
**********************************
Aku mengerutkan kening melihat hasil laporan yang diberikan Noni, disini tertulis dengan jelas bahwa Rhen adalah seorang anak tunggal dan tak ada satu kalimatpun yang mengarah pada wanita itu. Apa Rhen sedang berbohong kepadanya? Siapa wanita itu sebenarnya? Bahkan Rhen sampai berbohong tentangnya.
“Kau tak salah kan Noni?”
“Saya berani bersumpah, bahkan saya bertanya sendiri kepada kedua orang tua Tuan Rhen”
“Baiklah, kita sampai disini saja. Minta orang memata-matai wanita itu, aku akan keperusahaan Ken sekarang”
Aku langsung mengambil tas dan pergi dari ruang bawah tanah, ruangan yang bahkan tak diketahui Ken…sang Tuan rumah, ada untungnya aku membangun diam-diam ruangan itu.
Aku menganggukkan kepala sembari tersenyum ketika beberapa karyawan yang berpapasan denganku memberikan salam. Gelagat mereka cukup normal dibandingkan sebelumnya ketika aku datang ke sini secara tiba-tiba.
“Lo-loh by?! Kok disini?”
“Salah ya aku keperusahaan sendiri?”
“Bu-bukan begitu maksudku”
“Aku tak ada urusan denganmu Ken, tapi aku punya urusan dengan Rhen”
“Sa-saya Nyonya?”
Puk!
Kulemparkan berkas yang kubawa tepat didada Rhen yang membuat Ken langsung berdiri dari tempat duduknya. Rhen, pria itu membungkuk dan mengambil berks yang ada di lantai dan membacanya.
“Siapa dia Rhen? Kenapa kau berkata bahwa dia adikmu?”
“Nyonya ini…”
“Silsilah, latar belakang, masa kanak-kanak, remaja dan dewasa. Kenapa tak ada satupun kalimat yang mengarah pada ‘Adikmu’ itu?”
“N-nyonya…ini…”
“Perlu kutelfon orang tuamu dan bertanya apa mereka punya anak haram? Ohhh lebih jelasnya mari kita datangkan wanita itu”
“Apa yang terjadi kepada anda Nyonya? Kenapa anda mencari informasi pribadi Tuan Rhen sampai seperti itu? Dia adik Tuan Rhen atau bukan, itu bukan masalah bagi anda bukan? Lagipula dia tidak merugikan perusahaan ini” Ven berucap sembari menatap dingin kepada atasannya.
Kutatap dengan dingin wajah kaku Ven, pria itu benar-benar perlu diberi pelajaran agar mengingat siapa aku diperusahaan ini, beraninya peria itu melunjak kepada atasannya sendiri.
“Itu masalah bagiku, Ken dan Rhen sama-sama melanggar peraturan perushaaan yang membawa orang asing masuk kedalam kantor Direktur. Ditambah dengan kebohongan yang Rhen lakukan sudah sepantasnya aku melakukan ini demi perusahaanku sendiri, ditambah akhir-akhir ini kulihat keuangan perusahaan sedikit berkurang ya? Dikemanakan? Kok nggak bilang dulu kalau dipakai?”
Degh!!
Ken menelan ludhanya dengan kasar, uang sekecil itupun tak luput dari pengawasan istrinya? Sial*n…ia harus pakai alasan apa sekarang? Tak mungkin ia menjawab yang sejujurnya kan?.
“Anda pikir dengan uang apa yang digunakan Tuan untuk memenuhi kebutuhan mewah anda Nyonya?”
“Hahahaha, kau lucu Ven. Uang yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan materialistisku, berasal dari keuangan perusahaan cabang. Jangan pikir aku tak tau karena aku bisa melihat semua pengeluarkan yang Ken lakukan selama ini. Masih mau berbohong?”
“B-by”
“Semua proyek terlaksana dengan baik dalam pengawasanku, tak ada satupun diantara proyek itu yang mengalami masalah hingga harus mengambil keuangan dari perusahan pusat. Jadi pasti…uang itu digunakan untuk pribadi. Katakan, siapa yang korupsi?”
“By…maaf ya aku tidak mengatakannya kepadamu, waktu kita liburan sebulan yang lalu aku memakai sedikit uang perusahaan. Maaf ya” Ken menghampiri istrinya dan mengecup singkat bibir istrinya.
Aku menatap dingin Ken yang tengah tersenyum kepadaku, dia harus latihan untuk berbohong didepannya, sebulan yang lalu katanya?. Dengan geram kucengkram kedua kerah kemeja Ken.
__ADS_1
“Sejak kapan kau mulai berbohong kepadaku? Keuangan perusahaan sudah menurun sejak 4 bulan yang lalu, tepatnya 3 minggu sebelum liburan kita di Santorini. Katakan dengan jujur, kemana uang itu?”
Glek…
“Ini kali ke-3 kau menelan ludah, apa jangan-jangan kau mengeluarkan uang untuk wanita hamil itu?”
Blarrrrr…
Nafas Ken seketika tercekat mendengar ucapan istrinya, ja-jangan bilang istrinya sudah tau sesuatu? Apa uang sekecil itu bisa membuat istrinya menyadari perselingkuhannya? Tidak mungkin…tidak mungkin…kan?.
“Hahahahaha, sepertinya benar ya…”
“B-by”
“Aku tak pulang malam ini, jadi tak usah mencariku”
“Kau mau kemana by?!”
Drttttt drttttt
Kutatap ponselku yang mendapat panggilan masuk dari nomor tak dikenal, tanpa ragu aku mengangkatnya karena biasanya itu kelakuan dari salah satu anak buahku.
“Sudah lama tidak bertemu, aku merindukanmu Erine”
“Morgan?”
Mendengar nama Morgan membuat nafas Ken kembali tercekat, ti-tidak…
“B-by…tolonglah…” pinta Ken meminta istrinya untuk mematikan telfon.
“Kau masih mengenali suaraku Erin, bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?”
“Bisakah kita bertemu jam makan siang nanti? Ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu”
“Temui aku di restaurant biasa, masih ingat?”
“Baiklah, Latte tanpa gula dan pudding caramel? Ditambah salad buah dan macaroon?”
“Kau masih mengingatnya dengan baik”
“Erin…”
“Hm?”
“Tak bisakah kita kembali seperti dulu? Aku tau kau sedang hamil, tapi aku masih mencintaimu”
“Morgan, jaga etikamu terhadap diriku. Aku dan Ken masih menjadi suami istri dan itu tidak akan berubah”
“Apa kau masih akan mempertahankannya meskipun jika berselingkuh?”
“Jika dia berselingkuh?” Aku menatap Ken yang diam termenung ditempatnya, jika pria ini berselingkuh ya…
“Kau pikir aku wanita yang kekurangan laki-laki? Jika Ken berselingkuh, aku akan langsung menikahimu bahkan sebelum aku resmi bercerai dengannya”
“Anakmu pakai margaku ya berarti?”
“Satu margamu satu margaku, adil kan?”
Tubuh Ken seketika goyah mendengar ucapan istrinya, a-apa? Ia lupa satu hal…ia lupa jika istrinya adalah pemain kelas atas, ia lupa jika istrinya memiliki banyak pria yang siap menikahinya.
__ADS_1
“Hahahaha, apa kau berniat poliandri?”
“Poliandri? Kau lucu, itu akan terjadi jika Ken berani berselingkuh dengan wanita yang kastanya berada dibawahku”
“Sudah sudah, jangan bercanda lagi. Bercandamu mengerikan, jam 1 kutunggu ya”
“Iya”
Tuttttt…
Kutatap Ken yang sejak tadi diam sembari mencekal tanganku, dia tak menganggap serius pembicaraanku dengan Morgan bukan? Oh ya, selera humor Ken dan Morgan kan beda…jauh…
“Aku pulang dulu”
“Aku tak mengizinkanmu pergi” Ken langsung menarik tangan istrinya dan mencium paksa bibir itu.
Aku memberontak tatkala Ken dengan kasar mencium bibirku dan mempererat pelukannya, sesak…ciuman ini membuatku merasa sesak…
“Hmphhh…lepas…Ken!!” Aku menggigit bibir bawahnya agar dia mau melepaskan ciumannya, Ken mengusap sudut bibirnya yang berdarah dan kembali mencium paksa istrinya.
“Ken…aku…” Aku memukuli dadanya agar berhenti ketika merasakan bahwa langkahnya semakin maju dan langkahku semakin mundur hingga akhirnya…
Pukk!
Mataku membulat dengan sempurna tatkala punggungku membentur tembok dengan cukup keras, pe-perutku…perutku…
“Ken!!” Ken terus mencium bibir istrinya tanpa memperdulikan pemberontakan yang istrinya lakukan.
“Sakit!! Ken! Perutku sakit!!” Mendengar hal itu Ken langsung melepaskan ciumannya membuat Hembly langsung terjatuh di lantai sembari memegangi perutnya.
“By!?”
“Sakit…perutku sakit sekali…”
“Ki-kita kerumah sakit sekarang” Ken langsung menggendong isrtinya dan keluar dari ruangannya, sial*n…ia terlalu terbawa emosi dan melupakan jika kandungan istrinya yang lemah.
Saat sampai dirumah sakit Ken langsung membawa istrinya ke ruangan pribadi milik temannya, Nic tentu saja terkejut melihat kedatangan Ken yang membawa Hembly.
“Apa yang terjadi Ken?!”
“To-tolong periksa istriku, tolong…”
Ken meletakkan istrinya di brangkar membuat Nic segera memeriksa keadaan Hembly, Ken mengenggam dengan kuat tangan istrinya sesekali menciuminya. Ya tuhan…bagaimana bisa ia begitu ceroboh?.
“Apa yang sudah kau lakukan Ken?! Sudah kubilang jika kandungan istrimu masih lemah kan?!! Apa kau ingin membunuh anakmu sendiri?!!” Nic tak mampu menahan emosinya melihat darah yang keluar dari kaki Hembly, pria gila ini!!.
“Sakit…ini sakit sekali…”
“Cepat panggil dokter Andra!! Sekarang!!” Ken langsung bergegas pergi ke ruangan Andra dan membawa pria itu keruangan Nic.
“Anakku…apa dia baik-baik saja?” Aku terus menangis sembari memeganggi perutku, ya tuhan…ini sakit…rasanya akan ada sesuatu yang keluar dari perutku.
“Anda harus tenang Nyonya, anda harus tenang” Andra segera memasang masker oksigen sesaat sebelum Hembly tak sadarkan diri.
“By?! By!!”
.
.
__ADS_1
.