Misteri Rumah Angker

Misteri Rumah Angker
Bagian 16


__ADS_3

Aku berhasil keluar, menerobos guyuran hujan yang semakin deras. Petir di angkasa juga menghiasi suasana menegangkan ini.


Aku terus berlari membelah jalanan yang sepi, sesekali menengok ke belakang. Khawatir laki-laki itu mengejarku. Namun, aku terkejut saat laki-laki berjubah hitam kini berada di hadapanku. Kali ini wajahnya tanpa topeng.


Aneh! Tadi saat di dalam rumahnya ia mengenakan penutup wajah, tapi kenapa di luar rumah malah tidak mengenakan?


“Mau lari ke mana kamu, hah!?” gertaknya bersama riuh suara hujan.


Ya Allah, aku berlindung dari segala kesulitan dan bahaya yang ada di hadapanku sekarang ini. Hawa dingin dan takut bercampur jadi satu, derasnya hujan membuat tubuhku menggigil hebat.


Plaaakk!


Ia berhasil menamparku begitu keras hingga tubuhku terjerembab, meski kini berada di bawah guyuran air hujan, panas di pipi akibat tamparannya begitu kurasakan ...


Kemudian dengan kasar ia menyeret tubuhku di atas jalanan beraspal. “Tolong ... lepaskan aku! Aw sakit!” pekikku. Apa tidak ada yang mendengar suara teriakanku? Ya Allah tolong aku.


Entah ke mana laki-laki itu akan membawaku, ia begitu kuat mencengkram tangan dan menarikku dengan kuat bagai menarik pelepah pisang tanpa beban.

__ADS_1


Lalu tiba-tiba, seseorang berusaha melepaskan tanganku dari cengkraman laki-laki itu. “Marvin?” ucapku terheran-heran.


Dengan sigap Marvin memukul laki-laki itu begitu kuat hingga ia terjengkang. Mereka saling baku hantam, berusaha menjadi pemenang dalam pergumulan yang tengah berlangsung di depanku.


Terimakasih ya Allah ... engkau telah menjawab do’aku, engkau mengirim Marvin untuk menolongku.


Tak kusangka Marvin dengan tubuhnya yang kurus dan tinggi itu begitu kuat melawan laki-laki itu, tak lama laki-laki itu terkapar dan tak berdaya kala Marvin membenturkan kepalanya pada aspal.


Darah mengucur deras di kepala laki-laki itu, meski tersibak air hujan. Bisa terlihat genangan air di bawahnya bercampur warna merah.


“Ayo, Rin. Kita pergi dari sini!” ajak Marvin. Ia membantuku berdiri, lalu kami segera pergi meninggalkan laki-laki itu di jalanan.


Hari sudah berganti malam, hujan juga belum sepenuhnya reda. Masih terdengar gemericik air hujan di luar.


“Makasih,” jawabnya seraya mengambil cangkir yang kubawa kan untuknya.


“Makasih, loh, Vin. Untung kamu tadi nolongin gue,” ungkapku.

__ADS_1


“Sama-sama, tadinya aku emang mau ke sini. Tapi waktu aku datang rumah sepi, ya udah aku pulang. Ternyata malah ketemu di jalan. Ngomong-ngomong siapa laki-laki itu?” terangnya kemudian bertanya sosok laki-laki yang sudah ia kalahkan tadi.


Aku menceritakan segala yang telah terjadi di rumah ini, tentang Bu Maryam berikut Sisi dan laki-laki itu. Tak terkecuali dengan mimpi-mimpiku yang kuanggap sebagai petunjuk untuk mengetahui misteri ini, termasuk Bu Asri yang ternyata mempunyai andil dalam masalah ini. Ya, aku sangat yakin.


Marvin juga sedikit bercerita tentang kematian Bu Maryam, meski ia tak begitu paham kehidupan mereka. Hanya saja kejadian yang menimpa Bu Maryam cukup menyebar ke seluruh kompleks.


“Kamu yakin mau mecahin masalah ini, Rin?”


“Yakin,” jawabku mantap.


“Kalau gitu mending kamu selidiki terus tu Bu siapa? Asti?”


“Asri ....”


“Iya itu.”


“Padahal aku udah anggap dia keluarga sendiri, karena kebaikan dan ketulusannya bantuin aku di sini. Eh, tapi malah dia ada main,” sahutku merasa dipermainkan oleh wanita tua yang sudah beberapa kali membantuku.

__ADS_1


“Tapi jangan suuzon dulu, siapa tahu dia gak ada niat gitu. Atau terpaksa ngelakuin itu, kan?” kilahnya mencoba menetralkan prasangka burukku pada Bu Asri. Benar kata Marvin, tak sepantasnya aku menuduh ia seperti itu, lagian itu hanya mimpi. Dan siapa tahu memang kebetulan saja Bu Asri memiliki selendang batik itu.


Bersambung...


__ADS_2