
Sial! Padahal sebentar lagi aku akan tahu identitas laki-laki misterius itu. Namun, ia datang tepat waktu, seperti tahu identitasnya hampir terbongkar.
“Woy!” Aku tersentak saat suara Marvin membuyarkan lamunanku.
“Apa sih? Bikin kaget aja?”
“Abisnya dipanggil gak nyaut-nyaut, ternyata ngelamun. Lamunin apa sih?” tanyanya sambil terkekeh.
“Kepo,” jawabku singkat. Lalu beralih dari sisi Marvin.
“Ish, pelit banget.” Pria berambut cepak itu mengikuti langkah kakiku. Seperti anak ayam yang mengikuti induknya, dasar konyol!
“Apa sih Marvin? Gak ada kerjaan, ya?” tanyaku mengalihkan pembicaraannya.
“Emang gak ada.”
Aku mendengus kesal dengan tingkah Marvin yang konyol itu. Ia tipe laki-laki yang over sepertinya, harus tahu apa yang membuatnya penasaran. Bahkan dia enggak akan nyerah sebelum tahu apa yang menjadi intaiannya.
Dengan terpaksa aku menceritakan semua kejadian yang aku alami sejak datang ke rumah angker itu, Marvin sedikit tercengang mendengar penjelasanku. Ternyata ia sedikit tahu desas-desus rumah angker yang kini kutempati.
“Serius kamu tinggal di sana, Rin?” tanya Marvin terlihat serius. Aku hanya mengangguk pasti.
“Kenapa? Apa gak ada kost-an lain?” tanyanya lagi.
__ADS_1
“Waktu itu hari sudah sore, gue udah ngerasa capek banget. Pas nemu rumah itu dikontrakkan, ya udah gue ambil aja langsung,” jelasku. Marvin manggut-manggut tanda mengerti. Ia terlihat berpikir, entah apa yang tengah menari di otaknya. Membuatku penasaran, mungkinkah dia tahu sesuatu?
“Marvin!” seruku seraya menepuk lengannya.
“Apa sih?”
“Kamu yang apaan? Tadi nanya mulu, giliran udah dijawab malah bengong! Kamu tahu sesuatu di rumah itu?”
“Sedikit, dulu—“ ucapan Marvin terpotong tatkala bunyi telepon berdering. Marvin segera mengangkat telepon.
“Baik, Pak. Ya ... oke,” ucapnya. Hanya itu yang kudengar dari mulut pria bertubuh tinggi itu.
“Rin, kamu dipanggil Pak Reno di ruangannya, cepet!” katanya. Seketika aku terkejut, mengapa Pak Reno—GM atau pimpinan tertinggi di Stars Hotel ini memanggilku? Apa ada yang salah dengan pekerjaanku?
Telapak tanganku juga dingin, betapa tidak, baru bekerja dua hari sudah dipanggil Bos besar. Meski bukan berarti ada kesalahan dalam pekerjaan, tapi tetap saja aku merasa gugup dan takut.
***
Tiba di depan ruangan Pak Reno, dengan ragu aku mengetuk pintu.
“Masuk ....”
Suara bariton dari dalam ruangan telah memberikan perintah, aku segera masuk dengan detak jantung yang tak beraturan.
__ADS_1
“Permisi, Pak,” sapaku seramah mungkin padanya. Laki-laki berkacamata itu menyambut baik kedatanganku.
“Silakan duduk,” titahnya. Seketika aku duduk di hadapan pemimpin besar Stars Hotel.
“Begini, dengan berat hati. Saya menyampaikan sesuatu yang mungkin akan membuatmu merasa kecewa.” Pak Reno membuka pembicaraannya. Ia terlihat sedih, ada apa sebenarnya?
“Ada apa, ya, Pak? Apa saya melakukan kesalahan?” tanyaku memastikan. Aku semakin merasa tak enak dengan sikap Pak Reno.
“Tidak, kamu tidak melakukan kesalahan. Kali ini saya yang melakukan kesalahan, dengan tanpa alasan yang jelas. Terpaksa saya memecat kamu menjadi karyawan di sini,” ungkapnya tegas. Meski wajahnya terlihat begitu menyesali ucapanya.
Mendengar itu, aku sedikit tercengang.
Ketakutanku benar-benar terjadi, bahkan itu jauh dari apa yang aku pikirkan sebelumnya. Pasalnya Pak Reno dengan tegas mengatakan bahwa, aku tak melakukan kesalahan apapun. Akan tetapi, mengapa aku dipecat?
“Ta-tapi kenapa, Pak?”
“Maaf, Arini. Saya tidak bisa menjelaskannya secara langsung, saya benar-benar berada di posisi yang paling berat saat ini. Semoga kamu bisa dengan ikhlas menerima sikap dan tindakan saya ini,” ungkapnya seraya menyodorkan amplop panjang berwarna coklat.
Tanpa bermaksud meminta penjelasan lebih, aku mengambil amplop itu dan segera pergi dari hadapan Pak Reno. Sudah cukup penjelasan dari Pak Reno, mungkin ia dalam masalah besar. Aku tak bisa berkata apa-apa selain pasrah, meski sebenarnya aku tak puas dengan cara Pak Reno memecatku.
Biarlah, nanti aku bisa cari pekerjaan lain.
Bersambung...
__ADS_1