Mistake Love

Mistake Love
Mistake Love (6)


__ADS_3

.


.


.


Ken meminum kopinya sesekali melirik wanita yang ada dihadapannya saat ini, namun matanya seketika teralihkan kepada pesan masuk yang ada di ponselnya, hm?.


“By, aku akan pulang sebentar lagi. Kau di mana? Aku ingin makan bersama denganmu”


Ken dengan cepat membalas pesan yang berasal dari istrinya tersebut, akhirnya! Setelah sekian lama istrinya mengajaknya makan malam bersama lagi! Biasanya ia duluan yang memancing, kali ini ia yang dipancing.


“Ken, makasih ya untuk hari ini. Aku benar-benar senang”


“Hm, untuk 2 minggu kedepan kau jangan menghubungiku. Jika kau perlu apa-apa katakan saja kepada Assistantku”


“A-apa? Tapi kenapa?”


“Aku akan pergi berlibur bersama istriku, kuharap kau tak mengganggu kami”


“Tapi aku sedang membutuhkanmu, tak bisakah aku ikut?”


“Membiarkan istriku tau mengenai dirimu? Tentu saja tidak, sudah. Aku harus pulang”


“Ken! Tunggu!”


“Ada apa lagi?”


“Bi-bisakah kita bermalam dihotel malam ini?”


“Aku hanya akan bermalam bersama istriku. Dan juga tugasmu hanya menjaga anakku yang ada di kandunganmu, jangan berharap lebih”


Wanita itu langsung mengepalkan tangannya dengan tubuh yang gemetar hebat, Ken hanya menatap dingin wanita itu sebelum berdiri dari tempat duduknya.


“Kuingatkan sekali lagi. Jangan macam-macam, apalagi sampai berani menemui istriku”


“…”


Ken pergi dari restoran itu sembari menelfon istrinya yang berada disebrang sana.


“By, kau sudah pulang?”


“Sedang dalam perjalanan sayang. Kau di mana sekaang? Perlu kujemput?”


“Nggak, aku sudah sampai dirumah. Cepat pulang ya, aku akan membuatkan minuman kesukaanmu”


“Baiklah, setelah itu kita pergi”


“Siap!”


.


.


.


Ken tersenyum lembut melihat istrinya yang sibuk memotret sekitar, sebegitu sukanya ya dengan Santorini hingga lupa sama suami sendiri? Mulai hari ini hingga 2 minggu kedepan ia akan bersama istrinya disini, tanpa adanya pekerjaan ataupun telfon mengganggu. Akhirnya…ia bisa merasakan ketenangan setelah sekian lama.

__ADS_1


“By! Coba foto dong! Pakai ponselmu!”


“Iya sebentar ya” Ken merogoh saku celananya dan mengambil beberapa foto istrinya, dilihat dari sisi manapun istrinya memang sempunra. Muda, cantik, pintar dan ramah…apalagi yang ia cari seorang wanita sesempurna ini? Ahhhh, mungkin hanya satu…keturunan.


“Gimana by? Cantik?”


“Kau selalu cantik, sudah…mari kita lihat villa kita”


“Ahhhhh, masih mau jalan-jalan”


“Kau sedang promil. Tidak baik jika kelelahan, sudah…mari kita pergi”


“Iya…”


“Jangan sedih dong…nanti kubawa kemari saat matahari terbenam. Katanya cantik loh”


“Iyakah? Janji ya?”


“Iya…duhhh istriku benar-benar mengemaskan”


Suami istri itu saling berpelukan sembari tertawa riang, melepaskan beban pekerjaan yang selama ini mereka rantai dalam pundak mereka.


“By…”


“Ada apa hm?”


“Nanti kalau aku benar-benar punya anak…kita ajak anak-anak kesini ya?”


“Jika kau mau aku bisa atur tempat melahirkanmu disini”


“Beneran?”


“Aaa makasihhhh lohh byyy”


Ken kembali tersenyum melihat kesenangan dari istrinya, ya…mereka akan kembali kesini membawa anak-anak mereka. Anak yang sudah dinantikan selama bertahun-tahun lamanya, dan semoga…istrinya bisa memaafkan kesalahannya dan juga menerimanya.


“By? By! Byyyy!!!”


“Ah?! I-iya kenapa?”


“Melamun apa lagi sih?!” Aku bertanya dengan kesal kepadanya, akhir-akhir ini Ken suka sekali melamun…entah   memikirkan apa!.


“Nggak…nggak ada, udah ayo pergi”


Ken menggendong tubuh istrinya dan masuk kedalam mobil lalu segera pergi ke villa tempat mereka akan menginap. Ken menatap istrinya yang tengah sibuk memeriksa perlengkapan yang akan mereka gunakan di villa, apa istrinya serius membawa suntikan sebanyak itu?.


“By, buat apa sebanyak itu?”


“Untuk jaga-jaga saja, oh ya susunya sudah kau masukkan tadi?”


“Udah, ada dibelakang sekalian dengan vitaminmu”


“Oh ya by, tadi aku lihat ada baju bagus di toko tadi. Nanti belikan ya?”


“Belikan?”


“Iya…mau ya…please…”

__ADS_1


Ken memijat pelipis matanya mendengar permintaan istrinya, jangan bilang baju seharga ratusan juta yang dipajang di toko tadi? Haihhhh, ia mana punya uang sekarang.


“Kenapa? Nggak mau belikan?” Aku memajukan bibir melihat Ken yang hanya diam tanpa menjawab permintaanku, apa suaminya sudah mulai perhitungan sekarang?.


“Bukan…”


“Lalu kenapa?”


“Semua uangku kau pegang by…aku cuma punya uang pulang”


“Hehehehehe…ya maaf…aku lupa”


Ken hanya tersenyum lucu melihat kelucuan istrinya, ini selalu terjadi ketika mereka pergi ke luar negeri. Istrinya minta uang untuk beli ini itu tapi tak sadar jika semua uang sudah dipegang olehnya, keuangan rumah tangga sekaligus perusahaannya dipegang penuh oleh istrinya, sudah dipastikan…tidak akan ada yang bisa korupsi.


************


Melody dengan seksama mendengarkan semua ucapan dari Noni, sejak ia masuk kedalam rumah ini dan menjadi Assistant sudah ia duga bahwa ada yang tidak beres antara Tuan dan Nyonyanya, mendengar cerita dari Noni membuatnya benar-benar waspada terhadap semua hal yang berhubungan dengan Tuan mereka.


“Kau harus ingat ini, Nyonya adalah orang yang sangat sensitive. Jangan sampai kau salah bicara didepannya” Noni memperingatkan Melody akan sifat Nyonyanya, ia pernah salah bicara dan Nyonyanya tak mau bicara dengannya selama 1 minggu.


“Iya aku mengerti, apa ada hal lainnya? Aku katakan lebih banyak tentang Nyonya”


“Nyonya adalah Nona muda dari keluarga Chatherine, putri bungsu dari 11 bersaudara. Kakak-kakak Nyonya kini sedang menjalani tugas mereka sebagai anak dan juga kakak. Beliau menikah dengan Tuan ketika berumur 17 tahun dan sekarang beliau berumur 25 tahun. Aku sudah menemani Nyonya selama 10 tahun, jadi tidak ada hal yang tidak kuketahui tentang Nyonya. Selain ini tidak ada yang bisa kukatakan lebih dalam mengenai Nona”


“Itu, kudengar Nyonya tidak punya Ibu…apa itu benar?”


“Tidak ada anak yang lahir tanpa Ibu”


“Maksudku di mana Ibu Nyonya? Saya sudah menyelidiki masalalu Nyonya, tapi saya tidak dapat menemukan informasi mengenai Ibu dari Nyonya. Apa identitasnya ditutupi?”


“Aku tak bisa menjawab pertanyaanmu, kau tanyakan lah pada Nyonya nanti ketika dia sudah kembali”


“Baiklah…”


“Dan kuingatkan sekali lagi, awasi gerak gerik para tangan kanan Tuan. Sekecil apapun tindakan mereka, laporkan kepadaku”


“Apa saya perlu memberitau Nyonya juga?”


“Setelah kau berikan kepadaku, jika itu penting aku akan memberitau Nyonya”


“Baik aku mengerti”


“Dan juga, jika Tuan dan Nyonya besar ingin bertemu dengan Nyonya. Biarkan mereka menemui Nyonya, jangan dicegah. Kau paham?”


“Okey!”


“Oh ya, Ayah dari Nyonya…orangnya seperti apa?” Pertanyaan sederhana dari Melody langsung membuat Noni tak mampu mengatakan apapun.


“…”


“Aku tak ingin mengingatnya”


“????”


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2