
Malam ini ... Jeni dan teman-temannya kedatangan tamu yang tidak lain adalah penjaga Villa Pinus Tua, seorang pria paruh baya dan istrinya di samping pria itu.
Jeni dan teman-temannya duduk saling berhadapan satu sama lain di meja makan bersama pasangan suami istri itu, mereka menyantap makan malam dengan riang dan gembira.
" Semoga kalian betah ya disini." Ucap Pria paruh baya itu kepada Jeni dan teman-temannya.
" Iya, pak. Kalau boleh tahu ... nama bapak siapa ya?" Tanya Jeni sambil tersenyum kepada pria itu.
" Kalian bisa panggil saya Pak Yanto, dan ini istri saya Lilis, masalah pembayarannya bisa kalian urus besok pagi dengan Istri saya." Jawab Pak Yanto.
" Owh, kenapa gak tadi siang aja pak, waktu kami baru datang? biasanya kan orang-orang ngurus pembayaran itu langsung tanpa di tunda-tunda?" Tanya Bella yang keheranan.
" Itu karena ibunya sedang sibuk, jadi maaf atas keterlambatan kami yang membuat kalian kurang nyaman." Jawab pria itu dengan menundukkan kepalanya, ia melakukan itu untuk menjelaskan keseriusan dalam kata-katanya.
" Gak papa kok pak, Kami jadi gak enak kalau bapak kayak gitu ... nanti biar kami urus pembayarannya besok pagi." Ucap Bella sedikit canggung dengan apa yang dilakukan oleh pria itu.
" Owh ya pak, saya pernah denger ... katanya 1 tahun yang lalu disini pernah ada kejadian pembunuhan ya? kalau boleh tahu, itu bener atau enggak ya pak?" Tanya Jeni yang membuat mereka semua melirik ke arahnya.
Semua teman-temannya memang ingin menanyakan itu, namun mereka tak ada yang berani untuk bertanya. Untungnya pertanyaan Jeni itu berhasil mewakili semua pertanyaan yang ada di pikiran mereka.
__ADS_1
" Ah? ka-kalian tahu dari mana?" Tanya Pak Yanto yang terlihat sedikit gugup. Pria itu nampak kaget dengan pertanyaan yang di tanyakan oleh Jeni, dan hal tersebut berhasil membuat mereka semua merasa aneh dengan respon Pak Yanto, seperti ada sesuatu yang membuat pria itu kelabakan saat menerima pertanyaan dari Jeni.
" Di internet udah ada pak, dan saya rasa ini adalah sebab kenapa Villa Pinus Tua ini sepi dari pengunjung." Ucap Jeni menjelaskan. Teman-teman yang lain pun tak ingin terlalu banyak bicara, mereka percaya dengan kemampuan Jeni untuk mencari informasi.
Internet? jadi semua kejadian itu sudah di ketahui banyak orang? aku harus segera mengambil tindakan!
" Sebenarnya itu tidak pernah terjadi, saya pun bingung mengapa Villa Pinus Tua jadi teramat sepi dari para pengunjung. padahal sebelumnya Villa-villa disi sangat ramai di datangi oleh banyak orang, bahkan turis asing pun sampai datang kesini untuk berlibur." Pria itu berbicara tanpa ekspresi, membuat mereka sulit untuk menilai benar atau tidaknya kata-kata dari pria itu.
" Terus ... kenapa bapak gak mengklaim bahwa itu semuanya cuma berita bohong? bapak gak nutupin sesuatu dari kita kan?" Tanya Jeni dengan nadanya yang terkesan mengintrogasi.
Pak Yanto terdiam, menatap Jeni dengan tatapan yang sulit di artikan, pria itu seolah ingin mengatakan sesuatu namun ia mengurung niatnya. " Sebenarnya saya tidak terlalu mengerti tentang teknologi zaman sekarang, saya juga sudah tua ... yang saya pikirkan sekarang hanyalah mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kecil saya." Mata pria itu seperti membendung emosinya, sebuah tetasan air mata mengalir dan membasahi kulitnya yang tampak kering.
Bella menatap wajah pria itu tanda berekspresi. Dasar penipu, kau tidak tahu kalau aku ikut seni teater di sekolah bukan? dan aku mendapatkan julukan sebagai ratu akting. Kau ingin membodohi ku hanya dengan setetes air mata? memanfaatkan umur untuk membuat orang lain iba? sungguh naif ...
Hmph. jadi pak Yanto berbohong? sebenarnya apa yang di sembunyikannya pada kami semua? jika itu adalah hal yang baik supaya kami tak mengetahuinya, aku tak masalah. Namun dia tak menjelaskannya sama sekali? Aku ingin lihat sampai mana Pak Yanto bisa menutupinya dari kami semua.
"Owh jadi begitu, maafkan saya karena telah berburuk sangka kepada bapak. Namun saya mohon pengertiannya, kami disini pun tak tahu bagaimana cerita sebenarnya yang terjadi. kalau boleh, kami ingin tahu sedikit pak, karena menurut saya ... gak mungkin muncul artikel tanpa ada sebab sama sekali, dan di artikel itu menjelaskan bahwa para pengunjung tidak kembali dengan selamat bahkan jasadnya saja tak ditemukan." Ucap Jeni masih dengan nadanya yang mengintrogasi.
Pak Yanto kembali diam, ekspresinya seolah mengatakan bahwa pria itu sedang menyusun kata-kata. Namun Jeni tak bisa memastikannya, mereka semua menunggu sebuah jawaban dari pria itu.
__ADS_1
" Maaf ya anak-anak semua, saya sama suami saya lupa kalau misalnya ada pekerjaan yang harus di selesaikan sekarang. Dan ini juga sudah malam, kalian tahu sendiri kalau orang tua seperti kami tidak sebaiknya beristirahat terlalu larut. Kalau begitu kami permisi ya ... semoga kalian betah tinggal di sini." Bu Lilis langsung menarik lengan Pak Yanto dan pergi tanpa menunggu jawaban dari siapa pun.
" Kalian liat sendiri kan? ada yang gak beres sama mereka berdua, tapi untuk sekarang kita gak usah terlalu mikirin nya ... yang terpenting kita happy-happy dulu karena baru sampai dan juga perlu refreshing." Jeni berbicara dan mendapatkan respon anggukan dari teman-temannya.
Setelah itu mereka semua melanjutkan makan malam yang sempat tertunda oleh beberapa perbincangan. " Eh, kita ke atap yuk. Aku mau ngomong sesuatu ... sekalian kita kumpul-kumpul malam ini." Ucap Jeni yang membuat semua kepala tertuju pada dirinya.
" Oke, tapi kita ganti baju dulu ya. Udara malam di Villa ini dingin banget, apalagi kita mau kumpul-kumpul di atap." Saran Cakra yang mendapatkan respon anggukan dari teman-temannya.
Setelah itu mereka semua ke kamar masing-masing untuk mengganti pakaian dan berkumpul di atap Villa, Karena Villa Cakra dan teman-temannya terpisah, akhirnya mereka menggunakan pakaian milik Fajar, Lisa dan Jeni. Tempat dimana mereka akan berkumpul memang sudah di sediakan untuk para pengguna Villa, jadi perlengkapan di sana sudah di sediakan.
" Wah, kalau kita bakar-bakar seru nih. Apalagi di temani sama bintang malam." Ujar Lisa sambil tersenyum memandang langit-langit. Mereka semua duduk di beberapa sofa kecil dan kasur tipis yang ada di sana.
" Aku mau ngomongin sesuatu yang mungkin agak serius sama kalian, dan aku gak mau ada yang motong atupun bertanya sebelum aku jelasinnya sampai selesai." Ucap Jeni dengan wajah seriusnya.
Teman-temannya juga menatap Jeni dengan serius, menandakan mereka siap untuk mendengarkan apa yang akan di katakan oleh wanita itu. Jeni sempat menengok ke kanan dan ke kiri sebab takut ada orang lain yang mendengarnya.
Sekarang teman-teman Jeni mengerti bahwa itu benar-benar sesuatu yang amat serius, sampai wanita itu tak ingin di denger oleh orang lain.
" Tadi ..."
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
SaLaMnOlNoL ...