Mistake Love

Mistake Love
Mistake Love (8)


__ADS_3

.


.


.


“By!! Lihat! Apa ini cocok untukku?”


Ken hanya bisa tersenyum lucu melihat istrinya yang tengah sibuk didandani oleh para pegawai butik, itu sudah pakaian yang keberapa istrinya masih bisa bersemangat seperti itu. Dan juga…kenapa pakaian-pakian itu cocok dengan istrinya?! Kalau begini kan ia ingin membelikan semuanya untuk istrinya!.


“Jangan coba lagi, bungkus semua ukuran istriku. Bisa pakai Black card?”


“Bisa-bisa!”


“Aaaaa!! Makasih byy!!!” Aku berhambur memeluk suamiku dan menciumi pipinya, pria itu hanya bisa pasrah membiarkanku menciumi pipinya namun ciuman itu seketika terhenti ketika mataku tak sengaja menatap sebuah butik khusus pakaian anak-anak.


“Kenapa?” Ken ikut melihat apa yang tengah dilihat oleh istrinya, ahhh…butuh pakaian anak-anak?.


“Bajunya lucu-lucu ya by, kalau nanti kita punya anak perempuan aku akan membelikannya baju yang lucu-lucu. Mungkin akan menyenangkan jika punya satu yang mirip denganmu”


“Belilah semua yang kau inginkan, selama kau senang…aku akan menurutinya”


“Nanti kalau aku hamil, kira-kira wajah siapa yang akan dominan? Kau atau aku?”


“Kata orang kau harus membenci seseorang jika ingin anakmu mirip dengannya” Jawaban dari suamiku membuatku tertawa lembut, apakah hal itu benar? Kalau begitu aku akan mencoba membenci Arrian agar anakku mirip dengan Arrian.


“Ughhhh…” Aku memegangi kepalaku yang tiba-tiba saja terasa pusing dan berat hingga aku tak sadar sudah bersandar di dada suamiku.


“By?! By! Kau baik-baik saja?!”


“Ken…kepalaku…rasanya mau pecah…” Tanpa berpikir lama dia langsung menggendongku dan masuk kedalam mobil lalu pergi menuju rumah sakit terdekat, sepanjang perjalanan dia terus memelukku dan dengan lembut memijat lenganku. Ughhh, sekarang perutku mual.


“By…aku mual…hmpp”


“Tahan sebentar ya, kita akan sampai sebentar lagi” Dia mengeratkan pelukannya, samar-samar aku menatap wajahnya yang khawatir…ini pertama kalinya aku melihatnya begitu khawatir.


Saat sampai dirumah sakit Ken langsung membawa istrinya ke UGD dan memanggil dokter yang sedang berjaga, dia ikut membantu dokter itu memeriksa keadaan istrinya.


“Semuanya normal…apa yang terjadi?” Ken menatap istrinya dengan wajah yang begitu cemas, tak ada yang aneh dengan tubuh istrinya dan juga tidak ada tanda-tanda kehamilan. Apa yang sebentarnya terjadi?.


“By…”


“Kau jangan khawatir ok? Kau akan baik-baik saja”


“Tuan mohon anda keluar, saya akan memeriksa istri anda”


“Tapi-”


“By…keluar dulu ya…” Aku berucap dengan nada lirih kepada suamiku, berusaha membujuknya agar mengerti kondisi saat ini. ini kali ke-8 aku sakit semenjak menikah dengannya, dan 8 kali itu aku selalu dirawat olehnya tak ada dokter lain selain rekannya yang memeriksaku, aku memaklumi kekhawatirannya kali ini…


Ken dengan berat hati keluar dari ruang UGD itu meninggalkan istrinya bersama dokter wanita, dokter itu tampak menatap lekat-lekat layar monitor USG. Tidak tampak apa-apa, tidak ada sesuatu yang aneh.


“Dokter…apa ada sesuatu yang salah?” Aku bertanya dengan suara gemetar, jangan bilang kali ini promilku gagal lagi?.

__ADS_1


“Saya masih belum bisa menyimpulkannya, lebih baik anda dirawat untuk beberapa hari kedepan”


“Ta-tapi”


“Anda tidak perlu khawatir…anda baik-baik saja”


“Tapi aku sedang bulan madu…bulan maduku akan gagal jika aku dirawat…”


“Hahaha, ternyata kalian pengantin baru. Pantas saja suami anda khawatir begitu”


“Ini bulan madu kami yang ke 54, kami sudah menikah lebih dari 8 tahun”


“A-ahhh…te-ternyata begitu…”


“Dokter…”


“Ya?”


“Apa…program hamilku gagal lagi?” Mungkin terdengar bodoh jika aku bertanya mengenai ini kepada dokter yang jelas-jelas tak tau apa-apa tentang diriku. Tapi aku tak bisa menahan diri untuk bertanya mengenai hal ini.


“Anda sedang menjalani program kehamilan? Boleh saya tau sejak kapan anda melakukannya?”


“Mungkin…sudah 2 bulan, sebelumnya kami selalu gagal menjalani program ini. Saya hanya berharap semoga ditahun ke-9 pernikahan kami ada buah hati yang menemani kami”


“Apakah salah satu diantara kalian ada yang merokok atau kecanduan alkohol?”


“Tidak…kami sudah menerapkan semua yang dokter kandungan sarankan. Tapi itu tidak ada yang berhasil, bahkan beberapa kali program bayi tabung yang kami jalani juga gagal”


“Ya, aku punya masalah mengenai kesuburanku” Aku menjawab perkataan dokter itu sembari mencengkram erat selimut yang kini tengah menutupi sebagian dari kakiku. Dokter itu tampak tak mampu berkata-kata lagi mendengar jawabanku, yahhh pasti dia merasa tak enak karena bertanya kepada orang yang tepat.


“Kalau boleh saya tau…apa ada hal yang anda pikirkan akhir-akhir ini? Maaf jika saya lancang, saya hanya ingin membantu anda”


“Aku hanya memikirkan bagaimana nasibku jika suamiku berselingkuh demi mendapatkan keturunan”


“Hahh…anda harus berhenti memikirkan apapun, itulah masalah yang mungkin mengakibatkan program hamil yang anda jalani tidak berhasil. Coba untuk tenangkan pikiran dan diri anda, kalau anda mengizinkan…biarkan saya menjadi dokter kandungan anda”


“Tapi…bukankah kau dokter spesialis? Memang rumah sakit ini tidak membutuhkanmu?”


“Haha, saya dokter magang disini…saya baru dipindahkan dari rumah sakit pusat kemari”


“Kau serius?”


“Saya serius! Anda tak perlu menggaji saya dengan tinggi, karena tugas saya adalah membantu kehamilan anda!”


“Hah?! Kau pikir aku miskin hingga tak mampu merekrut seorang dokter spesialis kandungan? Jika kau mau aku isa mengatas namakan rumah sakit ini atas namamu”


“A-apa? A-apa anda salah satu Nona muda?” Logat bicara tanpa keraguan, pasti salah satu anak dari keluarga besar. Duh, jangan bilang keluarga Richardson?.


“Ya, kenapa memangnya?”


Aku langsung mengerutkan kening tatkala dokter wanita itu meraih tanganku dan melihat tanda lahir yang ada pada tangan atasku, dokter ini kenapa sih?! Jangan bilang salah satu karyawan Papanya?!.


“Ka-kalau boleh tau, apa nama marga anda? Apa itu keluarga Richardson?”

__ADS_1


“Tidak tidak…keluarga Richardson hanya punya anak laki-laki. Kalau begitu jangan bilang Nona ini anak…”


“Putri bungsu keluarga Chatherine, Zollane Ellona Hembly Chatherine”


Aku tersentak kaget melihat dokter itu langsung berdiri dan bersimpuh disamping barangkar yang langsung membuatku turun dari brangkar dan membantunya berdiri.


“Maafkan kelancangan saya putri El!”


“Ternyata benar dia bawahan Papa…apa Papa memecatnya?”


“Bangunlah”


“Saya pantas mati putri El! Tolong bunuh saya atas kelancangan saya”


“Papa!!! Kau buat masalah lagi ya?!!”


“Bangunlah, aku tak suka mengulangi perkataanku”


“Saya benar-benar minta maaf…saya sudah lancang”


“Haihhh…Papa ini tak henti-hentinya ya buat masalah. Katakan, apa yang sudah Papa lakukan padamu selama aku tidak ada dirumah?”


“Sa-saya…”


“Sayang…bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah lebih baik?” Ken masuk kedalam UGD dan menghampiri istrinya.


“Aku baik-baik saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan”


“Benarkah itu?”


“Be-benar…ti-tidak ada yang salah pada tubuh Nona…”


“Syukurlah…aku sudah berpikir yang tidak-tidak” Ken membelai wajahku dengan lembut membuatku hanya bisa menampilkan senyum tipis agar membuatnya tak khawatir lagi, bisa gawat kalau diadukan ke Papa.


“I-itu…bi-bisakah dia menjadi dokter kandunganku?”


“Dia? Memangnya dia mau?”


“Sa-saya bersedia!”


“…, baiklah”


Aku menatap suamiku yang tengah menatap dingin dokter kandungan itu, pasti Ken sudah mulai curiga dengan semua ini. Tapi mau bagaimana lagi? Aku ingin segera hamil, semoga saja dokter ini bisa membantuku.


“By…aku ingin istirahat, ayo pulang”


“Ah?! Baiklah…kita pulang”


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2