
.
.
.
Ken menatap istrinya yang tengah sibuk menonton film sembari memakan popcorn. Ya tuhan…ini sudah jam 2, apa istrinya masih belum mengantuk? Ia saja sudah sangat mengantuk, dan juga itu film ke-4 yang sudah diputar!!.
“By…udah, ayo tidur. Nggak baik begadang terus kayak gini” Ken mematikan Tv dan mengambil popcorn dari tangan istrinya, sudah 1 minggu berturut-turut istrinya seperti ini, menonton film tanpa kenal waktu.
“By…1 film lagi aja…”
“Tidur”
“By…1 aja lohhh, habis itu tidur”
“Enggak, sekali nggak ya nggak! Udah tidur”
“Jahat…”
“By, jangan nangis” Ken langsung memeluk istrinya yang sudah siap menangis, kalau tidak dilarang seperti istrinya kan terus menonton film sampai pagi.
“Kasihan bayinya sayang…kasihan bayinya kalau kau begadang terus”
“1 film lagi aja lohhh”
“Nggak, tidur ya. Kasihan bayinya sayang, kau nggak mau bayinya kenapa-napa kan?”
“Hiks hiks hiks” Ken terus menerus memeluk istrinya hingga beberapa saat kemudian istrinya jatuh kedalam alam mimpi, Ken menghembuskan nafas lega dan membaringkan istrinya. Tidak makan dengan teratur, sering begadang…bagaimana bisa ia tidak khawatir? Kemarin saja sempat drop karena kurang nutrisi.
“Sayang…Papa harus apa hm? Kasihan Mama kalau terus begini, bantu Papa…jangan menyusahkan Mama ya” Ken berucap sembari meletakkan kepalanya diatas perut sang istri yang sudah membuncit. Tak terasa kandungan istrinya sudah hampir memasuki bulan ke-4, suka duka yang ia alami selama istrinya hamil benar-benar menjadi sebuah pengalaman baru yang tak akan terlupakan.
“Oh? Kalian belum tidur? Anak Papa…sedang apa didalam hm?” Ucap Ken sembari mengelus perut istrinya tatkala merakan sebuah tendangan di pipinya. Sekarang ia yakin, anaknya pasti laki-laki.
“Kenapa belum tidur sayang? Anak Papa pinter kok, ayo tidur…Mama lagi istirahat, kalian juga harus istirahat. Papa putar ya musiknya” Ken meraih sebuah musik box dan memutar lagu yang selama 2 bulan berturut-turut diputar setiap kali istrinya tidur.
“Makasih by…makasih…” Ken mencium kening istrinya sebelum ikut terlelap dalam mimpi.
.
.
.
.
Aku menatap tubuhku dari pantulan cermin, astaga…perutku sudah sebesar ini ternyata rasanya waktu berputa terlalu cepat.
“Kulitku jadi kusam…” Aku menghembuskan nafas sembari menyentuh wajahku, semenjak hamil aku jadi jarang merawat diri karena lebih fokus pada anak yang ada di dalam kandunganku sekarang lihat ini, perut buncit, kulit kusam, kaki tangan bengkak, macam badut ancol.
“Kenapa hm? Udah cantik, nggak usah ngaca lagi” Aku tersenyum manis melihat Ken yang baru bangun tidur, pria ini bukannya pergi mandi malah memelukku seperti ini.
“By, kulitku jadi kusam…kaki
tanganku bengkak…jadi jelek aku”
“Mana ada? Kau itu wanita tercantik di dunia ini. Mana mungkin jelek” Jawab Ken sembari tertawa, hilang kemana rasa percaya diri istrinya. Lagipula bukankah itu hal wajar bagi Ibu hamil?.
__ADS_1
“Kau keseringan begadang, nggak ada nutrisi masuk. Gimana mau cantik lagi?” Goda Ken kepada istrinya.
“Huh! Apa kau mengejekku sekarang?! Ini semua kan demi anankmu!”
“Aku bercanda sayang…mau ke spa? Sekalian ke salon”
“Boleh?!”
“Of course, bersiaplah. Aku akan mandi”
“Sekalian ke mall ya? Belikan ice cream”
“Satu aja ya tapi”
“Ok”
Aku segera pergi keruang ganti dan melihat-lihat baju yang akan kupakai, namun lama mencari aku tak mendapatkan baju yang ingin kupakai. Kemana ya hilangnya baju itu?.
“By!!!!”
“I-iya?!! Kenapa?! Ada apa?!” Ken dengan panik masuk keruang ganti, ia langsung terkejut mendapati istrinya yang tengah menangis dengan baju yang berserakan di mana-mana. Duhhhh…kenapa lagi???.
“Nggak punya bajuuu!!!” Aku menangis keras sembari memeluk tubuh telanjang Ken.
“Ya tuhan by…baju segini banyaknya kok bilang nggak ada?! Kemarin kan baru beli juga”
“Nggak ada yang muat hiks…aku tambah gendut…”
“Nggak! Kata siapa?! Nggak gendut, cuma perutmu aja yang buncit”
“Haha, ya udah…tunggu sini. Aku akan minta Zehan bawa pakaian kemari. Dress mau?”
“Heem, putih”
“Iya, tunggu bentar ya”
************************
Ken tersenyum manis melihat istrinya yang tengah lahapmenyantap makan siangnya, sudah lama ia tak melihat istrinya yang makan selahap ini. Bahkan sudah habis 2 piring steak.
“Habis nyalon langsung makan, enak ya”
“Hehehe, besok aku ajak temen-temen boleh by?”
“Boleh, tapi nggak lebih dari jam 2 ya? Aku pulang kau harus ada dirumah”
“Siap!”
“Mau pesen lagi nggak?”
“Mau mau! Mau gyoza 1 ya”
“Bener-bener ya, habis 4 piring hahaha”
“By…”
“N-nggak nggak by, bercanda doang. Mau tambah puddingnya?”
__ADS_1
“Heem!”
Ken tersenyum dan segera menambah pesanan mereka, syukurlah istrinya mau makan banyak. Semoga saja tidak dimuntahkan nanti.
“Ken”
Ken menoleh kearah seseorang yang baru saja memanggilnya, Ken tersentak melihat kedatangan seorang wanita hamil yang datang sembari membawa sebuah map coklat ditangannya.
Ken menarik tangan wanita itu pergi menjauh dari area restaurant agar istrinya tidak mengetahui kedatangan wanita ini.
“Apa yang kau lakukan disini? Bukankah aku sudah bilang jangan ganggu aku?”
“Ken…aku merindukanmu, sudah lama kau tidak datang kerumahku. Lihat, aku bawa sesuatu untukmu” wanita itu menyerahkan map coklat ditangannya kepada Ken, Ken mengerutkan keningnya dan membuka map yang berisikan laporan kesehatan berserta hasil USG.
“Kemarin aku kerumah sakit, dan dokter bilang anak kita laki-laki” ucapan wanita itu langsung membuat Ken membeku, la-laki-laki? Ti-tidak, ini benar-benar kacau. Itu anak laki-laki! Dan tak mungkin ia membiarkan anak itu hidup terlantar! Ya tuhan, ia harus apa sekarang?!.
“Pulanglah, akan kukirimkan uang untukmu. Dan jaga baik-baik anak itu”
“Ken!”
“Apa?”
“Bisakah…kau menemaniku makan hari ini?”
“Aku-“
“Ken, kenapa kau ada disini?” sekujur tubuh Ken langsung menegang mendengar suara Hembly, Ken dengan panik menoleh ke belakang dan menatap istrinya yang tengah berjalan kearahnya.
Aku memiringkan kepala menatap bingung raut wajah terkejut Ken, kenaap pria ini ada disini? Bukankah tadi sedang memesan makanan? Dan juga siapa wanita hamil ini? Oh…wanita yang dikantor Ken waktu itu.
“B-by, ke-kenapa keluar?”
“Bukankah aku yang seharusnya bertanya? Kenapa kau ada disini?” Aku melipat kedua tanganku menantikan jawabannya, aku ingin tau kenapa dia disini dan bersama dengan wnasita hamil ini.
“I-ini”
“Dan, kenapa kau ada disini? Bukankah kau adiknya Rhen?”
“Be-benar Nyonya”
“Sedang hamil? Kok Rhen nggak bilang adiknya udah nikah? Atau…”
“Su-suami saya sedang diluar kota, kebetulan saya bertemu dengan Tuan muda dan ingin berbincang sedikit dengannya”
“Udah selesai sekarang? By ayo pulang, akan kukatakan secara jelas bahwa aku tak menyukaimu. Jadi jika kau berani mendekati suamiku, jangan pikirkan akibatnya”
Ken membuang map coklat ditangannya ke tempat sampah sebelum ditarik pergi oleh istrinya, ia harus mencari alasan yang kuat agar tidak dikunci diluar kamar lagi malam ini.
“Kau paling mengerti sifatku Ken, aku tak menyukai wanita itu. Sekali lagi kau menemuinya dibelakangku, jangan pernah masuk kamarku lagi”
Glek…
“I-iya by”
.
.
__ADS_1