
.
.
.
Aku membawa masuk beberapa box makanan kedalam kantor suamiku, sudah lama aku tidak memberikan traktiran kepada Assistant suamiku, mereka adalah orang-orang yang baik, walau terkadang mereka melunjak kepadaku…tapi mereka banyak membantuku dan suamiku disaat kami hampir putus asa karena seorang anak.
“Selamat siang Nyonya muda…”
“Selamat siang, ini makanan untuk kalian. Di mana Ken? Apa dia sedang rapat?” Baru ditinggal 1 jam sudah tidak ada diruang kerja, kemana lagi pria ini?.
“I-itu, Tu-tuan muda sedang ada urusan diluar. Sa-saya akan menghubungi beliau” Aku mengerutkan kening mendengar kegugupan Abbas, Assistant kepercayaan suamiku…pria itu biasanya selalu tegas dan dingin, ini pertama kalinya aku melihat dia begitu gugup. Dan juga kenapa dia buru-buru sekali ingin meminta Ken kembali saat aku bertanya di mana dia? Benar-benar tidak beres.
Aku mengunci pintu dan duduk di kursi kerja suamiku, menatap belasan orang yang kini tengah menundukan kepala mereka. inilah mereka ketika didepanku tanpa adanya suamiku, mereka benar-benar menghormatiku karena aku adalah pemilik saham terbesar setelah Ken diperusahaan ini, bisa dibilang aku Direktur sekaligus anggota Direksi disini.
“Apa yang kalian sembunyikan dariku? Apa yang terjadi dengan Ken? Kenapa sikapnya aneh begitu?” Aku mengetukkan tangan diatas meja sembari menatap belasan orang itu. Ahhhhhh, wajah mereka pucat…firasatnya benar…ada yang tak beres. Apa yang sudah Ken lakukan diluar sana? Jangan-jangan pria itu buat ulah lagi?.
“N-nyonya muda…”
“D-i-r-e-k-t-u-r”
“Di-direktur …”
“Kalian tau kan apa konsekuensinya? Katakan dengan sejujurnya, sebelum aku mengetahuinya sendiri”
“Ma-maafkan kami…ka-kami ti-tidak bisa mengatakannya”
“Aku bukan orang yang suka bicara omong kosong, jika kalian tak mau mengatakannya baiklah” Aku mengambil ponselku, menguhungi seseorang yang sudah lama tak kutelfon.
“Ada masalah apa? Tumben sekali telfon”
“Papa, aku minta bantuan Papa”
Mendengar siapa yang kutelfon membuat wajah para Assistant itu semakin memucat, sebesar apa rahasia ini sampai tak boleh kuketahui?. Cihhhh, sudahlah… aku akan cari tau sendiri, ia tak mau membuat Papanya terkena serangan jantung.
Tuttt…
__ADS_1
“Aku tak akan memberitau Papa mengenai hal ini, tapi ini peringatanku untuk kalian…jika aku mengetahui hal ini sendiri…”
Tok tok tok tok!
“Sayang! Buka pintunya!” Belum sempat kuselesaikan ucapanku teryata suamiku sudah berada diluar ruangan, sighhhh…waktunya tidak tepat.
“Aku tak akan mengampuni kalian” Lanjutku pada kalimat yang tertunda, setelahnya kubuka pintu dan menatap wajah panik suamiku, wajah yang selalu tenang itu kini menjadi panik…aku harus mulai waspada kepadanya.
“Darimana?”
“Kau ini! Kan aku sudah bilang aku pergi membeli buah, kau tak baca pesanku?”
“Hpku kan kau bawa” Aku menjawab dengan santai, sejak pagi hpku disita olehnya agar tidak ada yang menelfon dan menggagalkan cutiku. Apa pria ini lupa? Atau pura-pura lupa?.
“Oh? Iya ya”
“Ken”
“Ya sayang?”
“Aku menaruh semua kepercayaanku kepadamu, jika kau ingin mengkhianatiku dan memilih wanita lain yang lebih sempurna dariku. Ceraikan aku, karena aku tak akan sudi dipoligami”
“A-apa yang ka-kau katakan sayang? Ce-cerai? Tidak…aku tak akan memiliki wanita lain selain dirimu” Ken membelai wajahku, menciumnya dengan lembut. Yahhhh aku tau dia tidak akan melakukan itu, mungkin dia masih ingat sumpahku saat menikah ‘Aku hanya akan menikah sekali seumur hidup, dan aku tak menyukai pengkhianatan’ itu prinsipku sejak menikahi Ken, pria yang kemungkinan besar bisa berkhianat kapan saja karena kesempurnaannya. Untuk menghindari dia berselingkuh, aku memakai sumpah itu agar dia tidak macam-macam.
“Aku akan ke kampus sebentar”
“Lohh, katanya cuti”
“Ada rapat penting disana, aku tidak bisa tidak menghadirinya” Aku mencium keningnya agar dia mengizinkanku pergi, karena aku tak bisa pergi tanpa izinnya jikapun terpaksa aku akan mengirimnya pesan.
“Biar kuantar” Dia menawarkan diri tapi aku menolaknya dengan lembut, aku ingin menjernihkan pikiranku.
“Kalau ada apa-apa hubungi aku ya”
“Iya, sampai jumpa nanti sore” Aku mengatakannya sembari mencium kening Ken, namun sebelum masuk kedalam lift aku menatap tajam seorang pria yang tengah berdiri disamping suamiku dengan kepala yang tertunduk. Dia adalah brangkas rahasia suamiku, aku harus membuatnya membuka mulut.
Sesaat kepergian istrinya Ken langsung masuk kedalam ruang kerjanya dan menatap para tangan kanannya, kedua mata itu juga dengan panik mencari sesuatu dilaci meja.
__ADS_1
“Kalian tidak mengatakannya bukan?!”
“Ka-kami tak berani Tuan…”
“Bagus, tetap jaga mulut kalian. Ingat, jangan sampai istriku tau”
“Jika anda tak ingin kehilangan Nyonya muda kenapa anda melakukan ini? Bukankah lebih baik anda terus terang agar tidak membuat Nyonya semakin marah”
“Kau pikir aku ingin seperti ini?! Aku hanya mencoba menyelamatkan pernikahanku! Aku mencintainya dan aku tak akan melepaskannya seumur hidupku!”
“Kalau begitu bagaimana jika…”
Ken, pria itu tertegun mendengar saran dari tangan kanan kepercayaannya. Itu adalah ide yang bagus, tapi apakah istrinya mau? Jika istrinya menolak bagaimana? Selama ini ia belum pernah berhasil membuat istrinya membatalkan apa yang sudah menjadi keputusannya.
**********
Aku keluar dari mobil dan berjalan menuju ruang rapat kampus, sepanjang perjalanan ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang menyapaku, hanya tempat ketika pikirannya sedang asal-asalan.
“Selamat siang bu dosen, apa anda mempunyai waktu? Sebentar saja” Seorang mahasiswi berkata kepadaku dengan wajah cerianya, dia salah satu murid kesayanganku. Namun sayang akan segera lulus, kami sudah seperti teman karena usia kami hanya terpaut 2 tahun saja.
“Panggil namaku, ada apa?”
“Hehe, habisnya kau terlihat begitu menyeramkan. Ada apa? Kau bertengkar lagi dengan suamimu?” Selain sebagai dosen dan murid, kami juga memiliki hubungan spesial…dia adalah sahabatku yang paling muda.
“Nanti kuceritakan, aku harus rapat sekarang”
“Haihhhh Rektor kita satu ini memang orang penting, sibuk sekali”
Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya, ya aku adalah Rektor di kampus ini. Kampus pemberikan kakak tertuaku, aku mulai menjadi Rektor 1 tahun yang lalu setelah lulus S3.
“Sana pergi, katanya rapat”
“Tunggu aku diparkiran ya, ada yang ingin kukatakan kepadamu dan lainnya” Setelah mengatakannya aku langsung pergi meninggalkannya sendirian, dia tampak keheranan mendengar ucapanku. Biarlah, dia memang orang yang peka.
“Masa bertengkar lagi sih? Ken Ken…kau ini suka sekali mencari masalah”
.
__ADS_1
.
.