
.
.
.
Aku buru-buru masuk kedalam ruang ICU dan menghampiri sahabat sekaligus teman pertamaku yang kini tengah terbaring lemah dengan perban yang berada disekujur tubuhnya. keadaan yang begitu memprihatinkan.
“Bagaimana bisa seperti ini…” Aku berucap dengan lirih sembari menggenggam tangannya, siapa yang sudah berani mencelakai sahabatnya?! Aku akan membunuh orang itu jika bertemu!.
“Nyonya…mohon anda keluar, pasien harus tetap steril…”
“Di mana dokter yang menanganinya?”
“Dokter Ferdi sedang berada diruangannya, saya akan mengantar anda”
“Tak perlu. Jaga sahabatku, jangan sampai dia kenapa-napa” Aku keluar dari ruang ICU itu, menghampiri suamiku serta tangan kanannya, sejak kapan mereka ada disini?.
“Panggil dokter Ferdi, aku ingin bicara dengannya”
“By…besok aja ya? Kau harus istirahat”
“Aku baik-baik saja, Aisy…aku minta tolong kepadamu. Hubungi kepala polisi pusat, jika sampai pelakunya tidak ditemukan. Dia tak perlu bekerja lagi”
“Iya Hembly”
“By, biar aku yang tangani ini oke? Kau istirahat saja dirumah, jangan sampai kau kenapa-napa”
“Jangan ikut campur masalahku Ken” Aku mengancamnya agar dia tidak bertindak lebih jauh, bukan aku tak percaya dia bisa menangani kasus ini…entah kenapa rasanya ragu membiarkannya ikut adil dalam proses pencarian orang yang sudah menyebabkan sahabatnya seperti ini.
“Hembly, ada sesuatu yang ingin kukatakan”
“Katakan”
Kedua mata Aisy melirik Ken serta tangan kanannya, aku paham…dia ingin bicara empat mata denganku. Ini pasti ada sangkut pautnya dengan orang yang ada disekitarnya, yang membuat Aisy tak mau orang lain mendengarnya selain diriku. Anak didikku memang bisa diandalkan.
“Kita bicara dicafe depan, Ken…jangan ikuti aku”
“Tapi by…”
“Patuhlah”
Aku menarik tangan Aisy menjauhi kerumunan iku, sekilas aku melihat Aisy yang tengah menelan ludahnya ketika melihat kebelakang. Siapa yang mengancam sahabatku?.
“Kau lihat apa?”
“Ti-tidak…”
__ADS_1
Aku melirik kebelakang, menatap suamiku yang tengah tersenyum sembari melambaikan tangannya. Apa Ken baru saja mengancam Aisy? Jika iya, maka Ken bisa menjadi tersangka utamanya.
“Hembly, lebih baik kita bicara diruanganmu saja” Bisik Aisy kepadaku, baiklah jika itu kemauannya.
************
“Hanya ada kita berdua disini, katakanlah” Aku berucap sembari menyalakan komputer, mematikan CCTV serta perekam suara yang ada diruangannya ini.
“Hembly, sebelum Wenda dibawa kerumah sakit dia sempat mengatakan sesuatu kepadaku. Tapi aku tidak mengerti maksudnya”
“Katakan apa yang telah kau dengar”
“Dia berkata bahwa kau harus berhati-hati, tapi sebelum dia selesai menyampaikan kalimatnya dia sudah tak sadarkan diri. Tapi aku sedang mencurigai seseorang”
“Siapa?”
“Salah satu tangan kanan Ken, tadi saat aku mengajakmu pergi dia menatapku dengan tatapan tak sukanya”
“Oh, maksudmu si Rhen? Dia memang seperti itu, mungkin punya gangguan jiwa”
“Begitukah? Oh ya, tadi…”
Drttttt drtttttt
Aku mengangkat tangan meminta Aisy untuk tidak berbicara. aku mengangkat telfon yang berasal dari Ibu mertuaku.
“Sayang…kapan kau datang kesini? Mama sudah merindukanmu…nanti malam mau ya menginap ditempat Mama”
“Ma…kan baru bulan lalu aku menginap dirumah Mama, Mama tau sendiri kan Ken tak terlalu suka tidur di mansion”
“Mama itu mengundangmu! Bukan anak itu! Kau saja yang datang, tak usah ajak dia! Mau dia tidur di mana Mama tidak peduli!”
“Hahhh, aku harus meminta izinnya ma…putramu itu suamiku”
“Nggak usah! Toh nanti pasti dijawab ‘Terserahmu saja, kalau kau mau menginap saja’ kan?!”
“Iya sih…tapi tetap saja ma, aku tak bisa pergi tanpa izinnya”
“Ck, aku akan memarahi anak itu jika sampai dia tak mengizinkanmu menginap disini! Aku ini ibunya! Dia tak akan berani melawanku”
“Kumatikan ya ma telfonnya”
“Oh kau sedang istirahat ya? Ya sudah, sampai jumpa nanti malam menantuku…muahhhh”
Aku memijat kepalaku mendengar suara antusias dari Mama mertua, haihhhh…tidak Ibu tidak anak…kelakukannya sama. Sama-sama suka memaksa, untunglah Ken tidak keras kepala seperti Mama mertuanya.
“Enak ya kau, punya mertua yang baik”
__ADS_1
“Ya…aku bersyukur mendapatkan mertua seperti itu, meskipun itu membuatku sakit kepala”
“Hahaha, oh ya…gimana hasil bulan madumu kali ini? Berhasil tidak?”
“Oh, aku punya sesuatu untukmu” Aku mengeluarkan dompetku dan mengeluarkan sebuah kertas dari sana dan kuberikan pada Aisy. Aisy mengerutkan keningnya dan menerima kertas itu.
“I-ini?”
Aku tersenyum lembut melihat respon terkejutnya, dia pasti tak menduga hal ini akan terjadi. Dia pasti terkejut karena sebentar lagi dia akan menjadi Bibi.
“Ka-kau hamil?!”
“Iya!! Kau akan jadi Bibi sebentar lagi!”
“Ka-kau tidak bercandakan? I-ini serius!?”
“Iya! Jalan 2 bulan!”
Aku tersentak kegt melihat dia yang tiba-tiba berdiri dan memaksaku untuk berdiri, matanya dengan berinar menatap perutku yang masih datar. Apa dia benar-benar tak percaya aku sedang mengandung?.
“Enggak ah! Perutmu rata begitu!”
“Nggak percaya ya udah”
“Ini seriusan?!!!!!” Dia berteriak saking tak percayanya, bisanya anak ini tidak gampang dibohongi kenapa sekarang malah tak percaya pada kenyataan?.
“Senang tidak?”
“Ohhhh aku akan jadi Bibi sebentar lagi? Ya tuhan…kau hamil!! Akhirnya kau hamil!! Aku turut senang mendengarnya!”
“Jangan kasih tau yang lain dulu, aku mau buat kejutan…Wenda juga harus segera sadar, dia pasti bahagia jika tau aku hamil”
“Itu pasti! Aku akan membawakan dokter pribadi keluargaku agar dia segera sadar! Kau juga! Kau harus menjaga kandunganmku dengan baik! Jangan sampai keponakanku ini kenapa-napa! Aku akan mengirim dokter kandungan terbaik untukmu! Jadi kau harus baik-baik saja!”
“Pasti dong, anak pertama nih”
.
.
.
“Maaf Wenda…tapi tuhan masih berpihak kepadaku…mungkin ini yang terbaik, tidurlah lebih lama…agar rumah tanggaku bisa bertahan lebih lama. Sekali lagi maaf…”
.
.
__ADS_1
.