
"Huh"
"BRUK"
Alexa mendorong Meiko dengan kuat dari pangkuan Rajendra dan dia yang berganti duduk di pangkuan Rajendra.
"dasar genit" ujar Alexa mendelik menatap Meiko yang sedang meringis.
"Rajendra liat lah wanita itu, kelakuanya sangat tidak sopan" kata Meiko dengan nada yang di olah semanja dan sesedih mungkin, untuk mencari simpati dari Rajendra.
"Istri apakah kamu cemburu!? Hm" bukannya meladani perkataan Meiko, Rajendra lebih memilih membelai-belai rambut Alexa.
"iya" jawab Alexa asal. Tidak di pungkiri bahwa dia sebenarnya merasa kesal dengan tingkah Meiko yang menggoda Rajendra tadi. Mungkin dia memang benar-benar menggap Rajendra Kakaknya. Dan sebagai adik yang baik, dia tidak akan membiarkan Kakaknya bersama wanita modelan seperti itu.
"ayo kita pulang" Rajendra mengangkat Alexa ala bridal.
"Nona Meiko aku tiba-tiba ingin membatalkan kerja sama kita kali ini" ujar Rajendra tanpa melihat ke-arah Meiko.
"kenapa?!! Apa karena istri jelek mu itu, hah?" kata Meiko manatap sengit ke arah Alexa.
"bukan!! Tapi aku sudah muak dengan tingkah menjijikan mu itu" ketus Rajendra dan berjalan keluar dari unit Apartemen Meiko, diiringi Rico dari belakang.
"aaah, sialan. Siapa wanita kurang ajar itu, beraninya dia merebut Rajendra dari ku" ujar Meiko menjabak rambutnya.
"tunggu saja kau, aku tidak akan membiarkan Rajendra bersama orang lain dengan begitu saja" Meiko tersenyum miring.
。。。
"Alexa, aku akan pergi menemui ayah mu" ujar Rajendra berpamitan.
"heum iya-iya" kata Alexa.
"ini untuk mu, kalau kamu ingin berbelanja kau boleh menggunakan nya" ujar Rajendra memberikan sebuah kartu kecil yang dapat memuat uang.
"tidak perlu, ini terlalu berlebihan. Aku dan Kak Rajen tidak punya hubungan apa-apa" Alexa menolak untuk mengambil Black card itu.
"ambillah, memangnya kau bisa dapat uang darimana" ujar Rajendra.
__ADS_1
"tapi aku tidak mau black card!!" kata Alexa mengelengkan kepalanya.
"lalu kau ingin yang tanpa limit, yang tanpa batas?" kata Rajendra menaikan sebelah alisnya.
"bukan, bukan begitu. Maksud ku, aku ingin yang biasa saja" sanggah Alexa.
"aku tidak mempunyai yang biasa, ini ambil lah!! Sandinya 12-21-1221" kata Rajendra meletakan Black card di pangkuan Alexa.
"emm terimakasih Kak Rajen, nanti aku pasti akan menggantinya"
"tidak perlu!! Baiklah aku pergi" pamit Rajendra.
。。。
"maaf saya terlambat Tuan Sanjaya" kata Rajendra pada pasangan paruh baya yang terlihat masih sangat mesra.
"ah Tuan Kusuma, tidak apa. mari-mari silahkan duduk" ujar Tuan Sanjaya mempersilahkan.
"hm" Rajendra mengamati Ibu Alexa atau Nyonya Sanjaya.
"oh ini Nyonya Sanjaya, pantas saja anak nya secantik itu, ibu dan ayahnya juga cantik dan tampan, pasangan yang sangat serasi" batin Rajendra.
"ehem, jangan terlalu terburu-buru Tuan Sanjaya kita bisa membahas ini secara perlahan" kata Rajendra.
"dan juga anda bisa memanggil saya Rajendra saja, tidak usah seformal itu" sambung Rajendra dengan mengulas senyum tipis.
"baiklah, Rajendra kamu juga boleh memanggil saya Om Erla dan ini istri saya, kamu bisa memanggilnya Tante Dinda" ujar Papa Erla.
"baik"
"jadi dimana Val?" tanya Papa Erla dengan tidak sabarannya.
"saya ingin tau dulu kronologi di nyatakan nya bahwa anak Om Erla telah di nyatakan tiada" ujar Rajendra dengan serius.
"huh, saat itu kami sedang pergi menjenguk teman kami yang sakit dan menginap, Leo selaku kekasih Val yang sangat kami percayaca meminta ijin atas nama Val untung berkemah di hutan bersama beberapa teman Leo juga Val" Papa Erla menjeda ceritanya.
"setelah itu setelah satu malam mereka berkemah, keesokan harinya Leo dan beberapa teman Val juga Leo, datang kerumah kami tanpa Val. Leo menangis dan bercerita bahwa saat mereka berpencar mencari kayu bakar untuk api unggun, Val hilang dan mereka berkeliling mencari dan hanya menemukan potongan baju Val dan darah yang berceceran di tepi jurang. Mereka menyatakan Val telah di makan binatang buas" sambung Papa Erla dengan mata yang memerah menahan air mata yang kapan saja bisa jatuh.
__ADS_1
"hiks, kami sangat menyesal langsung percaya tanpa menyelidiki lebih lanjut" timpal Mama Dinda yang sudah menangis.
"hm, bagus juga alasan bocah Leon itu" Rajendra membantin. Nyatanya cerita Papa Erla sangat jauh jauh berbeda dengan realitanya.
"cup cup cup, baby jangan menagis, kalau kau menagis kau sangat terlihat menggoda. Aku tidak ingin berbagi, ingat ini tempat umum" kata Papa Erla merengkuh istri nya dengan posesif.
"Pa jangan buat malu, kita sedang di depan Tuan besar Kusuma dan jangan aku panggil baby lagi, ingat umur" ujar Mama Dinda melotot menatap sang suami.
"kamu tidak ingin aku menyebut mu baby di depan umum!! Heum apakah kamu hanya ingin mendengar aku menyebut mu baby, saat aku ajak mengelilingi surga dunia saja?" kata Papa Erla mengangkat dagu sang istri. Papa Erla sudah melupakan kehadiran Rajendra dan orang-orang di restoran itu.
"Papa!! Kau membuat malu saja, dasar pikiran mu selalu ke arah sana saja" Mama Dinda mencubit dada Papa Erla.
"By nanti saja main cubit-cubitannya di rumah, nanti saat di rumah kau bisa menguasai tubuh suami mu ini" ujar Papa Erla memberikan wink kepada Mama Dina.
"Papa!!"
"Nak Rajendra maafkan kelakuan suami saya, dia memang sedikit gila" kata Mama Dinda yang sudah jengah dengan kelakuan suaminya.
"haha tidak apa" ujar Rajendra tertawa garing.
"pasangan ini lucu sekali, pasti hari Alexa menyenangkan mempunyai orang tua yang terlalu harmonis ini" batin Rajenda mengulas senyum simpul menatap pasangan yang sudah tidak muda lagi. Aah... Andai saja keluarga nya begitu, dia pasti tidak menjadi orang yang terlalu dingin dan kesepian.
"Rajendra, Maafkan saya. Jadi bagaimana Val ada bersama kamu?" kata Papa Erla kembali jadi serius.
"saya berjalan-jalan kehutan dan yaa, saya menemukan Alexa di pinggir sungai dengan kepala bocor, saya bawa kerumah sakit. Alexa koma selama sebelas bulan dan setelah bangun dia mengalami amnesia" jelas Rajendra dengan sangat lancar menceritakan realita palsu, awal dia bertemu Alexa.
"Ja... Jadi Val tidak mengingat apapun" kata Mama Dinda dengan air muka yang sudah di liputi khawatir.
"Tidak. Dokter berkata jangan di paksakan untuk mengingat ssesuatu, itu bisa berakibat fatal dan Alexa trauma dan histeris saat seseorang menyebutnya Val, itu saya tidak tau pasti apa alasannya" kata Rajendra mengukir senyum tipis, ternyata dia pintar juga pintar membikin karangan.
"jadi untuk semantara Alexa tetap bersama saya, karena dia hanya tau dengan saya" sambung Rajendra lagi.
"sampai kapan Val akan mengingat kami?" tanya Papa Erla dengan sendu.
"tidak tau" Rajendra mengangkat bahunya.
"saya permisi dulu Om, Tante" pamit Rajendra yang di ngguki oleh pasangan yang saling termenung dengan tatapan kosong.
__ADS_1
●●●
TBC