
Jeni membalikkan wajahnya saat tangan seseorang menepuk pundaknya, ia menatap wanita itu dengan tatapan penuh makna.
" Udah gak papa ... kamu harus kuat, masa Jeni berubah kayak gini sih? bukan Jeni yang aku kenal." Ujar Lisa mencoba untuk menyemangati wanita itu.
" Makasih ya Lis." Jeni menghapus air mata yang sempat terbendung di kelopak matanya, untungnya air mata itu belum menetes. Jika tidak, maka dirinya akan malu saat dilihat menangis oleh temannya itu.
Ya ampun, Jeni ... Jeni ... kamu selalu aja bersikap sok kuat dan menahan semua rasa sakit mu sendiri. hah ... semoga aja masalah ini cepat selesai, aku gak mau liat kamu terus kayak gini, entah kenapa hati aku sakit liat kamu yang terus sedih. Lisa membatin sambil menatap Jeni dengan senyuman.
Setelah itu dia duduk di kursi yang ada di samping Jeni, mereka berdua saling menatap satu sama lain. Seolah berbagi kesedihan melalui tatapan mata sayu milik mereka masing-masing, sakit ... rasa sakit terus mengalir di hati Lisa saat menatap wanita itu.
Sekarang dirinya lah yang ingin menangis, namun ia mencoba menahannya sebab dia baru saja menasehati orang lain. Dia tak mungkin untuk menangis di hadapan orang yang di nasehati nya bukan.
Sedangkan di tempat lain, seorang pria masih sibuk mengayuh sepedanya.
" Hah ... hah ... capek banget. Beginilah kalau biasa naik mobil tiba-tiba di suruh naik sepeda." Fajar menghela nafas panjang.
Ia terus mengayuh sepeda sambil melihat-lihat sekelilingnya. "Aku minta maaf soal yang ..." Ucapan itu terus terngiang dalam pikirannya.
Entah mengapa, ia agak sedikit merasa keterlaluan sebab tak memberikan waktu untuk Jeni menjelaskan apapun, dirinya benar-benar marah karena dia kembali menyinggung tentang permasalahan itu.
Fajar ingin sekali menampar wanita itu sebab kesal saat berkumpul di atap beberapa waktu yang lalu. Namun ia sadar, bahwa pastinya itu takkan berakhir baik jika dia benar-benar melakukannya.
Lagi pula, Jeni memang tidaklah bersalah. Tapi ia tak bisa membohongi dirinya sendiri kalau sebenarnya dia memang sangat kecewa terhadap Jeni. Yang bisa dilakukannya sekarang adalah mencari tahu siapa pria yang telah melakukan semua itu kepada pacarnya.
Waktu berlalu dengan sangat lambat, sudah hampir 5 menit Fajar mengayuh sepedanya di jalan itu. Namun, ia belum juga sampai di Villa kediaman Bu Lilis dan suaminya berada.
__ADS_1
Owh ya! Bu Lilis kan orang yang udah lama ngurus Villa. Seenggaknya dia pasti tahu sesuatu tentang masalah ini ... lagian gak ada salahnya juga buat aku nanya sama dia.
Kini Fajar mempercepat laju sepedanya, ia tak sabar untuk menanyakan hal tersebut kepada wanita paruh baya itu. Hatinya benar-benar sangat penasaran dengan jawaban yang akan wanita itu sampaikan, Namun ia sadar bahwa dirinya tak bisa yakin sepenuhnya dengan ucapan wanita itu.
Saat makan malam saja, gerak-geriknya agak terlihat aneh dan mengundang kecurigaan. Jadi dirinya harus sedikit hati-hati saat mengambil pertanyaan agar tak membuat Bu Lilis merasa terganggu.
Kini ia telah sampai di depan Villa nomor 13, tempat dimana Pak Yanto dan Bu Lilis tinggal. Ia memarkirkan sepedanya di halaman Villa, lalu dia melangkah menuju pintu kediaman sepasang suami istri itu.
Tok ... tok ... tok ...
Suara ketukan pintu.
Selang beberapa waktu, pintu itu terbuka dengan sebuah senyuman dari seorang wanita. " Owh, ternyata kamu. Ayu silahkan masuk." Bu Lilis mempersilahkan Fajar untuk masuk ke dalam rumahnya.
" Saya kesini untuk membayar biaya sewa Villa kami di sini Bu." Jawab Fajar dan mendapatkan respon anggukan dari Bu Lilis.
" Tunggu sebentar ya nak." Wanita itu beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pergi, Sepertinya ... dia akan mengambil sesuatu.
Tak beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa sebuah map yang isinya begitu banyak dokumen, nampak itu adalah dokumen-dokumen yang berhubungan dengan para pengunjung.
Fajar agak sedikit penasaran dengan dokumen itu, dan tiba-tiba saja selembar kertas terjatuh dari pangkuan wanita yang sedang merapikan map nya. Seolah kertas itu memang sengaja di jatuhkan agar Fajar dapat melihatnya, tapi jelas itu tak mungkin. Bagaimana pun ia tak seharusnya tahu tentang pengunjung-pengunjung yang pernah datang ke Villa Pinus Tua.
Dengan reflek Fajar langsung mengambil kertas yang jatuh di lantai, ia langsung melihat bagian depan yang ada di dalam kertas itu.
" Diandra?" Gumam Fajar saat melihat kertas itu. Ia langsung melirik kearah untuk Bu Lilis untuk minta sebuah penjelasan.
__ADS_1
Wanita itu hanya terkejut dan langsung menarik kertas yang ada di tangan Fajar, gelagatnya seperti kelabakan dan bingung karena pertanyaan dari Fajar.
" Itu bukan apa-apa." jawab wanita itu setelah mengambil kertas dari tangan Fajar.
Karena menurutnya memang tak terlalu penting, akhirnya ia tak mencari tahu lebih dalam lagi. " sekarang saya harus apa Bu?" Tanya Fajar pada wanita yang masih sibuk dengan dokumen di tangannya.
Selang beberapa detik ia memberikan Fajar sebuah kertas. " kamu isi ini dan langsung tanda tangan." Ujar Bu Lilis.
" Memang ini dokumen apa Bu? kok lebih mirip seperti sebuah perjanjian ya?" Fajar kembali bertanya dengan keheranan, ia bingung mengapa untuk tinggal selama sebulan saja, dirinya sampai harus mendatangi sebuah dokumen.
Kayak mau beli rumah aja. Fajar membatin sambil menunggu jawaban dari wanita itu. Bu Lilis terdiam, wajahnya seolah memberi tahu bahwa ia sedang menyusun kata-kata.
Entah itu benar atau tidak, namun yang jelas wanita itu seperti sedang kebingungan harus berkata apa. Ia sedikit mainkan kertas untuk menyibukkan dirinya agar terlihat tidak gugup, namun itu tak bisa menutupi kecurigaan Fajar pada wanita itu.
" Ayu nak, silakan ditandatangani. Ibu masih ada urusan yang lain." Bu Lilis mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, ia mengganti topik pembicaraan agar Fajar tak menyinggung hal itu kembali.
Fajar terdiam menatap Bu Lilis dengan sorot mata yang sulit diartikan. Tanpa banyak bertanya Fajar langsung mendatangani kertas itu, sebelumnya dirinya memang sudah membaca isi dokumen itu secara singkat.
Dan sepertinya itu memang hanyalah sebuah surat kejelasan, yang menyatakan kebenaran bahwa mereka menginap di Villa Pinus Tua. Setelah menandatangani kertas itu, Fajar menyerahkannya kepada Bu Lilis.
Wanita itu langsung beranjak dari tempat duduknya setelah mengambil uang pembayaran Fajar. " Berhati-hatilah nak." Bu Lilis berbicara dengan suara kecil. Entah mengapa Fajar merasa itu seperti sebuah pesan tersirat, tapi dia tak mengerti apa maksud dari wanita itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
SaLaMnOlNoL ...
__ADS_1