
.
.
.
Aku mengaduk kopi yang kupesan dengan perasaan campur aduk sama seperti kopi yang ada di hadapanku sekarang, apa yang terjadi kepadaku? Kenapa moodku memburuk begini? Tak biasanya aku seperti ini sekalipun berhadapan dengan masalah serius.
“Kau ini kalau ada masalah cerita dong, jangan kau pendam sendiri. Kalau begini mau berhasil gimana promilmu?”
“Menurut kalian…Ken orangnya seperti apa?”
“Bukankah terlambat jika kau bertanya ini? Memangnya ada masalah apa lagi dengan Ken?”
“Entahlah, sikapnya aneh. Dia mimpi buruk, dia bilang aku mati membawa anaknya. Dia juga selalu mengastakan bahwa aku tak akan meninggalkannya, dia tak ingin mengatakannya”
“Wah wah wah, kalian sudah main rahasia-rahasiaan?”
“Kami tak pernah seperti ini sebelumnya, ini juga pertama kalinya aku begitu curiga kepadanya. apa dia punya wanita lain dibelakangku?”
“Apa?! Jika itu benar terjadi kami tak akan membiarkan suamimu dan wanita itu hidup tenang!”
“Woi woi woi!! Punya wanita dibelakangmu?! Maksudnya dia selingkuh gitu?!”
“Itu hanya opiniku” Aku berkata dengan kesal.
“Nggak mungkinlah Ken berani selingkuh darimu! Papamu seorang hakim, kalau dia tidak mau diceraikan seharusnya dia tak berani melakukan itu”
“Tapi aku tak bisa memberikannya keturunan, sejak dulu dia sangat menginginkan seorang anak. Aku hanya takut…”
“Jangan khawatir! Kami akan membantumu mengawasi suamimu itu!” Mendengar ucapan antusias sahabatku itu membuat perasaanku lebih baik. Mungkin aku harus mulai berpikiran positif lagi, aku tak ingin promilku gagal lagi.
“Oh ya, kudengar Morgan sudah kembali ke Negara ini. apa dia menghubungimu Ly? Ly? Hei Ly! Aku bicara denganmu!”
Aku seketika terdiam mendengar nama yang sudah lama kulupakan itu, Morgan…kembali?.
.
.
.
3 bulan kemudian>>>>>>>>
.
.
.
“Selamat pagi sayang…” Ken mencium kening istrinya yang terbangun karena sinar matahari, aku tersenyum manis melihat wajah tampan suamiku di pagi hari.
“Ayo mandi, aku sudah menyiapkan air untukmu”
“Makasih byyy…”
“Hari ini ke kampus nggak?”
__ADS_1
“Kayaknya enggak deh by, kenapa?”
“Hmmmm, bulan madu mau?”
“Kapan?” Aku bangun dari tempat tidur dan menatap wajah tampan Ken, pria ini ingin mengajaknya bulan madu lagi?! Ia harap Ken menyiapkan penerbangan ke Santorini, sudah lama ia tidak kesana.
“Lusa, kau bisa? Mungkin seminggu sampai 2 minggu” Ken menjawab sembari mencium keningku, dia paling tau cara menyenangkanku, masalah ia lembur hingga tak pulang kemarin akan ia lupakan karena ini.
“Kemana?”
“Hmmmm…Santorini bagaimana?”
“Kau serius?! Aaaaaa, makasihhhh” Aku menghujami wajahnya dengan sebuah ciuman, semoga aku bisa mempunyai anak setelah ini. Satu tak masalah, tapi ia ingin kembar laki-laki…melunjak sedikit tak masalah bukan?.
“By, kau ingin anak laki-laki atau perempuan?”
“Hmmmm…terserah, asalkan itu darimu tak peduli itu laki-laki atau perempuan dia tetaplah anakku dan calon pewaris keluargaku”
“Jadi kau harus berusaha keras untuk mendapatkannya”
“Oh, apa karena kita sudah lama tidak melakukannya kau melupakan kemampuanku hm? Kau ingin sekarang?”
“Aku mandi dulu”
“Bersama”
“A-aku mandi sendiri!” Aku menolak ajakannya, bisa 3 jam lebih kalau mandi bersama dengan pria ini!.
“Aku tidak menerima penolakan, siapa suruh meragukan kemampuanku”
“Ken…hmmm tunggu…Ken…” Aku mencoba mendorongnya dan melepaskan ciumannya namun itu semakin membuatnya memelukku dengan erat. Aku melirik ponsel yang berdering, siapa yang menelfon? Apa itu muridku? Atau masalah skripsi?.
“By…bentar hmmm…aku…”
“Nanti saja, fokus kepadaku…aku sudah tak bisa menahannya lagi”
“Ciumannya semakin…”Aku memeluk tubuh kekar suamiku, membalas ciuman yang sejak tadi tidak kurespon. Aku merindukan sensasi menenangkan ini, aku merindukan sentuhan pria ini…aku ingin lebih dari sebuah ciuman.
Ken tersenyum melihat istrinya yang merespon ciumannya, akhirnya istrinya mau membalas ciumannya. Ia merindukan ciuman ini, ciuman penuh gairah yang sudah tidak ia rasakan selama 3 bulan. Bukan karena ia tak punya nafsu kepada istrinya lagi, ia sedang mencoba menahan itu karena keadaan istrinya dalam 3 bulan terakhir tidak bisa dikatakan baik-baik saja.
“Byy…aku tak bisa bernafas…”
“Maaf sayang…”
.
.
.
“Aghhhhh…pinggangku sakit…” Aku mengeluh sembari menyandarkan tubuhku pada bahunya, ia merasa aneh dengan tubuhnya sekarang. Ia mudah lelah akhir-akhir ini, tidak! Lebih tepatnya sejak 2 atau 3 bulan yang lalu, tapi dalam seminggu ini lebih parah! Tenaganya seakan-akan dibatasi oleh sesuatu.
“Setelah ini mau kupijat sebentar? Apa itu benar-benar sakit?”
“Hmmmm…apa ada sesuatu yang aneh pada tubuhku?”
“Dari hasil meriksaan kemarin tidak ada yang salah pada tubuhmu, mungkin kau harus istirahat total dan tidak memikirkan apapun”
__ADS_1
“Satu-satunya yang kupikirkan adalah dirimu, sikap anehmu selama ini dan kata-kata anehmu itu” Aku hanya dapat berbicara dalam hati, aku tak ingin membuatnya marah karena selama pernikahan ini…aku tak pernah melihatnya marah sekalipun. Dan katanya marahnya orang pendiam itu, mengerikan.
Ken menciumi bahu polos istrinya, aroma tubuh ini membuatnya benar-benar kecanduan. Ia tak pernah bosan dengan aroma tubuh ini meskipun sudah 8 tahun, aroma yang menenangkan pikirannya sekaligus membuat moodnya meningkat.
“By, udahan yuk…dingin” Ucapku tatkala merasakan bahaya akan datang menghampiri jika tidak segera keluar dari kamar mandi ini.
“Baiklah, kita sudah terlalu lama berendam” Ken menggendong tubuh istrinya keluar dari kamar mandi dalam keadaan tanpa busana, Ken memakai bathrobe dan mengambil pakaian untuk mereka berdua. Ia ingin membicarakan sesuatu kepada istrinya, tapi…melihat kondisi istrinya yang seperti ini…lebih baik nanti saja.
“Mau baju yang mana?”
“Hmmmmm, yang kiri”
“Baiklah, pakai ini. Nanti masuk angin”
Aku memakai pakaianku dengan cepat sebelum pria itu bernafsu lagi pada tubuhku, haihhhh sulit memiliki pria yang punya gairah sexs yang tinggi seperti Ken, tapi ia bersyukur karena suaminya tak pernah jajan diluar disaat ia tidak bisa melayani nafsu pria itu.
“By, nanti kalau kita punya anak…ruang kerjaku direnovasi ya? Buat kamar bayi” Untuk pertama kalinya aku berpikir sejauh ini, padahal dulu memikirkan untuk bisa hamil saja rasanya begitu sulit. Tapi karena dokter bilang bahwa program hamilku kali ini kemungkinan besar berhasil, aku jadi punya ekspetasi tinggi kali ini.
“Itu ruang kerjamu, jangan. Biar ruang kerjaku saja. nanti ruang kerjaku kupindahkan kemari”
“Beneran?”
“Heem” Dia duduk dan mengangkat tubuhku keatas pangkuannya, ia benar-benar berharap semoga ada makhluk kecil yang mengisi perutnya tahun ini.
“Kau terlihat begitu bersemangat kali ini, syukurlah” Ken mencium kening istrinya dengan lembut, untuk pertama
kalinya ia mendengar kabar baik mengenai program hamil yang sudah mereka jalani selama 2 bulan lebih. Ia benar-benar senang melihat istrinya yang tidak terpuruk ketika mendengar hasil dari dokter, ia akan menaikkan gaji semua karyawannya jika istrinya hamil.
“By, menurutmu nama apa yang bagus untuk anak kita nanti?”
“Hmmmm, bagaimana kalau Keenan?”
“Kalau anak perempuan?”
“Keenna?”
“Bisakah kau memikirkan nama lain selain itu?! Jika nanti anak kita kembar maka aku akan kesulitan memanggil nama mereka berdua” Aku protes kepadanya, bagaimana bisa pria ini memiliki ide itu untuk menamai anak mereka nanti dengan nama yang hampir sama?.
“Hahaha, maaf maaf…” Dia melingkarkan tangannya pada perutku dan mencium leherku, bagian favoritnya.
“Aku suka namamu, jika kita punya anak perempuan aku ingin dia memakai namamu. Jika anak laki-laki, biar Papa dan Mama kita yang mengaturnya. Bagaimana?”
“Hmmmm…tapi bisakah salah satu anak kita bernama Arrian?”
“Arrian? Arrian idolamu itu?”
“Iya!”
“Ah? Bagaimana kalau anak perempuan kita dinamakan Ocariana?”
“Nama yang bagus! Aku suka!”
.
.
.
__ADS_1