
Fajar berusaha menghentikan mobilnya, namun nampaknya ia terlambat. Terdengar suara sesuatu yang tertabrak di depan mobil mereka, Fajar akhirnya keluar mobil untuk melihat apa yang telah di tabrak nya.
Jeni, Cakra dan Mita ikut keluar mobil sebab penasaran dengan yang terjadi di luar. Galih pun ikut menghentikan mobilnya dan menghampiri Fajar untuk melihat apa yang sedang terjadi.
" Ya ampun, kucing hitam!!" Teriak Lisa yang ikut keluar dari dalam mobil Galih.
" Ini pasti pertanda, kita bakal dapat kesialan kalau terus lanjut ke Villa Pinus Tua." Lisa terlihat takut saat melihat mayat kucing hitam yang tak sengaja di tabrak oleh Fajar.
" Jangan Parno deh Lis, kebanyakan nonton film horor sih." Ketus Jeni.
" Kasian banget kucingnya ..." Mita berlari saat melihat mayat kucing hitam itu, ia paling terakhir keluar karena tak terlalu tertarik dengan apa yang terjadi, namun melihat semua temannya keluar dari mobil, mau tak mau Mita juga ikut keluar untuk melihatnya.
" Kok di biarin aja sih, kasian tahu ..." Mita langsung mengangkat mayat kucing hitam itu, ia berlari menuju tepi jalan.
" Kamu mau ngapain sayang .." Tanya Cakra.
" Ya di kubur lah, masa kalian cuma mau nonton aja sih. Ini kasian kucingnya, kan kita yang tabrak berarti kita juga yang harus kuburin dong."
" Fajar! cepat gali tanahnya!" Ucap Mita memerintah.
" Kok aku?" Tanya Fajar yang kebingungan.
" Ya kan kamu yang nabrak, lagian masa aku yang harus gali tanahnya sih." Ketus Mita.
Kirain mau di gali sendiri ... ternyata gayanya aja yang lebih, ujung-ujungnya minta bantuan orang juga.
" Gak usah banyak omong, cepat sini!" Ketus Mita.
Kok dia bisa tahu? masa ia sih dia bisa baca pikiran? Ada yang aneh sama cewek-cewek ini. Jeni aja bisa peka banget sama sekitarnya, lah yang ini bisa baca pikiran ..., kayaknya mereka semua ini cewek-cewek istimewa deh? Otak Fajar mulai berfantasi dengan pikiran-pikiran anehnya, namun itu malah membuat Mita bertambah kesal.
__ADS_1
" Jen, bilangin nih sama pacar kamu ... tuli dia kalau aku yang ngomong." Pinta Mita kepada Jeni.
Ya ampun .., punya pacar kok doyannya bengong sih. Entah apa pula yang di pikirannya, gini lah nasibnya kalau punya pacar yang suka mengkhayal. Tanpa aba-aba Jeni langsung menendang kaki Fajar dengan sangat keras, dan itu berhasil membuat pria itu tersadar dari lamunannya.
" Aduh! kenapa di tendang sih sayang!" Bentak Fajar yang kesal sekaligus kaget dengan hal tersebut.
" Itu kata Mita, dari tadi kamu diomongin malah gak denger sih." Balas Jeni seolah tak berdosa.
Teman-temannya itu menahan tawa saat melihat Fajar yang sudah di pojokan oleh Jeni, namun mereka juga sadar bila berada di posisi Fajar, mungkin mereka akan mendapatkan perlakuan yang sama.
Mau bagaimana pun juga Fajar memang terbilang sangatlah penyabar, apalagi menghadapi seorang Jeni yang mudah sekali untuk memukul tanpa berfikir terlebih dahulu.
Fajar melirik kesal ke arah Mita, lalu wanita itu menaikan kedua alis matanya, memberikan sinyal untuk Fajar agar segera menggali kuburan untuk kucing hitam itu.
" Huh ...!" Fajar berjalan dan mulai menggali tanah itu dengan dahan pohon yang ditemukannya. Setelah menguburkan kucing itu, semuanya melanjutkan perjalanan menuju Villa Pinus Tua. Namun, tak terasa waktu sudah berjalan cukup lama setelah keberangkatan mereka.
Dan akhirnya mereka semua tertidur lelap karena hari itu sudah mulai masuk waktunya malam, hanya Fajar dan Galih yang masih terjaga sambil menyetir mobil mereka.
°°°°°
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi, entah mengapa suasana tiba-tiba saja terasa sangat mencekam.
" Lih, kamu ngerasa beda gak sih?" Tanya Fajar yang masih dalam telpon bersama Galih.
" Iya, aku juga ngerasa gitu. Kayaknya kita udah mulai masuk wilayah berkabut, aku susah ngeliat jalan nih, di sini kabut semua." Jawab Galih.
" Iya sama, disini juga kabutnya tebal banget. Apa kita berhenti aja ya? soalnya udah gak aman kalau kita nyetir dalam keadaan berkabut kayak gini." Fajar mengeluarkan sarannya.
" Oke aku juga setuju, kita berhenti aja dulu. Sekalian istirahat tidur sambil nunggu pagi." Balas Galih yang setuju.
__ADS_1
Setelah itu Fajar maupun Galih memarkirkan mobil mereka di pinggir jalan, namun mereka tak tahu keberadaan satu sama lain saat itu. Karena memang, kabut malam yang tebal itu berhasil menutup jarang pandang mereka hanya terlihat 1 meter. Dan tentunya tak akan baik jika terus mengemudi mobil di saat seperti itu.
Fajar mencoba mencari siaran radio di mobilnya, namun ia tak mendapatkan sedikitpun sinyal. Padahal ia yakin bahwa mereka belum masuk ke area gunung tempat Villa Pinus Tua itu berada.
" Kenapa gak ada sinyal ya?" Ia mencoba sekali lagi namun hasilnya tetaplah sama.
" Hmph ... mending aku tidur ajalah." Akhirnya Fajar pun mencoba untuk memejamkan matanya.
Tak beberapa saat kemudian, Fajar seperti mendengar suara kucing. Dan entah mengapa hatinya seolah sangat penasaran dengan suara itu, akhirnya Fajar pun turun dari mobilnya untuk melihat kucing itu.
Padahal sebenarnya ia tak terlalu tertarik. namun, hatinya seolah tak mau berhenti untuk penasaran dengan suara itu. Fajar mulai mendekat ke arah suara itu berasal, namun setelah sampai di tempat yang diperkirakan letak asalnya, Ia tak menemukan apapun selain udara malam.
" Dimana kucing itu? barusan aku dengar ada di sini? Hmph ... mungkin aku salah dengar aja kali." Fajar kembali berjalan ke arah mobilnya, ia menutup pintu dan kaca mobil agar tak di ganggu oleh suara-suara dari luar, setelah itu Fajar mulai memejamkan matanya.
Lain halnya dengan Galih, ia malah sibuk memainkan permainan yang ada di ponselnya. Keadaan kabut saat itu sangatlah tebal, jika sebelumnya dapat melihat dalam jarak satu meter. Namun, berbeda dengan saat ini, mereka hanya bisa melihat bila berhadapan langsung dengan orang lain. Jika tak tahu itu sedang dalam perjalanan, mungkin siapapun bisa mengira telah berada di dunia lain ataupun sebuah mimpi.
Tiba-tiba saja terdengar suara seseorang yang tengah melakukan sesuatu di belakang mobilnya, Namun Galih tak terlalu memperdulikan hal tersebut, Ia tetap fokus pada ponsel sembari menunggu matanya terlelap tidur.
Akhirnya mereka semua tertidur sambil menunggu kabut malam itu berkurang, memejamkan mata sambil bermimpi dalam bunga tidur mereka masing-masing.
Beberapa jam berlalu dengan sangat tenang dan sunyi, Fajar mulai mengerjab kan matanya yang terbangun dari tidur. Begitu pula Galih di mobilnya, ia pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Fajar.
Pagi itu kabut sudah mulai menipis, Galih dan Fajar menatap sekeliling mereka melalui kaca mobil yang tertutup sedikit embun pagi. Jalanan serta beberapa pohon sudah dapat di lihat walaupun masih samar-samar. Namun, itu cukup untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju Villa Pinus Tua.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
GALIH``
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
SaLaMnOlNoL ...