Mistake Love

Mistake Love
Mistake Love (12)


__ADS_3

.


.


.


Aku memeluk Ken dengan erat, tak memperbolehkannya pergi dari sisiku. Pria ini mau kemana sih?! Bukannya menemaninya malah sibuk dengan perusahaannya! Memangnya dengan tangan kanan Ken yang sebanyak itu tak bisa menangani masalah perusahannya?! Buat kesal saja.


“By…sebentar saja, nanti sore aku udah disini”


“Nggak mau! Ikut!”


“Nggak boleh, kandunganmu masih lemah…kalau nanti kenapa-napa bagaimana?”


“Jangan pergi kalau begitu…”


“Bentar aja by…nanti siang deh! Nanti siang aku pulang”


“Enggak mau!”


“Gini deh! Nanti pulang kubawakan macaroon kesukaanmu gimana?”


Aku melepaskan pelukan dan menatapnya dengan kesal, sebegitu pentingkah pekerjaannya?! Kan dia bisa minta tolong Papa mertua untuk mengurus perusahaan selama 1 bulan! Apa susahnya sih?! Sebegitu inginnya kah pergi dari sini?! Apa pria ini sudah bosan menemaninya?!.


“Ya sudah! Pergi sana! Sekalian nggak usah kemari lagi!” Aku berbaring dan menutupi seluruh tubuhku menggunakan selimut.


Ken menelan ludahnya dengan kasar, duhhhh kalau begini mana bisa ia pergi? Kalau ia pergi pasti ia tak diizinkan masuk kedalam kamar. Tapi kalau tidak pergi…


“Maaf ya by…aku akan pulang cepat, sampai jumpa nanti siang ya” Ken mencium gundukan selimut sebelum pergi, aku tersentak melihat pria itu benar-benar meninggalkannya! Lihat saja nanti!.


“Nona…jangan terlalu terbawa emosi, itu tak baik untuk kandungan anda”


Aku meraih ponselku dan menghubungi Noni, berniat meminta bantuan wanita itu untuk mengawasi Ken. Selama 8 tahun pernikahannya, ini pertama kalinya ia diduakan! Sebelumnya Ken tak pernah sekalipun meninggalkannya hanya demi sebuah pekerjaan bahkan saat awal menikah sekalipun!.


“Ada yang bisa saya bantu Nyonya?”


“Minta Melody untuk mengawasi Ken. Hubungi aku apapun yang terjadi”


“Anda tak perlu khawatir, saya akan melakukannya”


Tut…


.


.


.


Ken menatap dingin seorang wanita yang tengah tengah makan dengan lahap didepannya, sighhh…ia diminta kesini hanya untuk menemani wanita ini makan? Demi ini ia akan menjalani malam sendirian didepan ruang rawat.


“Ken…makasih ya waktunya, aku senang”


“Kau sudah puas? Kalau begitu aku akan kembali sekarang”

__ADS_1


“Tunggu, a-aku ingin pergi ke mall bersamamu. Ada sesuatu yang ingin kubeli”


“Uang yang kukirim kemarin kemana? Sudah habis lagi?”


“Kemarin aku lihat tas bagus, jadi aku menggunakannya”


“Jangan terlalu boros, tak mudah mendapatkan uang”


“Apa salahnya aku menggunakan sedikit uangmu untuk diriku sendiri?! Aku ini sedang mengandung anakmu! Sudah seharusnya kau mengirimkan uang lebih banyak kepadaku daripada istrimu!”


“Jangan melunjak!”


Wanita itu langsung terdiam sembari mencengkram bajunya, sial*n…apa yang sudah dilakukan wanita itu hingga Ken tak mau mengurangi uang bulanan istrinya demi dirinya?!.


“Sebenarnya apa yang membuatnmu begitu mencintainya?! Dia itu wanita mandul! Apa yang membuatmu tetap mempertahankannya?! Kenapa kau masih belum mau menikahiku padahal aku sudah mengandung anakmu hah?! Apa karena wanita mandul itu?!”


Plakkkkk!!!


Satu tamparan mendarat sempurna di pipi Ken yang langsung membuat semua mata yang ada didana menatap siapa orang yang berani menampar Ken.


Plakkkkk!!!


Sekali lagi tamparan dilayangkan, bukan untuk Ken namun wanita yang telah berani mengatai Hembly wanita mandul.


“Kau benar-benar brengek Ken!! Beraninya kau mengkhianati Hembly demi jala*g sepertinya!”


“Wenda?! Apa yang kau lakukan disini?!” Ken langsung terpelanjat kaget dari tempat duduknya tatkala melihat Wenda, sahabat istrinya yang tiba-tiba datang ke perusahaannya.


“Kenapa?! Kau kaget?! Sial*n kau! Aku akan melaporkan masalah ini kepada Hembly! Tunggu saja surat dari pengadilan” Wenda panas mendengar sahabatnya yang dikatai seperti itu oleh seorang murahan, ia tak terima! Ia tak terima dengan itu! Dan juga pria tak tau diri ini!!.


“Penjelasan apa hah?! Jelas-jelas kau sudah mengkhianati Hembly! Sahabatku! Apa yang membuatmu mengkhianati sahabatku hah?! Apa karena dia masih belum punya anak sampai sekarang?! Hanya karena itu?! Hanya karena itu?!” Wenda berteriak geram kepada Ken, pria ini!! Pria tak tau diri yang beraninya berselingkuh dari Hembly! Ia tak akan membiarkan pria ini lolos begitu saja!.


“Kalau Ken berkhianat kenapa?! Dia adalah pewaris keluarga Richardson! Dia juga butuh anak untuk keluarganya! Wajar dia memilihku yang bisa mengandung anaknya daripada wanita mandul itu!!”


“Dasar jala*g!!”


“Wenda! Cukup!” Ken menahan tangan Wenda yang hendak menampar wanita hamil yang ada disebelahnya.


“Kau membelanya Ken?! Lepaskan aku! Jangan sentuh aku sial*n!”


“Aku akan melaporkan ini kepada Tuan besar! Lihat saja nanti!” Setelah menampar pipi wanita itu satu kali lagi Wenda pergi dari perusahaan Ken, Ken memukul meja dengan keras. Sial*n! Ia tak bisa membiarkan Wenda mengatakan ini kepada istri dan Papa mertuanya! Ia tak akan membiarkan Papa mertuanya datang menjemput istrinya! Tak akan pernah!.


“Ken…pipiku sakit”


“Pergi!!! Pergi sekarang juga!!!!”


“I-iya”


Wanita itu mengambil tasnya dan keluar dari ruang kerja Ken.


“Aku akan kembali, lakukan sesuatu…jangan sampai Wenda mengatakan apapun kepada istri dan Ayah mertua”


“Siap Tuan!”

__ADS_1


****************


“Byyy…aku minta maaf, aku sudah pulang kan sekarang?”Ken mencoba membujuk istrinya yang tengah marah sembari membawa beberapa bingkisan kecil yang isinya beberapa kudapan manis yang disukai istrinya.


“Untuk apa kau kembali!? Sana! Nikah saja sama pekerjaanmu!” Aku berucap dengan kesal sembari membelakanginya, entah kenapa kali ini aku benar-benar kesal dengannya. Bisa-bisanya mementingkan pekerjaan daripada istri yang sedang hamil, ini juga! Kenapa Noni tak ada kabar?!.


“Maaf by…lihat, aku bawakan makanan kesukaanmu. Ayo makan”


“Kasih saja ke pekerjaanmu! Bukankah dia lebih penting daripada aku!? Kalau kau sudah bosan denganku bilang saja!”


“Istriku kenapa sih?” Ken bertanya frustasi kepada Cloe, ini sudah 2 jam ia membujuk istrinya dan tak ada ucapan halus sedikitpun yang keluar dari mulut istrinya, yang keluar hanyalah bentakan dengan nada yang begitu kesal.


“Itu wajar Tuan, temperamen Ibu hamil memang seperti itu”


“Sayang…aku minta maaf…aku janji ini terakhir kalinya aku meninggalkanmu demi pekerjaan”


“Makan tuh janji palsumu!” Ucapku sembari melemparkan bantal tepat mengenai wajahnya, entah kenapa aku benar-benar kesal melihat wajahnya.


Drttttt drtttttt…


Aku mengambil ponselku yang berdering, tumben sekali Rona menelfonku.


“Ada apa Rona?”


“Wenda!! Wenda kecelakaan!”


“Apa?! Wenda kecelakaan?! Kapan?! Di mana?!”


“Siang tadi! Dia sedang dioperasi sekarang! Ya tuhan…aku harus bagaimana?!”


“Aku akan segera kesana! Kau jangan cemas!”


“Aku tunggu”


Tutt…


“By! Kita pulang sekarang! Wenda kecelakaan!”


“Apa? Kecelakaan?”


“Iya! Ayo pulang! Aku tak mau dia kenapa-napa!”


“Tapi kondisimu-”


“Jangan banyak bicara! Ayo pulang sekarang!!”


“Iya iya”


Aku dengan panik menghubungi kakak tertuaku, memintanya agar membayar seluruh pengobatan Wenda. Aku tak bawa uang banyak sekarang, dan Wenda juga berasal dari keluarga yang sederhana. Wenda harus baik-baik saja! Aku tak akan membiarkan Wenda kenapa-napa! Tapi, bagaimana bisa Wenda mengalami kecelakaan? Bukankah ada sopir yang ku tempatkan untuk mengantar Wenda kemanapun?.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2