
.
.
.
Aku mematikan panggilan telfon seseorang disebrang sana ketika mendengar suara decitan pintu, ahhhh ternyata Ken…kupikir siapa yang masuk kekamar tadi. Ia pikir itu tadi Melody atau Noni yang datang mengantarkan susu.
“By, ayo minum susunya lalu tidur”
“Iya” Aku mengambil segelas susu dari tangannya.
“Tidurlah, aku akan mengoleskan minyak diperut dan kakimu”
“Makasih ya”
Ken menggendongku dan membaringkan diatas tempat tidur, dia membuka setengah dari pakaianku dan mengoleskan minyak diperutku yang masih benar-benar datar…apa ada anak yang tumbuh didalam sini?.
“Jika dihitung sudah mau 2 bulan ya by? Apa ini karena otot perutmu yang membuatnya tidak terlihat buncit?”
“Mungkin…tapi perutku terasa penuh, hari ini juga tumben aku tidak mual minum susu. Sudah 2 hari kan aku mual mencium bau susu”
“Iya juga ya, apa kau mau sesuatu untuk dimakan?”
“Enggak ah, muntah lagi nanti”
“Okey…” Dia mulai membelai perutku dengan lembut, meratakan minyak itu dengan hati-hati seolah-olah takut jika sentuhannya bisa membuat bayinya keluar dari perutku.
“Tinggal 7 bulan lagi by…setelah itu kita akan menjadi orang tua” Aku berkata sembari mengelus rambut lembut suamiku yang tangah meletakkan kepalanya di perutku, apa dia sedang memastikan bayinya baik-baik saja atau tidak?.
“Iya, aku tak sabar menanti hal itu. Tapi aku lebih tak sabar melihatmu menjadi bulat”
“Apa?! Apa kau mengataiku sudah mulai gendut sekarang?!” Aku langsung mencubit kedua pipinya karena kesal dia mengataiku gendut, aku memang banyak makan akhir-akhir ini…dan aku tak bisa mengontrol itu…
“Hehehe…enggaaakkk”
“Huhh, aku kan makan juga demi anakmu…”
“Maaf maaf…makanlah sebanyak apapun yang kau inginkan, kau harus sehat…anak kita juga harus sehat. Mau kau jelek atau gendut kau tetap istri tercintaiku” Dia memelukku dan membelai perutku dengan lembut, gombal lagi dia…entah darimana dia belajar kata-kata itu.
“Bohong…nanti aku jelek kau selingkuh lagi”
“…, enggaklah by”
“Kalau kau berani selingkuh, setuju atau tidak setuju aku akan mengurus perceraian kita”
“Hussttt nggak boleh ngomong gitu, lagi hamil juga…”
“Ya siapa tau kalau nanti aku jadi jelek terus kau bosan jadinya selingkuh. Kaya apa itu, eeeee sinetron ikan terbang”
“Udah ah by, nggak usah dibahas lagi”
“Dih ngambek…aku jadi ingat sifatmu dulu”
__ADS_1
“Byyyyyy!!!!”
Aku tertawa melihat kekesalan sekaligus rona malu diwajahnya, aku suka menggodanya dengan ejekan seperti ini. Sifatnya yang dulu begitu dingin dan cuek saat awal menikah bisa berubah seperti ini, aku wanita yang beruntung bisa mendapatkan hati pria seperti ini. Ngomong-ngomong tadi pagi ia lagi ngambek kan dengan suaminya? Masa luluh cuma gara-gara diajak kepasar malam?! AHHHH!!!.
.
.
.
.
Aku menatap Ken yang tengah tertidur lelap setelah obrolan panjang kami, jarang sekali dia tidur dengan wajah yang begitu kelelahan seperti ini. Aku membelai setiap inci wajahnya dengan lembut, jujur…dalam lubuk hatiku yang terdalam aku begitu ragu kepada pria ini…rasa ragu yang bahkan tak pernah dirasakan pada pria manapun, namun disisi lain…hati kecilku berkata bahwa aku tak ingin kehilangan pria ini.
“Ken…aku mencintaimu…”
“Hmmm…aku juga…mencintaimu…by…”
Aku tersenyum tipis melihatnya berkata sembari menutup mata, dengan perlahan kusingkirkan tangannya yang melingkar pada tubuhku dan kugaanti dengan bantal. Aku turun dari tempat tidur dan keluar dari akmar secara diam-diam, haihhh…aku lapar.
“Kenapa anda bangun tengah malam seperti ini? Nyonya…?”
“Noni! Bikin kaget aja sih!”
“Apa anda ingin sesuatu”
“Heem, aku ingin sesuatu yang gurih…bisa kau buatkan sesuatu untukku?”
“Seperti?”
“Baik…apa anda ingin saya memanggil Melody?”
“Dia belum tidur?”
“Sepertinya belum”
“Panggil dia, aku ingin kita makan ber-3”
“Baik…”
Setelah Noni memanggil Melody aku turun ke ruang makan dan duduk bersantai menunggu hasil masakan Noni, Ibu hamil boleh makan lebih banyak kan?.
“Makanan sudah siap Nyonya”
“Makasih ya”
Aku meletakkan ponselku dan menyantap sepiring nasi goreng itu dengan lahap, enakkkk…ia sebenarnya tak terlalu suka nasi goreng, tapi ini benar-benar enak…tak salah ia memilih koki internasional sebagai pengurus sekaligus kokinya.
“Nyonya, makan dengan perlahan…”
“Ini enak! Makasih ya”
“Noni, Melody…kemarin saat di Santorini aku punya dokter kandungan, dia akan sampai disini besok. Tolong siapkan kamar untuknya”
__ADS_1
“Dokter baru?”
“Sepertinya dia bawahan Papa atau Koko, aku belum yakin”
“Baik…”
Aku membuka ponselku, menelfon seseorang yang hampir saja kulupakan untuk mengerjakan tugas.
“Besok, temui aku ditempat biasanya. Tak ada rokok tak ada alkohol”
“Ok”
Tutt…
“Nyonya, sepertinya suasana hati anda sedikit buruk. Bisa anda mencerikannya kepada saya?”
“Hahh, apa kau seorang psikiater?”
“Saya tau sedikit”
“Itu mengejutkan mengingat usiamu baru 29 tahun. Aku akan cerita, tapi dinding punya telinga. Kuharap kalian hati-hati” Aku sedikit memelankan suaraku, takut seseorang akan mendengar pembicaraan kami. Bukan tanpa alasan, aku tumbuh dan besar dilingkungan yang berbahaya…aku tau mana situasi yang menguntungkan dan tidak menguntungkan.
“Aku punya sahabat, namanya Wenda. Dia mengalami kecelakaan siang tadi, pelakunya kabur dan tak ada CCTV yang merekam dengan jelas siapa yang telah menabrak Wenda. Aku minta seseorang untuk menyelidikinya, dan dari 20 orang yang kupekerjakan…18 diantara mereka punya tersangka utama yang sama, yaitu Ken dan Assistantnya”
“Tuan?!”
“Pelankan suaramu Melody”
“Aku masih harus menyelidiki beberapa hal, jadi Noni…untuk sementa waktu berhentilan bekerja dirumah ini dan bantu anak buahku. Dan Melody, tolong awasi keadaan rumah sakit”
“Kami mengerti”
Aku menyibakkan rambutku kebelakang, aku berharap semua kecurigaanku selama ini hanyalah sebuah instingku semata. Aku begitu mencintai Ken dan aku meletakkan semua kepercayaanku padanya, aku tak tau apa yang harus kulakukan jika pria itu benar-benar telah…
******************
“Mulai sekarang, lebih berhati-hatilah dalam melakukan pekerjaanmu. Istriku sudah mulai curiga”
“Saya akan menghilangkan semua bukti Tuan”
“Besok adakan rapat mengenai masalah ini, dan kuperingatkan kalian…jangan sampai istriku mennemukan sesuatu sekecil apapun itu”
“Saya mengerti”
“Kau memang bisa diandalkan”
Ken mematikan sambungan telfonnya, ia harus lebih berhati-hati jika ingin melakukan sesuatu. Istrinya bukan orang sembarangan, ia tak bisa menutupi ini lebih lama…tapi ia bisa mengundur perceraiannya.
“Maaf by…tapi aku tak ingin kehilanganmu dan anak kita”
.
.
__ADS_1
.