Misteri Rumah Angker

Misteri Rumah Angker
Bagian 15


__ADS_3

Saat keluar kulihat Bu Asri tengah merogoh tas-nya. Aku mendekat dan menyodorkan kain batik padanya.


“Pantes saya cari gak ada, ternyata ketinggalan. Makasih, Neng,” ucap Bu Asri seraya mengambil kain yang kupegang.


“Ini punya ibu?”


“Iya, Neng. Kenapa?”


“Gak apa-apa, Bu.”


“Ya sudah, saya pulang dulu, ya, Neng?” ucapnya. Lalu pergi meninggalkan sejuta pertanyaan di benakku, mungkinkah Bu Asri adalah wanita yang ada dalam mimpiku?


Wanita yang berbicara dengan seorang laki-laki yang tak bisa kukenali, jika benar wanita itu Bu Asri, mengapa di mimpiku ada Sisi? Mungkinkah Bu Asri ada hubungannya dengan Sisi? Ya, bukankah Bu Asri pernah bilang jika Sisi adalah anak majikannya?


Otakku terus berputar, begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam kepalaku.


Aku masih memperhatikan tubuh renta Bu Asri berjalan ke arah kanan dari rumah ini, kemudian aku teringat sesuatu. Bukankah rumah Bu Asri harusnya ke kiri? Entahlah, mungkin saja Bu Asri ada perlu lain. Pikirku.


“Ayo, Tante. Ikuti dia ....” Tiba-tiba suara Sisi mengejutkanku, bocah itu menarik tanganku sekuat tenaga hingga aku pun mengikuti gerakannya.

__ADS_1


“Mau ke mana, Si? Pelan-pelan, dong. Jangan tarik-tarik gitu, nanti kita jatoh, gimana?” ucapku sambil mengikuti langkahnya.


Bocah itu tak menggubris, ia terus menarik tanganku hingga sampai ke sebuah rumah yang cukup mewah di antara rumah lainnya.


Kulihat Bu Asri masuk ke rumah itu. “Rumah siapa kira-kira? Tunggu, A12?” ucapku lirih. Aku menutup mulutku rapat-rapat, betapa aku tidak terkejut melihat nomor rumah itu. Angkanya sama persis dengan isi kertas yang diberikan Sisi padaku tadi siang, benar-benar ajaib.


Perlahan aku melangkah menuju rumah bercat biru muda itu setelah memastikan keadaan aman, tidak ada siapapun melihatku mengendap-endap di rumah orang. Bisa-bisa dikira maling.


Sisi sudah tidak ada, bocah itu benar-benar hantu. Dia hanya datang memberi pesan, dan pergi tanpa pamit. Meski aku tak takut padanya, tetap saja jantungku mau copot saat dia tiba-tiba muncul.


Kini, aku berada di depan rumah. Pagar sedikit terbuka, membuatku dengan mudahnya masuk. Aku mencoba menguping suara dari dalam, tapi tidak ada yang bisa kudengar.


Saat aku tersadar, aku telah berada di dalam ruangan gelap. Ruangan ini seperti di dalam mimpiku, ya, aku sangat yakin!


Aku bangun dan mendekat ke arah pintu, bisa kudengar percakapan yang sama di dalam mimpi.


“Pokoknya kamu harus tutup mulut, diam dan gak usah ikut campur. Atau kamu juga akan kuhabisi!” ancam seorang laki-laki.


“Ba-baik, Pak. Sa-saya ti-dak akan membocorkan rahasia ini,” jawab seorang wanita.

__ADS_1


“Ingat, ya! Bereskan semua barang bukti di sana, bila perlu bakar semua!” bentak laki-laki itu pada wanita di hadapannya.


“I-iya, Pak ...,” jawab wanita itu terdengar gemetar. Lalu pergi dari hadapan laki-laki itu.


Ya, semua kejadian ini seperti vidio yang diputar ulang, aku tak akan membuang waktu. Satu-satunya tujuanku adalah lemari besar kemudian membukanya, masih sama persis. Kulihat Sisi benar ada di dalam lemari begitu mengkhawatirkan kondisinya, bau busuk menguar di indera penciuman.


“Sedang apa kamu!?” Suara bariton mengejutkanku. Ternyata seorang laki-laki bertubuh tinggi besar berdiri di hadapanku, ia mengenakan jubah berwarna hitam dengan topeng di wajahnya. Tentu saja aku tak bisa mengenalinya, mungkinkah dia laki-laki misterius itu? Tapi kenapa harus menutup wajahnya? Bukankah aku sudah mengenali wajahnya?


“Siapa kau? Mengapa anak ini bisa ada di dalam lemari? Apa kau tak merasa kasihan?” tanyaku dengan penuh penekanan.


“Bukan urusanmu! Justru aku kasihan padamu! Karena sikapmu yang terlalu berani, mengantarkanmu pada ajalmu sendiri!” ungkapnya begitu congkak.


“Tidak ada yang bisa menentukan ajal seorang hamba, kecuali Allah!” jawabku tanpa ragu dan tanpa takut sedikitpun. Kini, pikiranku berusaha waras. Bersiap menghadapi sesuatu yang tak diduga, jalan satu-satunya adalah, aku harus keluar dari rumah ini dan mencari bantuan.


“Jangan banyak bicara, hidupmu ada di—aaaaarrrgh!” teriak laki-laki bertopeng itu saat aku menendang alat vitalnya tanpa ampun. Ia begitu kesakitan, rasakan! Setajam-tajamnya senjata yang kau miliki, tak akan ada gunanya saat benda berhargamu mendapat serangan yang tak terelakkan.


Seketika aku lari, meninggalkan tubuh Sisi yang sangat menyedihkan. Maaf, Si. Tante harus pergi dulu mencari bantuan, setelah itu, Tante akan membantumu. Batinku.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2