Misteri Rumah Angker

Misteri Rumah Angker
Bagian 1


__ADS_3

Namaku Arini, seorang gadis berusia dua puluh lima tahun. Menjadi anak sulung memiliki tanggungjawab besar untuk bisa membantu kedua orang tua membiayai kedua adikku yang masih sekolah, meski aku hidup di tengah keluarga yang cukup mampu. Tak menjadikan aku untuk bermalas-malasan, justru aku ingin memiliki penghasilan sendiri, sukses dan mempunyai kehidupan layak di masa depan.


Kini, aku datang ke ibu kota untuk mengadu nasib. Aku ingin mandiri, bekerja jauh dari orang tua. Ya, sebelumnya aku bekerja di sebuah hotel di kampung halaman.


Walaupun jauh, aku bisa bolak-balik pulang. Dan pekerjaanku kini, masih sama di bidang perhotelan, tapi gaji-nya jauh lebih besar daripada saat bekerja di kampung.


Aku berjalan sepanjang komplek perumahan dekat tempat kerjaku yang baru, tak kudapati kontrakan di sekitar sini.


Aku menyeka keringat yang membasahi keningku, hari sudah sore. Ke mana lagi aku mencari tempat untuk berteduh?


Kemudian aku melihat sebuah rumah cukup besar, di depan gerbang terlihat papan yang bertuliskan ‘Rumah dijual/ dikontrakkan’.


Seketika aku merasa senang, akhirnya ada juga rumah yang bisa kutempati. Lagi pula rumah itu terlihat masih terawat, tidak terlalu besar, juga tidak kecil.


Aku menghampiri rumah itu, berdiri di depan gerbang. Mana tahu ada orang yang bisa kutanyai, jalan terlihat sepi. Kemudian kulihat papan, tertera nomor yang bisa kuhubungi. Di sampingnya tertulis juga sebuah nama—Maryam. Tanpa membuang waktu, aku segera menghubungi nomor itu.


“Halo?” Aku tersentak mendengar suara di ujung telpon. Belum sampai aku mendengar suara telpon tersambung, suara seorang wanita tiba-tiba menyapaku.

__ADS_1


“Halo, dengan Ibu Maryam?” tanyaku pada wanita di ujung telepon.


“Ya, saya sendiri,” jawabnya datar.


“Saya Arini, Bu. Mau ngontrak di rumah Ibu. Bisa kita bertemu?”


“Bisa.” Tuuut—sambungan telpon terputus. Aneh!


Aku terlonjak kaget, saat seorang wanita tiba-tiba berada di belakangku. Wajahnya lesu, pucat dan tatapan matanya kosong. Aku masih menatapnya, entah kenapa aku merasa risih dengan keberadaannya.


“Kamu mau tinggal di sini?” tanyanya tanpa basa-basi, kurasa suaranya sama dengan wanita di telpon tadi.


“Aku Maryam.”


“Oh, jadi Ibu yang tadi saya telpon?” Ia hanya mengangguk tanpa ekspresi. Aneh! Padahal hanya beberapa detik teleponnya terputus, tapi Ibu Maryam sudah berada di belakangku.


Aku menggelengkan kepala, berusaha menepis rasa aneh yang kurasakan. Mungkin saja memang saat aku telepon dia sedang berada di dekat sini, pikirku.

__ADS_1


“Mari saya antar,” ucap Bu Maryam, ia berjalan melewatiku, kemudian membuka gerbang. Aku mengekori wanita yang mengenakan daster lusuh itu.


Baru saja aku memasuki gerbang, hembusan angin menerpa wajahku. Seketika bulu kudukku berdiri, kulihat pintu rumah sudah terbuka, tapi Bu Maryam tidak ada di sana, mungkin dia sudah masuk. Pikirku.


“Bismillahirohmanirohim,” ucapku seraya melangkah menuju rumah ber-cat putih itu, yang dipadu dengan warna jendela dan pintu berwarna abu-abu.


Beberapa jenis tanaman ada di depan rumah, hampir semua sudah layu dan tak terawat.


Hari sudah semakin sore, sebentar lagi waktu Magrib. Aku buru-buru masuk menyusul Bu Maryam yang sudah terlebih dulu masuk.


“Assalamu’alaikum.” Lirih aku mengucap salam, lalu perlahan kuayunkan kaki, mencari sosok Bu Maryam dalam kegelapan ruangan.


“Lampu sepertinya mati, tapi ke mana Bu Maryam?” Aku berbicara sendiri sambil menyalakan saklar lampu yang ternyata tiada guna, lampu masih padam.


“Bu Maryam....”


“Bu Maryam....”

__ADS_1


Aku terus memanggilnya berharap ia mendengar dan segera keluar, akan tetapi suasana semakin seram. Di luar sinar matahari sudah menghilang berganti senja, dan di dalam sini juga semakin gelap. Ya Allah ... gimana ini?


Bersambung...


__ADS_2