
.
.
.
Ken keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya, dengan hati-hati dan tanpa menimbulkan suara ia segera berpakaian sesekali melirik kearah istrinya yang masih tertidur. Hahaha, ini sudah siang…kenapa istrinya masih belum mau bangun dari mimpinya?.
Tok tok
Ken segera membuka pintu sbeelum istrinya terbangun karena itu, lebih baik istrinya bangun dengan sendirinya. Ia tak ingin membangunkan istrinya, biarkan istrinya tidur lebih banyak.
“Tuan, saya membawakan makanan anda dan Nyonya”
“Istriku masih belum bangun, bawa makanan istriku pergi. Nanti siapkan lagi”
“Baik”
Ken mengambil makanannya dan meletakkan dimeja balkon, lebih baik ia bekerja dirumah selama beberapa hari untuk mengawasi istrinya sekaligus menyingkirkan rasa curiga dihati istrinya, dengan begitu cap ‘Suami idaman’ akan terus berada di pikiran istrinya. Ia mungkin egois, ia tak ingin kehilangan anak dan juga istrinya, ia serakah karena ingin memiliki mereka secara bersamaan.
“Hm…Ken…tutup tirainya…” Aku meraba samping tempat tidur sembari menutupi wajahku dengan selimut.
“Udah bangun by? Mau lanjut tidur lagi?” Aku membuka mata secara perlahan tatkala merakan benda kenyal menyentuh pipiku, hm? Ini sudah jam berapa? Kenapa Ken bisa bangun duluan?.
“Jam berapa?” Ucapku sembari memeluk punggung Ken dengan erat membuatnya mau tidak mau berbaring disampingku, aku masih mengantuk…aku ingin tidur lagi.
Cup…
Ciuman kembali mendarat dipipiku, jika bukan karena jam 1 nanti aku ada rapat aku akan tidur sampai siang.
“Udah jam 12.30, mau makan atau lanjut tidur hm?”
“Apa?! Udah jam 12.30?!”
“Hei…lagi hamil…”
Aku langsung bangun dan menatap jam dinding, ahhhhh!!! Kenapa udah setengah satu aja sih?!! Ia belum makan dan mandi!! Dan juga jarak rumah ke kampusnya butuh 20 menit!!! Ia akan telat rapat!!.
“Kenapa nggak bangunin sih?!! Aku ada rapat lohh!!”
“Lihat tidurmu nyenyak begitu nggak tega mau bangunin, udah…makan yuk? Akan kusiapkan air mandimu”
“Kau nggak kerja lagi?”
“Nggak, libur”
“Hei! Kau harus cari uang untukku dan anak-anak! Kalau kau nggak kerja mau kau beri makan apa aku dan anakmu?!” Kesalku ketika melihat senyum terukir dibibirnya, aku senang karena dia dirumah menemaninya. Tapi mengingat aku sedang hamil dan juga keuangan perusahaan saat ini aku ingin memukul wajahnya jika mengatakan ingin libur.
“Bercanda by, aku kerja dari rumah aja. Kau lagi hamil muda, aku nggak ingin kau kenapa-napa”
“Gombal terus!” Kupukul pelan bibirnya dan turun dari tempat tidur begitupun dengan Ken yang langsung pergi kekamar mandi untuk menyiapkan air.
Setelah semuanya siap aku langsung pergi ke kampus yang tentunya diantar oleh Ken, setelah sampai di kampus aku langsung turun dan meminta Ken untuk menunggu di kantin, rapat ini tidak akan lama karena hanya membahas tentang liburan musim panas mahasiswa.
“Ada yang dingin kau pesan?”
“Yang biasanya saja”
“Ok”
.
.
__ADS_1
.
.
Ken menatap jam tangannya untuk sesekali ditengah kesibukannya memeriksa dokumen, kenapa istrinya masih belum kembali? Ini sudah satu jam lebih, apa istrinya baik-baik saja?.
“By maaf, apa kau menunggu lama?”
“Ada apa? Tumben lama”
“Hehe, maaf…tadi ada sedikit kekacauan. Kau udah pesan makanan?”
“Udah, kuambil makananmu dulu ya. Duduk disini, jangan kemana-mana”
Aku duduk sembari menghembuskan nafas, untunglah Ken tak curiga. Jika sampai dia tau aku sempat muntah-muntah saat rapat tadi dia akan mengamuk habis-habisan disini.
“Sayang…kenapa hm? Lagi marah ya sama Mama?” Aku tersenyum lembut sembari mengelus perutku, tak biasanya aku muntah jika tidak ada penyebab yang mengganggu. Apa mungkin karena aroma lavender diruang rapat? Tapi itu aroma favoriteku…
“By, ini makananmu. Ada lagi yang kau inginkan?” Kutatap sebuah pancake yang dipesan oleh Ken, ughhhh…aku ingin muntah.
“By?! Kenapa?!” Karena tak tahan aku langsung berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan semua isi perutku, lagi.
“Astaga by? Kenapa? Kau sakit?”
“Aku mual huekkkk”
Melihatku yang tak berhenti muntah membuat Ken langsung menggendongku dan membawaku pergi, entah kemana yang pasti tenagaku sudah terkuras habis karena muntah.
“Tahan bentar ya by, kita kerumah sakit”
“Aku tak bisa makan apapun sejak semalam…anak kita…apa baik-baik saja?” Kucengkram lengan atasnya yang kini tengah memelukku dengan erat, aku takut…aku takut anakku kenapa-napa
“Anak kita pasti baik-baik saja…aku janji”
“Jadi istriku baik-baik saja?”
“Tentu saja! Kau ini seperti belum berpengalaman saja!” Ucapan dokter itu langsung membuatku terpaku, apa maksudnya dengan belum bepengalaman? Ken kan dokter bedah, dan ini adalah kehamilanmpertamaku. Bukankah wajar Ken tidak tau?.
“Ma-maksudku dia kan pernah belajar tentang ini, jadi seharusnya di tau” Hampir saja aku berpikiran yang tidak-tidak tentang Ken.
“Oh, tapi Ken kan emang nggak belajar diluar materi bedah. Ini kehamilan pertamaku, jadi Ken pasti tidak terlalu mengerti. Terima kasih atas waktu anda, pulang yuk by”
“I-iya”
“Oh ya jangan lupa vitamin tambah darahnya diminum”
“Ok”
“Oh by, bisa kau tunggu dikantin dulu? Aku lupa jika harus menemui dokter Andra”
“Ok”
Disaat istrinya sudah pergi Ken langsung menatap tajam kearah rekan kerjanya, tangannya mengepal siap untuk memukul pria itu.
“Bukankah sudah kubilng jaga ucapanmu?!”
“Ya sorry, tapi Ken. Kau nggak mau jujur aja ke istrimu?”
“Nggak lah! Aku masih waras!”
“Tapi Ken, kasihan istrimu. Dia lagi hamil, kau tau sendiri kalau kandungannya lemah tapi kau malah seperti ini. Aku tak bisa membantumu lagi Ken, karena ini sudah melanggar sumpahku sebagai dokter”
“Lalu? Kau ingin aku jujur sekarang dan besok aku resmi bercerai dengan istriku? Aku tak pernah menduga jika dia akan hamil disaat seperti ini!”
__ADS_1
“Lalu? Apa kau yakin istrimu akan menerima anak itu? Anak harammu dengan wanita lain? Anak yang akan melangkahi anaknya? Cepat atau lambat, jika istrimu tau…aku berani bertaruh jika kau akan diceraikan. Hentikan kegilaanmu Ken, ingat darimana istrimu”
Blarrrrr!!
Ken seketika terdiam mendengar ucapan rekannya, tidak…pasti ada cara agar istrimu mau menerima anak itu kan? Pasti ada cara untuk menyelamatkan pernikahan ini kan?.
“Dia putri keluarga Chatherine, putri satu-satunya keluarga ternama. Dikandungannya kini ada pewaris sah 2 keluarga besar, apa istrimu akan rela posisi anaknya direbut oleh anak wanita lain? Jangan lupakan peraturan utama keluargamu Ken”
Tidak mengadopsi anak sebelum Nyonya rumah melahirkan adalah peraturan utama di keluarga Richardson dan beberapa keluarga besar lainnya, karena posisi Tuan/Nona muda harus disandang oleh pewaris yang sah, jika melanggar ditakutkan akan terjadi hal yang tidak diinginkasn.
“Tapi dia juga anakku”
“Ken, perlu kuingatkan…ada banyak pria yang menantikan status janda Hembly. Termasuk Morgan”
“Tutup mulutmu sial*n!!!”
“Aku bukan Andra Ken, jika istrimu bertanya. Akan kujawab sepengetahuanku”
“Maka aku akan membunuhmu!!”
“Karma itu bisa mengenai bayimu”
“Kau!!!”
Ken pergi begitu saja dari ruangan rekan kerjanya, sial*n! Tidak Zehan tidak Nic! Mereka berdua benar-benar membuatnya sakit kepala!! Ia butuh pelampiasan!!.
“Ken? Udah selesai?”
“Ayo pulang!”
Aku terkejut tatkala Ken menarik tanganku menuju mobil, didalam perjalanan keheningan menyertai kami berdua. Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia tiba-tiba marah? Apa dia marah karena aku tak bisa menjaga baik-baik kandunganku? Apa dia marah karena aku selalu meminta hal-hal yang aneh? Atau dia marah karena aku telah menghabiskan banyak uangnya?.
“By…maaf”
Ken sontak menoleh kearah istrinya yang tengah menundukan kepala sembari memeluk perutnya sendiri. Kenapa istrinya minta maaf?.
“Maaf jika semenjak aku hamil aku selalu merepotkanmu, meminta ini itu. Akan kuusahakan tidak akan seperti itu kedepannya”
“Ngomong apa sih by? Aku nggak marah masalah itu, udah nggak usah dipikirin. Yang penting kau dan anak kita sehat, aku akan berikan semua yang kau inginkan selama aku bisa. Nggak usah dipikirin ya” Ken berucap sembari mengelus kepala istrinya, tak seharusnya ia bersikap dingin seperti tadi, ia lupa jika istrinya mudah sekali overthinking.
“Serius?”
“Iya, mau makan nggak? Seafood mau?”
“Nggak dulu deh by, nanti muntah lagi”
“Tapi kasihan bayinya, kau selalu muntah setelah makan”
“Nggak selera, mau pulang aja”
“Dikit aja by, buah aja deh…gimana?”
“Hmmmm…nggak mau”
Ken menghembuskan nafasnya, inilah yang sejak tadi ia pikirkan. Jika istrinya tidak nafsu makan dan selalu mual setelah makan bagaimana anaknya bisa mendapat nutrisi? Jika begini terus bisa-bisa istrinya masuk kerumah sakit karena kurang gizi.
“By, aku lapar. Aku beli ayam bakar madu dulu ya nanti”
“Heem”
.
.
__ADS_1
.