
Ia melempar senyum, aku pun tak segan membalas senyumnya. “Iya, Mas. Saya karyawan baru,” jawabku seramah mungkin sambil terus melangkah menuju gedung tempat aku akan bekerja, laki-laki tampan itu juga mensejajarkan langkahnya bersama denganku.
“Di bagian apa?”
“Resepsionis, Mas.”
“Oh, kamu yang bakal gantiin si Resti? Kita bareng berarti. Oh ya, panggil aku Marvin aja kali, aku juga belum tua-tua banget,” ucapnya sambil terkekeh.
“Oke, Marvin. Kenalin, namaku Arini.” Aku memperkenalkan diri pada laki-laki bernama Marvin itu, karena kita sama-sama di bagian resepsionis mau nggak mau harus saling kenal.
“Namanya cantik, kaya orangnya. Hehe ....” Kami tertawa kecil, dia terus bercanda seperti sudah lama akrab denganku. Akupun tak canggung membalas leluconnya, Marvin pria yang humoris dan mudah bergaul, aku sangat respek padanya.
Hari pertama aku bekerja cukup menyenangkan, di samping Marvin menjadi mood boosterku. Aku tak terlalu susah untuk beradaptasi di tempat baru, karena sebelumnya aku sudah cukup berpengalaman.
Pukul 16:00, tak terasa waktu kerjaku sudah selesai, aku berkemas dan bersiap untuk pulang.
“Tinggal di mana?” tanya Marvin, ia masih fokus dengan laptop di hadapannya.
__ADS_1
“Aku ngontrak dekat sini, di gang Anggur,” jawabku.
“Gang Anggur?” Aktivitasnya terhenti, kali ini giliran menatapku heran, “maksudnya gang yang masuk gapura sebelah gedung ini?” imbuhnya, seketika aku mengangguk pasti.
“Memangnya ada kontrakan di situ? Aku juga rumahnya deket situ, beda gang aja sih.”
“Ada, di rumah Bu Maryam.”
“Serius? Bukanya—“
“Marvin!” Seru seorang wanita yang tiba-tiba datang dan memanggil Marvin, wanita cantik dengan rambut di gelung, ia mengenakan blazer warna hitam. Seketika kami menoleh ke arahnya.
***
Saat jarakku tinggal beberapa meter ke rumah, dari kejauhan kulihat seorang wanita tua tengah berdiri di depan pagar, sesekali mondar-mandir seperti orang kebingungan, kupercepat langkahku menuju wanita itu.
“Permisi,” sapaku padanya, seketika ia terkaget, “ada apa, Bu?”
__ADS_1
“Eh, enggak apa-apa, Neng. Neng yang tinggal di sini?”
“Iya, Bu. Saya tinggal di sini,” jawabku sambil tersenyum.
“Kalo boleh, saya mau nawarin diri buat bantuin Eneng di rumah, bersih-bersih, nyuci, masak dan semuanya saya bisa, Neng,” jelasnya. Bagaimana mungkin aku mempekerjakan orang, sedang aku tak punya persiapan untuk membayarnya. Sebenernya aku juga mau sih, buat teman ngobrol juga, daripada sendirian.
“Gimana, Neng?” ucapnya lagi.
“Duh, gimana, ya, Bu ... saya baru kerja, jadi belum punya uang banyak buat bayar ibu,” jawabku hati-hati, aku tak mau terkesan langsung menolaknya.
“Oh, nggak apa-apa, Neng. Gampang itu mah,” jawab wanita bertubuh pendek dan bulet itu dengan santai.
“Beneran, Bu?” tanyaku tak percaya, wanita yang kutaksir usianya sudah lima puluh tahun itu hanya mengangguk pasti. Seketika kami sepakat, akan tetapi ia akan mulai bekerja esok hari.
Setelah kami sepakat, wanita bernama Asri itu pamit pulang. Aku pun segera masuk, anehnya pintu rumah terbuka. Siapa yang masuk? Bukanya pintu sudah kukunci?
Aku segera masuk, pintu memang sudah dalam keadaan terbuka. Entah kenapa hatiku berdegup sangat kencang, aku teringat mimpiku semalam.
__ADS_1
Bagaimana jika laki-laki itu beneran ada di dalam? Astaghfirullahal’adzim, gimana ini?
Bersambung...