
Fajar masih mengemudikan mobilnya, teman-temannya sudah mulai melepaskan pelukan mereka satu sama lain. Matahari yang menyinari tempat gelap seolah memberikan ketenangan dan kehangatan bagi mereka.
" Aku masih gak habis pikir tahu." Ucap Lisa yang memecah keheningan itu.
" Sama, aku juga kayak gitu. Tapi yang kamu omongin beneran kan Mit? bukan cuma niatan kamu buat nakut-nakutin kita kan?" Tanya Bella tadi kursi belakang.
" Iya ... aku gak bohong, Dan itu jelas banget ada di leher kucing itu." Jawab Mita.
" Tapi yang aku aneh, kok kucing itu bisa balik lagi ya?" Jeni pun ikut angkat bicara. "Jelas-jelas kan kita udah kubur kucing itu di pinggir jalan, dah yang lebih bikin aku aneh ... kenapa bisa ada bekas luka segitiga di lehernya? coba deh kalian pikirin, emang ada benda tajam yang bentuk segitiga? gak ada kan ..." Imbuhnya.
" Iya juga sih ..." Respon Mita.
" Kok jadi makin aneh ya, aku jadi bingung dengan kejadian-kejadian yang baru-baru aja terjadi." Lisa berbicara dengan nada yang menunjukkan sebuah kebingungan.
" Kalau masalah ban mobil sih itu mungkin cuma kerjaan orang iseng aja, tapi kalau kucing hitam ini kayaknya gak bisa deh kalau kita kaitkan sama orang iseng lagi. Sebenarnya apa sih maksud dari semua ini?" Tanya Jeni pada semua orang yang ada di dalam mobil.
" Bisa aja kan itu kerjaan orang lagi." Galih ikut berbicara.
" Hah?" Respon Bella yang bingung dengan dengan sang pacar.
" Alasan pertama ... Kita memang gak kenal asli sama tempat ini, jadi kita gak tahu ada hubungan apa sama semua kejadian ini. Dan yang kedua ... Bisa aja dibuat alat yang di gunakan sama mereka buat tandai kucing hitam itu." Galih menjelaskan.
" Terus? yang kita kubur itu apa?" Tanya Mita yang penasaran sebab penjelasan itu seperti belum lengkap.
" Mungkin itu cuma kucing hitam yang sengaja di kumpulin sama mereka buat ngelakuin sesuatu. Namanya juga hewan, dan mereka ada banyak dimana-mana. Lagian Kamu juga gak bisa mastikan kalau itu benar-benar kucing yang sama kan?." Jawab Galih sekaligus bertanya pada Mita.
Wanita itu hanya mengangguk sebab paham dengan maksud Galih kepadanya, yang di katakan oleh pria itu memanglah terdengar masuk akal dan dapat diterima secara logis.
" Menurut ku masuk akal juga sih, jadi kita gak perlu takut sampai mikirin yang aneh-aneh lagi." Ucap Jeni.
Fajar membuka semua kaca mobilnya. " Mending kalian liatin ini." Semua orang sontak melihat keluar kaca, mereka ingin tahu apa yang dimaksud oleh Fajar.
" Wah bagus banget ..." Lisa langsung terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya, begitu pula dengan teman-temannya yang lain.
" Kita udah mulai masuk ke jalur utama Villa Pinus Tua, dan menurut perkiraan ku kita bakalan sampai kurang lebih setengah jam lagi." Ucap Fajar menjelaskan.
__ADS_1
" Akhirnya tujuan kita udah deket, aku pengen langsung istirahat kalau udah sampai, pegel banget nih sempit-sempitan sama barang." Protes Lisa.
" Hahaha, iya bener. Aku juga pengennya kayak gitu." Ucap Bella.
Tiba-tiba saja Fajar memberhentikan mobilnya, dan itu berhasil membuat mereka semua kebingungan dengan apa yang dilakukannya.
" Ada apa sayang? kok tiba-tiba berhenti." Tanya Jeni yang ikut kebingungan dengan sang pacar.
" Ini mobilnya kayaknya ada yang aneh." Jawab Fajar.
" Aneh gimana?" Jeni kembali bertanya.
" Entar deh aku cek dulu."
Fajar turun dari mobil untuk melihat apa yang terjadi dengan kendaraannya, Cakra pun ikut turun karena ia agak sedikit penasaran dengan apa yang sedang terjadi.
" Wah, pantesan bawa mobilnya kurang enak, ternyata ban-nya kempes." Ucap Fajar.
" Jadi gimana nih?" Tanya Cakra yang berada di sampingnya.
" Kenapa lagi nih? kok mobilnya gak bisa di nyalain?" Fajar agak sedikit kebingungan.
Jeni mencoba untuk melihat ke arah kemudi dan ternyata dugaannya benar. " Bensinnya abis sayang ..." Ia memberitahu Fajar alasan mengapa mobilnya tak dapat di nyalakan.
" Owh iya ya, pantesan gak hidup waktu ku nyalain barusan. Jadi kita ke Villanya gimana dong? masa kita mau nunggu orang datang benerinnya dulu?" Fajar meminta saran.
" Ya udah kita naik sepeda aja, mudah kan?" Jeni memberikan pendapatnya.
" Tapi kan sepeda kami bertiga ada di dalam mobil." Ucap Galih yang agak sedikit kebingungan.
" Kan bisa naik berdua ..." Balas Jeni.
" Terus yang tinggal siapa dong? masa kita mau pergi semua? harusnya kan ada satu orang yang tinggal buat jagain mobil, terus waktu kita udah sampai di Villa ... satu orang lagi balik buat bawain pompa sama bensin." Ujar Cakra.
" Kamu aja Lis yang nunggu, yang kosong ngalah ya ..." Canda Bella.
__ADS_1
" Kok aku sih! aku gak berani sendiri disini, Kalian tega sama aku." Wajah Lisa terlihat sedikit takut.
" Udah biarin aku aja yang nunggu disini, tapi jangan lama-lama loh. Aku gak mau nginep di mobil malam ini ..." Jeni menawarkan diri.
" Kama beneran gak papa sayang?" Tanya Fajar yang cemas.
" Nantangin ...?" Tanya sambil mengangkat tangannnya sejajar kepala.
Fajar hanya bisa tersenyum canggung dengan apa yang dikatakan oleh Jeni, dia bukannya takut ataupun tidak berani ... akab tapi ia tak mungkin untuk melakukan itu kepada Jeni.
Namun lain halnya dengan wanita itu, bahkan memukul sudah menjadi kebiasaannya. Jadi Fajar harus berfikir berulang kali untuk menjawabnya tanpa harus menyingung wanita itu.
" Enggak kok sayang, aku cuma khawatir doang." Ucap Fajar masih dengan senyum canggungnya.
" Ya udah, mending kalian cepetan kesana, aku gak mau ya nunggu lama-lama disini." Ketus Jeni.
Akhirnya mereka semua berangkat menuju Villa Pinus Tua. Cakra, Galih, dan Fajar mengayuh sepeda sedang para wanita duduk diam di belakang mereka.
" Kalau misalnya kita naik mobil setengah jam dengan kecepatan sedang, berarti mungkin kita bakalan sampai 1 jam setengah itupun paling cepet. Soalnya jalan disini naik ke atas bukan turun ke bawah, jadi bakal lumayan berat sepedanya." Fajar menjelaskan.
" Wah lama dong ... enak aku temenin Jeni aja kalau tahu gitu mah. Gak perlu panas-panas kayak gini." Protes Lisa.
" Banyak maunya kamu, kalaupun mau di mobil pasti Jeni pengen duluan. Emangnya kamu berani tinggal sendirian?" Tanya Fajar.
" Enggak sih ..." Jawab Lisa dengan senyum kecut.
Mereka semua mengayuh sepeda perlahan-lahan namun pasti, menuju Villa Pinus Tua yang tak terlalu jauh lagi dari tempat mereka pada saat itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
LISA``
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
SaLaMnOlNoL ...