memilih untuk tidak menggangunya dengan permintaan yang mungkin akan mengusik konsentrasinya saat menyetir.
Setelah itu Fajar kembali fokus pada kemudinya, menatap ke arah jalan yang dilewati oleh mereka. Beberapa saat kemudian matahari pun muncul menyinari tempat-tempat gelap di sekeliling mereka, dan saat itulah Fajar dan yang lain sudah merasa sedikit lebih tenang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
CAKRA``
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
SaLaMnOlNoL ...