Mistake Love

Mistake Love
Mistake Love (2)


__ADS_3

.


.


.


Ken terbangun dari tidurnya, ia menggosok matanya dan mencari istrinya yang tidak ada disampingnya. Kemana istrinya pergi pagi-pagi seperti ini? Apa istrinya ada kelas pagi? Haihhhh…bagaimana bisa ia tak terbangun ketika istrinya pergi?.


Ken turun dari tempat tidur membuka lemari berniat untuk menyiapkan bajunya untuk ke rumah sakit namun yang ia temukan sungguh mengejutkan, tidak ada satupun baju istrinya didalam lemari itu!.


“By!! Kau di mana?!! By!!!” Ken langsung berlari keluar dari kamar, mencari istrinya kesegala sudut rumah megah itu. Tidak ada siapa-siapa! Di mana istrinya?!.


“Kemana Nyonya kalian pergi?”


“N-nyonya pergi 2 jam yang lalu dengan koper besar, Nyonya…beliau bilang beliau akan pergi” Jawaban pelayan langsung membuat wajah Ken memucat.


“Pergi kemana?!” Ken langsung merogoh saku celananya dan menelfon istrinya, untunglah telfonnya diangkat!.


“Sayang kau di mana?!”


“Hallo, apa ini dengan suami korban?”


“Korban?! Siapa kau?!”


“Kami dari pihak kepolosian ingin mengabarkan bahwa Nona Zollane Ellona Hembly Chatherine mengalami kecelakaan, dan kami membutuhkan tanda tangan keluarganya untuk melakukan operasi. Jika ada keluarga yang bisa datang tolong segera datang ke rumah sakit Ibu dan anak”


Ken langsung menjatuhkan ponselnya, ia langsung berlari keluar dari rumahnya dan menuju rumah sakit. Saat sampai ia langsung menuju bagian resepsionis dan bertanya mengenai istrinya.


“Oh, anda suami korban kecelakaan? Dia masih ada di UGD, para dokter menunggu anda” Ken langsung menuju ke UGD dan menatap deretan polisi serta dokter yang berada diluar ruangan.


“Apa yang terjadi kepada istriku?!”


“Mohon tenang Tuan, mobil istri anda mengalami kecelakaan dengan sebuah truk. Mohon anda tanda tangani surat persetujuan operasi agar kami bisa segera menangani istri anda”


Tanpa basa-basi Ken langsung menandatangani surat yang diberikan dokter kepadanya, ya tuhan…bagaimana bisa menjadi seperti ini?.


Tak berselang lama brangkar didorong keluar dari UGD. Pupil mata Ken seketika gemetar melihat tubuh istrinya yang dipenuhi oleh darah, bahkan perban disekujur tubuhnya tak mampu menahan darah yang keluar.


“Ken…”


“Sayang aku disini, apa yang terjadi hm? Kenapa kau pergi sendiri?” tanya Ken tak mampu menahan air matanya lagi.


“Kenapa…kenapa kau mengkhianatiku…kenapa…aku salah apa?”


Deghh!!


“He-hei…apa yang kau katakan hm? Me-mengkhianati apa?”


“Kami harus membawanya keruang operasi”


“Sayang kau tenang saja, kau pasti akan baik-baik saja okey? Bertahanlah untukku”


Brangkar didorong keruang operasi, Ken langsung terduduk lemas dikursi tunggu. Ya tuhan, ini pertama kalinya ia benar-benar mengkhawatirkan seseorang dan itu adalah wanita yang ia cintai. Istrinya harus baik-baik saja, harus!.


Menit demi menit berlalu, 1 jam…2 jam…3 jam…


Ken mulai gelisah, ia berjalan bolak balik didepan ruang operasi. Ya tuhan, kenapa lama sekali? Istrinya baik-baik saja bukan? Istrinya pasti akan baik-baik saja bukan? Ingin sekali ia menerobos masuk dan membantu menangani istrinya!.

__ADS_1


“Ya tuhan…kenapa mereka lama sekali?”


“Anda harus tenang Tuan, istri anda akan baik-baik saja”


Pintu ruang operasi terbuka, Ken langsung menghampiri dokter dan menanyakan kondisi istrinya. Dokter paruh baya itu melepaskan maskernya dan menunduk.


“Dengan segala maaf…maafkan saya karena tidak bisa menyalamatkan istri dan anak anda Tuan…”


Blarrrrrr!!!


Bagai petir disiang bolong, Ken langsung membeku mendengar pernyataan dokter. Istrinya…tidak bisa diselamatkan? Dan anaknya? Apa istrinya sedang mengandung sekarang?!.


“Anak…anak apa?”


“Himpitan pada tubuh istri anda membuat anak anda gugur Tuan, saya benar-benar minta maaf”


“Tidak!!!! Kau pasti bohong!!!” Ken langsung mendorong tubuh dokter itu dan masuk kedalam ruang operasi, ia mencekal tangan perawat yang hendak menutup tubuh istrinya.


“Sayang! Sayang, buka matamu! Kumohon buka matamu!” Ken dengan panik menepuk belan pipi istrinya sembari menopang tubuh atas istrinya.


“By ini nggak lucu sama sekali! Jangan menakutiku!! Buka matamu sekarang!”


“Tuan…istri anda sudah tiada…” ujar seorang perawat.


“By…buka matamu…kau tak mau melihatnya hm? Kau tak mau melihat anak kita?”


“Tuan…”


“Kau hamil…kau benar-benar hamil…bangun dan lihatlah anak kita…bukankah kau sudah menanti ini selama 8 tahun?”


“Tidak!!! Dia masih hidup!!! By!!! Buka matamu kumohon!! Kau tidak boleh seperti ini!! Kau tidak boleh meninggalkanku!! By!!! Buka matamu!!!”


.


.


.


.


.


.


.


Puk


Puk


Puk


.


.


.

__ADS_1


“Sayang! Bangun! By! Buka matamu!” Aku menepuk dengan sedikit keras pipi suamiku, mimpi apa yang dialami suaminya hingga berteriak seperti ini?.


“Nggak by!! By!!!!” Ken membuka matanya dengan spontan dan langsung terduduk dengan nafas yang tersengal-sengal. Matanya dengan panik menatap istrinya, i-ini istrinya? Benar-benar istrinya?.


“Sayang…kau kenapa? Apa yang terjadi? Ceritakan kepadaku”


Bukannya menjawab Ken langsung memeluk istrinya dengan erat, merengkuh dengan posesif tak memiliki niatan untuk melepaskannya.


“By…kenapa?” Aku bertanya dengan lembut sembari menepuk punggungnya, suaminya mengalami mimpi apa sampai seperti ini?.


“By…aku takut…aku benar-benar takut…”


“Kenapa? Ceritakan kepadaku”


“Aku bermimpi kau…kau pergi meninggalkanku, bersama anak kita”


“By…apa yang kau katakan?”


“Kau tak boleh pergi…kau tak boleh meninggalkanku…kau tak boleh…”


“Itu hanya mimpi buruk, itu akan berlalu…sudah, kembalilah istirahat. Ini sudah jam 3 pagi”


“Kau benar-benar tidak akan meninggalkanku bukan?”


“Tidak akan…sudah, ayo tidur” Aku membaringkan tubuhnya, memeluknya dengan hangat menyalurkan rasa tenang. Kali ini dia pasti menyembunyikan sesuatu dariku, dan aku harus mencari tau apa itu.


“Kumohon jangan pergi…jangan meninggalkanku…aku mencintaimu”


“Aku juga mencintaimu, sekarang mari kita tidur…”


“Besok ikut aku ke kantor ya?”


“Nggak mau ah, bosan aku lihat kerjaanmu” Aku menjawab sembari tertawa, itu benar…aku benar-benar bosan melihat pekerjaan suamiku. Sepanjang hari hanya membolak-balik kertas, untung saja aku menolak melanjutkan bisnis keluarga dan focus mengajar.


“Ayolah byyyy…bentar saja…” Dia meminta dengan wajah manisnya, itu membuatku tak bisa menolak permintaannya.


“Baiklah, tapi boleh aku minta sesuatu?”


“Apa?”


“Aku mau punya Assistant, tapi nggak sekarang sih. Boleh ya?”


“Boleh, mau kucarikan?”


“Enggak, aku cari sendiri”


“Baiklah, nanti bilang ya kalau sudah dapat”


“Siap Boss!!”


Setelah itu kami terlelap sembari memeluk satu sama lain, hari itu…untuk pertama kalinya aku begitu penasaran dengan hal yang di sembunyikan oleh suamiku, ditambah ada perasaan tak enak dalam hati. Apa dia melakukan sesuatu diluar sana?.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2