Misteri Rumah Angker

Misteri Rumah Angker
Bagian 12


__ADS_3

***


“Ada apa, Rin? Kamu gak apa-apa, kan?” tanya Marvin.


“Aku dipecat.”


“Ha! Serius?” Aku hanya mengangguk pelan.


“Emang kami salah apa?”


“Gak tahu.”


“Kamu gak nanya? Berusaha membela diri gitu?”


“Udah, tapi Pak Reno gak bisa jelasin apa-apa. Mungkin dia dalam masalah besar,” jelasku sambil membereskan barang-barangku.


“Kok aneh sih? Biasanya Pak Reno gak pernah kaya gitu loh, dia itu orang yang paling anti semenah-menah sama karyawannya. Apalagi kamu, kan, kerjanya bagus, meski baru dua hari.”


“Entahlah.”


“Apa ada yang bisa aku bantu, Rin? Nyoba ngomong sama Pak Reno gitu?” ucap Marvin.


“Gak usah, Vin. Aku gak apa-apa, kok. Mungkin memang Pak Reno sedang ada masalah besar yang gak bisa ia jelaskan, aku bisa cari kerjaan lain nanti,” jawabku sembari tersenyum padanya. Berusaha menutupi kebingunganku.


Bagaimana tidak, aku baru saja masuk kerja, tapi sudah dipecat. Iya kalau langsung dapat kerjaan lagi, kalau tidak? Masa aku nyerah dan pulang kampung? Pasti ibu sama bapak ngeledek aku, secara aku yang dulu ngotot buat kerja di ibukota. Huft ... entahlah! Ternyata hidup di kota memang keras, apalagi jika jauh dengan keluarga, semua terasa sulit.

__ADS_1


“Beneran kamu gak apa-apa?” tanyanya lagi. Bisa kurasakan Marvin begitu care dengan apa yang sedang aku hadapi, ia terlihat sedih. Aku kembali tersenyum dan menganggukkan kepala pasti.


“Oke, kalau kamu butuh bantuan bilang aku aja, ya. Aku pasti bantu kok, jangan sungkan.”


“Sip!” jawabku sambil mengacungkan jempol tanda setuju.


Meski kami baru bekerja dua hari, bahkan belum sampai penuh dua hari. Namun, kami sudah cukup respek. Saling support dan berbagi pengalaman, baik tentang pekerjaan maupun kehidupan.


Kini, dengan kondisiku yang tiba-tiba harus berhenti bekerja di hotel ini, membuat kami merasa kehilangan. Marvin yang meski seorang pria, tapi ia begitu menyenangkan menjadi seorang teman dan partner kerja. Sungguh aku masih beruntung, bisa bertemu dengannya.


“Marvin, terimaksih untuk semua. Senang bisa kenal dan kerja bareng sama kamu,” ungkapku tulus.


“Sama-sama, Rin. Udahlah jangan kaya gitu, kita masih bisa ketemu lagi, kan? Tinggal telepon atau chat aja pasti aku nyamperin,” jawabnya sambil terkekeh.


“Bener, ya? Awas aja kalo nanti udah ada temen baru lupa sama aku!” ancamku seraya mencubit lengannya keras. Membuat pria berhidung mancung itu terlihat meringis kesakitan.


Sebentar lagi waktunya istirahat, pengunjung juga tidak seramai sebelumnya. Kami punya waktu sedikit untuk bercanda di sela-sela perpisahan kami, meski kebersamaan yang sangat singkat. Namun, cukup berarti bagi kami.


“Ya udah, Vin. Aku pulang dulu, ya?” pamitku.


“Oke, hati-hati. Kalo butuh bantuan hubungin aku aja,” jawabnya. Sebelum akhirnya aku pergi meninggalkannya.


***


Aku melangkah gontai, kaki ini terasa tak bertulang. Entah ke mana aku akan melangkah, rasanya seperti tak memiliki arah dan tujuan.

__ADS_1


Aku sudah masuk gang menuju rumah kontrakan, tapi lama-kelamaan kurasakan sesuatu yang aneh dari belakang. Aku merasa ada yang mengikuti. Namun, saat kutengok tidak ada siapapun di sana.


Kuedarkan pandangan ke seluruh tempat, sejauh mata memandang. Tidak ada yang aneh menurutku, mungkin perasaanku saja.


Aku kembali melangkah, hingga akhirnya sampai di depan rumah. Kulihat Bu Asri tengah menyapu.


“Assalamu’alaikum,” sapaku.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Bu Asri. Seketika ia berhenti melakukan aktivitasnya melihat keberadaanku.


“Loh, Neng? Kok sudah pulang?”


“Iya, Bu,” jawabku tak bersemangat tanpa menatapnya. Aku langsung masuk.


Bau aroma masakan begitu memenuhi seisi ruangan, sangat harum. Seketika cacing-cacing dalam perutku berdemo meminta jatahnya.


Aku segera menuju meja makan, berbagai jenis hidangan tersedia di atas meja saat kubuka tudung saji. Tumis kangkung, ikan goreng dan sambal begitu menggugah selera. Dari mana Bu Asri membeli bahan makanan sebanyak ini? Aku bahkan belum memberikan uang.


“Ayo, Neng, cicipi masakan ibu,” celetuk Bu Asri yang tiba-tiba sudah berada di sampingku.


“Ini semua ibu yang masak?”


“Iya, Neng. Sok mangga dimakan.”


“Ibu beli sendiri? Aku, kan, belum ngasih uang, Bu? Kirain ibu Cuma mau bantuin saya beres-beres rumah sama cuci gosok aja, kok masak segala?” tanyaku merasa tak enak. Aku jadi teringat dengan pekerjaanku yang tiba-tiba dipecat.

__ADS_1


Bagaimana aku menjelaskan pada wanita tua itu? Aku tak mungkin lagi menggunakan jasanya, karena aku sudah tidak memiliki penghasilan.


Bersambung...


__ADS_2