Misteri Rumah Angker

Misteri Rumah Angker
Bagian 18


__ADS_3

Laki-laki berjubah hitam berdiri di tengah pintu, kali ini ia kembali memakai topeng.


Aku sempat tertegun, merasa aneh dengannya. Apa dia baik-baik saja setelah tadi sore kepalanya bocor oleh Marvin? Jika memang baik-baik saja, mengapa tidak ada bekas apapun di sana? Setidaknya ada perban menempel di keningnya bukan?


Laki-laki itu mendekat sambil memainkan kapak di tangannya, aku yang merasa takut berusaha bangkit dan lari darinya. Namun, dengan sigap ia menarik lenganku dengan kasar dan berhasil mengunciku dalam tubuhnya. Tangan laki-laki itu melingkar di leherku sangat kuat, aku tak bisa berbuat apapun.


Kedua tanganku juga berhasil ia bekam dari belakang. “Sudah kukatakan, kau tidak akan bisa lolos dariku mengerti!?” gertaknya terdengar mengerikan. Telingaku bisa mendengar jelas suara napas laki-laki itu begitu memburu, sepertinya ia benar-benar sangat bernafsu membunuhku.


Aku tak menjawab ucapanya, berusaha memberontak, tapi percuma, tenaga laki-laki itu jauh labih kuat. Lalu dengan cepat aku menggigit tangannya kuat-kuat yang melingkari leherku. Seketika ia mengerang kesakitan dan mengendurkan tangannya.


Tanpa membuang waktu, aku menginjak kakinya dengan sekuat tenaga sebelum akhirnya berlari masuk ke kamar dan segera mengunci pintunya. Kali ini aku benar-benar takut. Otakku tak bisa berpikir, aku mondar-mandir kebingungan. Sial! Kenapa aku masuk ke kamar? Tentu saja dia akan menemukanku dengan mudah di sini.


Aku menggigit jari, berusaha berpikir bagaimana menemukan cara agar bisa keluar. Tiba-tiba aku teringat ponselku, di mana ponselku? Aku mencari-cari di semua sudut kamar, tapi tidak ketemu. Pasti ponselku di ruang tamu tadi, sial sial sial! Aku menjambak rambut merasa bodoh dengan semua ini.

__ADS_1


Duar! Duar! Duar!


Suara pintu di gedor membuatku tersentak kaget, bagaimana ini? Aku berusaha menahan pintu, sepertinya sebentar lagi pintu ini akan jebol. Sia-sia saja pertahananku.


Kemudian dengan cepat aku masuk ke kolong tempat tidur yang cukup sempit, meski begitu aku mampu masuk dan bersembunyi. Semoga saja ia tak bisa menemukan aku, ya Allah tolong hamba ya Allah ... batinku menjerit.


Tak lama pintu itu berhasil dijebolnya, aku menutup mulut dengan kedua tangan agar tak menimbulkan suara. Bisa kulihat langkah kakinya masuk, pasti ia sedang mencariku.


Terdengar suara pintu lemari di buka, ia berjalan ke arah kanan. Kakinya kini begitu dekat dengan posisiku, tidak ... tidak, semoga dia tidak menemukanku di sini! Ia terdiam, aku masih memperhatikan gerak-geriknya.


Namun, aku terlonjak saat sebuah benda mengkilap menancap tepat di depan wajahku menembus tempat tidur. Aku menelan ludah yang terasa kering, nafasku tercekat, keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuh.


Kemudian tangannya dengan cepat meraih rambutku, lalu ia tarik dengan kuat. Membuatku menjerit kesakitan.

__ADS_1


“Lepaskan! Aw ... ya Allah, sakit!” pekikku. Namun, ia terus menarikku tanpa ampun hingga berhasil keluar dari kolong.


Rambutku belum ia lepaskan, justru semakin beringas ia tarik hingga kepalaku mendongak ke arah wajahnya yang tertutup topeng.


“Apa sekarang kau merasa takut!? Ha ha ha ...,” ucapnya merasa puas.


“To-tolong lepaskan aku! A-aku janji akan keluar dari rumah ini,” jawabku tergagap. Air mataku berlinang, entah kenapa aku merasa takut dan ingin menyerah kali ini, tidak ada cara lain selain menyerah.


Namun, aku merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhku. Tubuh ini seperti ada yang mengendalikan, dengan kuat aku meninju laki-laki di hadapanku. Seketika laki-laki itu terjengkang.


Aku bangkit dan meraih kapak yang tergeletak di lantai, lalu mendekati laki-laki itu. Ia terlihat ketakutan, tangannya direntangkan ke depan menunjukkan padaku untuk tidak mendekat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2