
Cukup lama kami berdua bercakap tentang Bu Maryam, setelah kejadian itu Bu Asri terpaksa berhenti bekerja. Karena suami Bu Maryam pergi membawa Sisi ke rumah ibunya, rumah dibiarkan kosong. Hingga akhirnya seperti rumah angker, beberapa warga sering didatangi arwah Bu Maryam. Itu sebabnya akses jalan ke rumah Bu Maryam sangat sepi.
Namun, bagaimana mungkin seorang perampok yang sudah dengan sadisnya menghabisi nyawa korban, tapi membiarkan anak si korban tetap hidup? Aneh!
Aku masih tak percaya dengan semua yang diucapkan Bu Asri tentang kematian Bu Maryam. Lalu Sisi? Masih hidup atau—
Entahlah, aku benar-benar bingung dengan semua keadaan ini. Aku datang ke ibukota untuk bekerja, ingin mandiri dan lebih sukses. Namun, aku malah dihadapkan dengan masalah seperti ini. Apa aku pindah saja dari rumah itu dan mencari kontrakan baru?
Hari sudah malam, aku tak berani untuk pulang. Bu Asri menyuruhku untuk tidur di sini semalam, ia pun tak berani mengantarku. Takut laki-laki tadi masih berkeliaran.
Aku yang tak mau ambil risiko, menyetujui saran Bu Asri. Meski aku sebenarnya tak enak merepotkannya, rumah kecil ini hanya ada satu kamar dan satu tempat tidur berukuran kecil. Karena aku tidur di sini Bu Asri lebih memilih tidur di bawah dengan beralaskan tikar.
Ia hidup sebatang kara, tak punya anak. Suaminya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Aku jadi merasa kasihan padanya, setua itu tak memiliki anak atau saudara. Mungkin karena itu ia meminta pekerjaan, untuk sejenak melupakan kesendiriannya.
__ADS_1
Melihatnya aku teringat ibu dan keluarga di kampung, ternyata aku masih jauh lebih beruntung. Masih memiliki keluarga yang lengkap, betapa berharganya sebuah keluarga. Apapun yang terjadi, jika mempunyai sebuah keluarga, hari-hari akan lebih berwarna.
“Bu Asri tidur di sini saja, aku yang di bawah,” ujarku padanya. Ia hanya menoleh dan menyunggingkan senyum ramahnya.
“Tidak apa-apa, Neng. Masa ada tamu tidur di bawah?” jawabnya sambil menyodorkan selimut tebal padaku.
“Beneran ibu gak apa-apa?” tanyaku merasa tak enak.
“Gak apa-apa, sudah malam, Neng. Istirahat, besok neng mesti kerja, kan? Kita harus bangun pagi, biar Neng gak terlambat. Soalnya dari sini ke rumah Bu Maryam cukup jauh,” jelasnya. Seketika aku menurut dan merebahkan tubuhku. Meski mata ini masih belum mengantuk.
Mungkinkah Sisi anak Bu Maryam? Jika benar, ada hubungan apa dengan laki-laki yang mengejarku tadi? Dan anehnya dia laki-laki yang sama di mimpiku. Bahkan aku bisa sampai ke rumah Bu Asri dan mengetahui tentang Bu Maryam.
Mungkinkah ini sebuah petunjuk?
__ADS_1
Cukup lama aku berkutat dengan pikiranku sendiri hingga rasa kantuk melanda.
Braaaakk!
Aku terlonjak saat mendengar suara hantaman keras. “Suara apa itu?” ucapku lirih. Kulihat Bu Asri masih terlelap, mungkin dia tidak mendengar suara tadi.
Aku bangun dan keluar, berniat mengeceknya. Namun, saat aku keluar dari kamar tak mendapati sesuatu yang aneh. Aku mendekat ke arah meja, tenggorokan terasa kering. Kemudian menuang air ke dalam gelas lalu meneguknya sampai habis.
Aku kembali terlonjak saat suara tadi terdengar lebih jelas dari balik pintu, sesuatu menancap pada daun pintu. Apa itu? Aku masih mematung, menunggu sesuatu yang akan terjadi selanjutnya.
Keringat dingin mengucur deras, tengkukku juga terasa lemas. Pikiran akan laki-laki itu kembali hinggap, demi Tuhan aku sangat takut. Mungkinkah laki-laki itu tahu aku ada di sini?
Benar saja, saat suara keras itu terdengar lebih keras hingga pintu jebol. Sesosok laki-laki berjubah hitam tengah berdiri di tengah pintu membawa kapak. Gelas yang sedari tadi kupegang lepas dan terjatuh.
__ADS_1
Bersambung..